Sebelum menjawab pertanyaan “Apakah Rasulullah ﷺ Bertasawuf?” , ada baiknya kita mengenal istilah “tasawuf” terlebih dahulu. Karena tidak mungkin menetapkan Rasulullah ﷺ itu bertasawuf atau tidak tanpa mengetahui hakikat makna dari kata tersebut. Di samping itu, banyak oknum pembenci tasawuf yang berdalih dengan ungkapan Imam Al-Syafi’i yang termaktub dalam Kitab Manaqib al-Syafi’i karya Imam Al-Baihaqi:
َلَوْ أَنَّ رَجُلًا تَصَوَّفَ مِنْ أَوَلِ النَهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُهْرَ إِلَا وَجَدْتَهُ أَحْمَق.
Seandainya seseorang bertasawuf di pagi hari, maka di waktu zuhur engkau akan mendapatinya dalam kondisi yang bodoh (tidak waras lagi).
ِلَا يَكُوْنُ الصُوْفِيْ صُوْفِيًا حَتَى يَكُوْنُ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كُسُوْلٌ أَكُوْلٌ شُؤُوْمٌ كَثِيْرُ الْفُضُوْل.
Tidaklah seseorang itu menjadi sufi hingga berkumpul di dalam dirinya empat macam keburukan, yaitu pemalas, banyak makan, sering sial/berbuat celaka dan sering melakukan hal-hal yang tidak berguna.
Begitu juga Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam karyanya, Hilyah al-Auliya meriwayatkan perkataan Imam Al-Syafi’i yang lain:
ُأَسَاسُ التَصَوُفِ الْكَسْل
Dasar utama dari tasawuf itu adalah kemalasan.
Terlepas dari shahih atau tidaknya penisbatan ungkapan tersebut kepada Imam Al-Syafi’i, tetapi ada satu hal yang pasti. Para ulama menyebutkan sebuah kalam dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib ra.-:
“Manusia itu akan memusuhi apapun yang belum mereka ketahui”.
Oleh sebab itu, mudah-mudahan tulisan sederhana ini bisa menjadi obat bagi mereka yang belum tahu. Memberi argumentasi penguat bagi mereka yang tashdiq (percaya), tetapi belum mengetahui dalil-dalil bertasawuf. Meskipun pada dasarnya sebuah kebenaran tidak membutuhkan dalil penguat apapun untuk menguatkannya, karena sejatinya ia sudah benar & kuat pada dirinya.
Definisi Tasawuf dalam Dimensi Bahasa
Dari sudut pandang kebahasaan, istilah tasawuf mempunyai banyak derivasi sesuai dengan pendapat ulama yang menelitinya. Pertama, ada yang menyebutkan bahwa ia berasal dari kata الصُّوْفَةُ yang bermakna wol. Artinya, seorang sufi di hadapan Allah SWT laksana benang wol yang terbang sesuai dengan arah angin yang membawanya. Ia hanya pasrah sepenuhnya kepada ketentuan Allah SWT.
Kedua, ada juga yang menisbatkannya kepada الصَّفَاءُ yang bermakna kejernihan. Dalam artian seorang sufi adalah orang yang jernih dan bersih qalbunya dari selain Allah SWT. Ketiga, ada yang menisbatkannya kepada أَهْلُ الصُّفَّةِ (Ahlu Shuffah), yaitu sekelompok sahabat Nabi ﷺ yang tinggal di pelataran Masjid Nabawi. Mereka tidak mempunyai pekerjaan dan keluarga, sehingga kondisi itu mendorong mereka untuk fokus hanya kepada Allah SWT dan Rasulullah ﷺ semata, seperti sahabat Abu Hurairah ra., Abu Dzar Al-Ghifari ra. dan lain-lain.
Definisi Tasawuf Sebagai Disiplin Ilmu
Sementara itu, secara terminologi keilmuan, Imam Ahmad Al-Zarruq (w. 899H), salah seorang sufi terkemuka dalam salah satu karyanya yang berjudul Qawaid Al-Tasawwuf. “Ilmu Tasawuf itu adalah sebuah ilmu yang ditujukan untuk memperbaiki qalbu (hati) dan mengosongkannya dari segala sesuatu selain Allah SWT.”
Perihal Ilmu Tasawuf sama persis seperti Ilmu Fikih yang berfungsi untuk memperbaiki amal zahir seorang muslim. Demikian pula dengan Ilmu Akidah yang berguna untuk memperbaiki akal dan cara berpikir tentang Tuhan. Sebagaimana halnya dengan Ilmu Kedokteran yang bermanfaat untuk mengobati fisik dan kesehatan jasmani, dan Ilmu Nahwu & Sharaf yang bertugas untuk memperbaiki gramatikal bahasa Arab seseorang.
Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam Abu Al-Hasan Al-Syadzili, Syaikhul Islam Syekh Zakaria Al-Anshari, Imam Ibnu ‘Ajibah dan tokoh-tokoh sufi lainnya juga mengungkapkan pengertian serupa. Syekh Abdul Qadir ‘Isa kemudian mengumpulkan ungkapan-ungkapan mereka dalam karyanya Haqaiq ‘An Al-Tasawwuf di mana inti dari ajaran tasawuf itu adalah kembali kepada upaya untuk menyucikan qalbu dari kecenderungan kepada materi dan mengisinya dengan sifat-sifat rabbani (ketuhanan) dengan menjadikan Al-Qur’an dan Hadis Nabi ﷺ sebagai landasan utamanya.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang mengaku sebagai pengamal tasawuf, namun amal lahir dan batinnya tidak dilandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW, maka ia bukanlah seorang sufi atau pengamal tasawuf yang sebenarnya.
Apakah Imam Al-Syafi’i Membenci Tasawuf dan Sufi?
Lantas bagaimana dengan ungkapan Imam al-Syafi’i di atas? Benarkah beliau mencela kaum sufi? Jawabannya adalah tidak benar. Ungkapan-ungkapan yang kita sebutkan di atas hanyalah kritikan beliau terhadap sebagian oknum bernama mutashawwif (orang-orang yang baru memasuki dunia tasawuf, namun keliru dalam memahami dan mengamalkannya).
Jika kita menelusuri kalam Imam Al-Syafii lebih luas, kutipan Imam Al-Syafi’i terkait sufi tidak semuanya bernada negatif. Di banyak kesempatan, beliau justru memuji kaum sufi dan mengambil banyak pelajaran dari kalam-kalam mereka.
Salah satu di antaranya adalah perkataan beliau -sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Suyuthi dalam karyanya yang berjudul Ta’yid al-Haqiqah al-‘Aliyyah wa Tasyyid al-Thariqah al-Syadziliyyah- sebagai berikut :
صحبت الصوفية فاستفدت منهم ثلاث كلمات : قولهم الوقت سيف إذا لم تقطعه قطعك، وقولهم نفسك إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل، وقولهم العدم عصمة.
Aku berteman dengan para sufi dan mendapatkan tiga pelajaran penting dari mereka, yaitu perkataan mereka yang menyebutkan bahwa waktu itu adalah laksana pedang, di mana apabila engkau tidak menebaskannya kepada yang lain maka ia sendiri yang akan menebasmu. Begitu juga dengan ajaran mereka yang mengatakan bahwa dirimu jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran, maka ia akan disibukkan dengan kebatilan. Dan perkataan mereka bahwa ketidakadaan itu merupakan penjagaan Allah SWT (maksudnya kondisi seseorang yang tidak mempunyai sesuatu dari dunia adalah salah satu bentuk penjagaan Alllah SWT terhadapnya).
Imam Al-‘Ijluni juga menyebutkan kalam Imam Al-Syafi’i dalam karyanya Kasyf al-Khafa wa Muzil al-Ilbas ‘amma Isytahara min al-Ahadits ‘ala Alsinah al-Naas:
حبب إلى من دنياكم ثلاث : ترك التكلف وعشرة الخلق بالتلطف والاقتداء بطريق أهل التصوف.
Ada tiga hal yang membuat aku menyukai dunia kalian ini, yaitu tidak suka berpura-pura dalam berbuat kebaikan, bersikap lembut kepada sesama makhluk dan mengikuti jalan hidupnya para ahli tasawuf.
Bertasawuf dalam Pandangan Imam Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah
Kemudian harus diakui pula bahwa Imam Ibn Taimiyyah dan murid beliau Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah yang selama ini disebut-sebut sebagai ulama penentang tasawuf, ternyata adalah pengamal ajaran tasawuf itu sendiri.
Imam Ibnu Taimiyah adalah pengamal Tarekat Qadiriyyah yang bernisbat kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di akhir hayat beliau. Hal itu bisa dibuktikan di banyak tempat dalam karya beliau, Majmu’ Fatawa, di mana beliau sangat mengagungkan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dan memanggilnya dengan sebutan “Syaikhuna”. Kemudian beliau juga sering mengenakan mantel kewalian ala Tarekat Qadiriyah, serta pujian beliau terhadap salah satu karya Syekh Abdul Qadir yang berjudul Futuh Al-Ghaib dan lain-lain.
Fakta itu, menurut banyak peneliti kontemporer seperti George Maqdisi, Fazlurrahman, Muhammad Mustafa Hilmi, dan lain-lain menjadi bukti kuat kalau Imam Ibn Taimiyah adalah seorang seorang sufi dan pecinta sufi.
Demikian pula dengan muridnya Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah yang selama kurang lebih 16 tahun berguru kepadanya. Sang Murid bahkan mempunyai banyak karya yang membahas tentang ajaran sufi dan tasawuf seperti misalnya Madarij al-Salikin, Miftah Dar al-Sa’adah, Zad al-Ma’ad, Raudhah al-Muhibbin, Jala’u al-Afham, al-Ruuh, Hadi Al-Arwah, dan lain-lain.
Dalil Bertasawuf dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi ﷺ
Dengan demikian, tasawuf sejatinya adalah pengejawantahan dari Q.S. Al-Ahzab ayat ke-41 s/d 42 yang memerintahkan umat Islam untuk selalu mengingat Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42).
Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang banyak serta bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan sore hari!
Selain itu, tasawuf pada hakikatnya juga merupakan perwujudan dari Hadis Nabi Muhammad ﷺ terkait dengan istilah ihsan. Sebagaimana hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Sahabat Abu Hurairah ra., di mana Rasulullah ﷺ pernah mengatakan bahwa “Ihsan adalah bahwa engkau menyembah Allah SWT seakan-akan engkau melihat-Nya. Namun jika engkau belum bisa melihat-Nya, maka yakinilah bahwa sesungguhnya Allah SWT pasti dan selalu melihatmu!”
Kesimpulan: Rasulullah ﷺ Bertasawuf
Lantas kalau inti dari ajaran tasawuf itu diambil dari Al-Qur’an dan Hadis Nabi ﷺ seperti yang sudah dijelaskan di atas, masih perlukah pertanyaan “Apakah Rasulullah ﷺ Bertasawuf?” kita jawab? Masih percayakah kita kalau tasawuf itu adalah ilmu yang mengajak umat Islam kepada kesesatan? Sudah pasti jawabannya adalah kita tidak ragu lagi kalau Nabi Muhammad ﷺ pasti bertasawuf. Ilmu Tasawuf justru menjadi pelengkap dari Ilmu Akidah dan Fikih, ilmu yang membuat Ilmu Akidah tidak berhenti dalam bahasan akal semata dan Ilmu Fikih tidak kering dalam bahasan halal dan haram atau bahasan boleh dan tidak boleh semata. Allahu A’lam.


