Diri yang kasar ini disebut katsif. ia tercipta dari sari pati tanah bernama mani. Disebut sperma dalam bahasa kuno Yunani. Diri yang sebenarnya hina tetapi selalu ingin dipandang hebat gagah berani. Diri yang suram bila cahayanya buram. Apalagi sampai padam. Diri yang akan tersesat bila nafsunya bejat dan jahat.
Bermula dari Adam dicipta dari tanah. Di mana saja kaki berpijak, tanah di bumi selalu dIinjak. Dari hidup menuju mati. Di padang mahsyar akan bangkit kembali. Yang paling penting dari diri ini, adalah iman di hati yang dibawa sampai mati. Tashdiq taslim tidak pernah bergeser walau setitik apalagi seinci. Inilah kunci hidup yang hakiki.
Dipilih sebagai khalifah pemakmur bumi. Iblis protes tak tahu diri. Nar, api membakar begitu congkak membangkang. Sombong membesar. Siapakah dia kalau bukan hasutan syaithani? Nur, malaikat sungkem sujud penuh bakti. Cahaya-Nya hidup tiada pernah mati. Malaikat yang tunduk membungkuk itu, siapakah yang dipandang kalau bukan Nur Nabi?
Tinggal di surga turun ke bumi. Beban dipikul berat di punggung, mandat amanah harus ditanggung. Dari bumi kembali ke bumi. Dari surga kembali ke surga. Wujudnya ardhi hakikatnya samawi. Hiduplah membumi kembalilah ke pangkuan surgawi! Berakhlak membumi. Perilaku bernilai samawi. Dialah manusia surgawi.
Jasmani Berjiwa Tabiat
Tubuh jasmani berjiwa tabiat. Maunya santai, makan, minum, tidur, dan seksual yang nikmat. Jahat ia mengumpat bahkan bisa sesat berbuat bejat. Lelah hayati letih ruhani. Sakit berobat sehat wal afiat. Jasad tetaplah jasad, akan mati menjadi mayat. Lebih baik mencari kekurangan diri daripada bersikap tinggi, sok suci. Diri yang selalu bermaksiat sering tertipu oleh nikmat sesaat. Bagaimana mungkin dia menjadi suci?
Dunia ini sebentar sementara. Isinya tipu-tipu dan senda gurau saja. Tinggal tunggu waktu hancurnya. Akhirat kekal selama-lamanya tempat manusia yang sebenar-benarnya. Adam as. dulu di surga pergi merantau singgah ke dunia. Meski nun jauh perjalanannya tetaplah ia balik ke kampung halamannya. Siapapun yang kembali kepada-Nya dengan sepenuh hati, mesti akan abadi di surga-Nya nanti.
Surga jauh panggang dari api. Neraka siapa mau menempati. Meski sudah maklum diketahui, tetap saja ada yang bersikap durhaka seolah ingin melahap api. Tidak mau mawas diri bahkan tak tahu diri. Betapa panasnya bara api, tetap saja ada yang ingin menyebur berenang di kolam api. Duhai diri, engkau yang turunan Nabi Saw, bagaimana mungkin berbalik arah menjauh dari Nabi Saw?
Dari balita tumbuh besar menjadi remaja. Setiap yang muda akan menua. Bermaksiat berlumur dosa. Keliru dan salah berujung nestapa. Dari lemah menjadi kuat bertenaga. Ujungnya mati dan tiada. Itulah kita. Manusia yang tidak kuasa melawan tua dan lupa. Tiada guna diri ini, bila lalai semakin abai saat ingat merasa bangga. Apalagi merasa tinggi dan besar kepala. Diri yang kotor ini, dilumuri dosa maksiat. Akui saja kalau ia pendosa yang bejat.
Jalan Kembali
Terus bertaubat jangan berhenti mendekat, maka ampunan akan didapat. Allah yang Ghaffar dan Ghafur. Allah yang Rahman dan Rahim. Sebesar bukit dan gunung. Setinggi-tinggi langit menjulang. Sebesar apa pun dosa dan setinggi apa pun kesalahan, ampunan-Nya begitu luas rahmat-Nya tidak terbatas. Tidak berkurang walau setetes. Teruslah datang kepadaNya dengan taubat, Allah sangat pemurah memberi rahmat, dan Rasul pun tidak pernah menutup pintu syafaat.
Puja puji hanya bagi Allah semata. Tiada pantas bagi selain-Nya. Sang Rasul adalah pancaran, dari pantulan keterpujian-Nya. Tiadalah manusia yang sempurna. Hanyalah Nabi yang paripurna. Hidup ini akan dibawa ke mana kalau bukan menuju hadirat Tuhan-Nya. Tentu melalui Nabi yang menjadi petunjuk, jalan dan wasilah-Nya.
Sembah taat ibadah menghamba tunduk pada ajaran-Nya. Mendekat pada Rasul-Nya akan semakin dekat dengan-Nya. Patuh perintah tidak melanggar. Tegak syariat sunnah Nabi mengantar. Itulah kasab jasmani yang begitu bermakna bagi ruhani. Bersyariatlah dengan baik. Bertarekatlah dengan benar. Rabithah dengan guru mursyid terikat kuat, hubungan dengan-Nya akan semakin erat. Titilah perjalanan itu dengan penuh khidmat dan nikmat. Kembali kepada-Nya sejak di dunia hingga akhirat.
Back to Basic
Back to basic. Kembali pada dasar, sumber, asal dan pangkal. Surga, neraka, dan semua yang dicipta, berasal dari Nur Allah, Nur Muhammad Saw. Diri yang zahir ini, tubuh yang kasar ini, juga bersumber dari nur Nabi Muhammad Saw. Namun manusia lebih spesial dan istimewa meski tampak biasa saja. Manusia, zahir fisiknya nurani di dalam dirinya. Tubuhnya jasmani berhakikat ruhani.
Seburuk apapun dia (manusia), terdapat nur cahaya di dalam dirinya. Sejelek apapun dirinya, tubuhnya berdarah Adami, ruhnya bersumber dari al-ruh al-akbar (الروح الأكبر), Sayyiduna Muhammad al-Abu al-Akbar (الأب الأكبر). Selama masih di bumi hayat di kandung diri, sebejat dan sejahat apapun diri, masih punya kesempatan untuk kembali. Selalu ada harapan untuk kemperbaiki diri, menjadi nurani, hingga kembali pada hakikat ruhani.
Tubuh jasmani berhakikat ruhani. Diri yang zahir ini akan mati. Diri yang ruhani akan kekal abadi. Diri yang jasadi akan dikembalikan ke bumi. Diri yang ruhani akan kembali berpulang kepada-Nya, Allah Yang Maha Suci. Jalan, pintu dan kuncinya, semua ada pada Nabi Saw. Anda yang ingin kembali, tahukah jalan kembali? Anda yang ingin pulang, tahukah jalan pulang?
إنا لله وإليه راجعون
Sabtu, 27 September 2025
Ribath Nour al-Quddus as-Salam


