14 Desember 2025 08:12

Kesederhanaan Ala Rasulullah Saw.

Cetak
Teladan kesederhanaan ala rasulullah Saw.

Sederhana ala Rasulullah ﷺ merupakan salah satu pelajaran berharga akan kepribadian beliau. Mempelajari pribadi Nabi Muhammad ﷺ tidak akan habis tertuang dalam seribu bahasa dan tinta. Perilakunya tidak akan mampu tergambarkan dalam seribu judul dan kisah. Namun, sebagian dari kepribadiannya tetap ditulis oleh tangan tangan brilian para ahli hadis. 

Ada yang menulis tentang Nabi ﷺ sebagai pengemban wahyu, sehingga melahirkan kitab-kitab Mushannaf, Musnad, Al-Jami, Sunan, dan Mu’jam sebagaimana yang Imam Ibn Abi Syaibah, Ahmad ibn Hanbal, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan lainnya lakukan.

Uniknya, ada yang menulis khusus tentang karakter fisik Nabi ﷺ, seperti al-Syama’il al-Nabawiyah karya Imam Al-Tirmidzi. Bahkan, ada juga dari mereka yang menulis tentang Nabi ﷺ dari sisi kesederhanaan, sehingga membuahkan kitab al-Zuhd dan al-Raqa’iq. Ini seperti yang Imam Ibn Al-Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Ibn Abu Al-Dunya, dan Al-Baihaqi lakukan. Begitu juga terdapat kitab al-Sirah Ibn Hisyam yang memuat kisah Nabi ﷺ, dari masa kelahiran Nabi ﷺ, sampai wafatnya. Semua kitab ini mengenalkan kita pada Rasulullah Saw. dengan penyebutan transmisi periwayatan yang lengkap.

Berbagai Kitab yang Memaparkan Kepribadian Nabi ﷺ

Sesuai perkembangan zaman, Al-Qadhi ‘Iyadh Al-Maliki (w. 544 H) menulis kitab al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa dengan lebih komprehensif dari beberapa sisi kepribadian Nabi ﷺ, tetapi tanpa menyebutkan sanad yang panjang tersebut. Selain menyebutkan kepribadian Nabi ﷺ yang mulia dan sederhana, ia juga mengulas tentang hak-hak Nabi ﷺ yang menjadi kewajiban orang beriman. Al-Qadhi ‘lyadh juga membicarakan Nabi ﷺ sebagai pesuruh Allah dan manusia biasa, dan hukum menghina Nabi ﷺ.

Karya yang tergolong berbeda pun lahir oleh Imam Al-Suyuti (w. 911 H.) dengan menulis al-Khasha’ish al-Kubra. la menukil hal-hal yang istimewa dari Nabi ﷺ, tetapi tidak pantas pada diri selainnya, seperti tabarruk (ambil keberkahan) oleh para sahabat dengan menggunakan rambut, air ludah, air seni, air keringat dan darah Nabi ﷺ.

Pada masa kontemporer, Abu Al-Hasan Al-Nadawi menyumbangkan karyanya al-Sirah al-Nabawiyah. Al-Mubarakfuri juga melakukan hal tersebut sehingga melahirkan karya al-Rahiq al-Makhtum. Dua tokoh tersebut memaparkan kepribadian Nabi ﷺ dengan pendekatan sejarah dan sosial yang rapi. Ini sedikit berbeda dengan Fiqh al-Sirah karya Al-Syahid Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi, yang mencoba menggali aspek filosofis yang tersirat dalam semua perjalanan sejarah kenabian.

Terlepas dari semua perbedaan metode dan sistematika yang muncul dari kitab-kitab tersebut, hampir semuanya menyentuh aspek kesederhanaan sang pesuruh Allah tersebut. Tidak sedikit yang mempunyai asumsi bahwa kesederhanaan Nabi ﷺ karena kemiskinan. Benarkah asumsi ini? Mari ikuti ulasan berikut ini.

Kesederhanaan vs Kemiskinan

Sebagai sosok yang mendedikasikan dirinya untuk Allah dan umat, Nabi Muhammad ﷺ selalu berperilaku seperti seorang hamba, bukan seperti raja atau hartawan. Ini terlihat dari beberapa laporan dari para sahabat.

Dalam hal ini, Imam Ibn Al-Mubarak mengisahkan dalam kitab al-Zuhd bahwa ketika Abu Hurairah ra. disuguhkan hidangan roti yang terbuat dari tepung gandum terbaik (khubz muraqaqq). Sajian ini bukannya membangkitkan selera sahabat Nabi ﷺ tersebut, tetapi malah air matanya berlinang sembari mengenang Nabi ﷺ Ia berkata: “Tidaklah pernah kekasihku Muhammad ﷺ memakan roti seperti ini”.

Imam Al-Bukhari juga menyebutkan kisah yang sama terjadi pada Anas ibn Malik ra., pelayan Nabi ﷺ. Tabi’in senior Qatadah menceritakan: “Kami berada bersama Anas ibn Malik ra. Di majlis kami terdapat banyak roti yang berkualitas bagus. Tetapi, Anas bin Malik ra. malah terkenang kesederhanaan Nabi ﷺ dengan berkata, “Nabi ﷺ tidak pernah memakan roti seperti ini sama sekali”.

Tidak jarang setelah membaca kisah ini, muncul asumsi bahwa Nabi ﷺ sangatlah miskin. Tetapi mungkin juga ada yang berpikir bahwa Nabi ﷺ adalah seorang yang sederhana. Sebenarnya kemiskinan dan kesederhanaan itu jauh berbeda, bahkan bertolak belakang.

Nabi ﷺ bukanlah orang yang miskin. Hal ini dapat terlihat dari pernikahan pertamanya dengan mahar puluhan onta. Apalagi setelah diangkat menjadi rasul, Nabi ﷺ mendapatkan bagian hak harta rampasan perang sejumlah khumus (seperlima dari total ghanimah). Ini adalah jumlah yang sangat besar. Seandainya Nabi ﷺ ingin hidup “sedikit” mewah, maka tidak akan mengurangi kekayaannya. Namun, Nabi ﷺ memilih hidup sederhana dan bersahaja.

Peran harta ghanimah pada konstruksi ekonomi masyarakat pada masa pra-modern termasuk zaman Nabi ﷺ adalah sesuatu yang sangat berarti dalam merubah nasib. Ini terlihat dari hadis Nabi ﷺ, “Berjihadlah, niscaya kalian mendapatkan harta rampasan perang”. Periwayat hadis ini berstatus kredibel (rijal al-tsiqat) menurut Imam Al-Haitsami. Apabila bagian perorangan dari peserta jihad dapat meningkatkan aset ekonomi mereka, maka bagian khumus Nabi ﷺ tentu jauh lebih memungkinkan beliau menjadi “super kaya” atau milyarder.

Beberapa Sifat Nabi ﷺ yang Terlihat Miskin dalam Kesederhanaannya

Tetapi, roman kekayaan Nabi ﷺ tidak pernah tertulis satu pun dalam kitab hadis maupun sirah. Namun sebaliknya, justru kesederhanaan yang terlihat di dalamnya. Apabila diperhatikan, maka ada beberapa sifat Nabi ﷺ yang menyebabkan dirinya terlihat miskin dalam kesederhanaannya.

Pertama, Nabi ﷺ bukanlah sosok pemimpin yang suka memperkaya diri. Bahkan, Nabi ﷺ tidak membiarkan satu barang berharga pun tertimbun di rumahnya. Jika ada, maka Nabi ﷺ langsung menyedekahkannya. Dalam hal ini, Uqbah ibn ‘Amir ra. menyebutkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ melaksanakan salat. Namun, ada yang ganjil dari perilaku Nabi ﷺ saat itu. Biasanya beliau duduk sejenak untuk membaca zikir-zikir atau memberikan bimbingan kepada para sahabat. Tetapi, saat itu Nabi ﷺ dengan wajah cemas langsung berdiri setelah mengucapkan salam sebagai tanda penutup salat. Lalu, beliau berjalan menembus saf-saf dengan berjalan di antara bahu para sahabat.

Beberapa saat setelah itu, Nabi ﷺ kembali ke mihrab di tengah kebingungan para sahabat sembari memberikan penjelasan. “Aku teringat sepotong emas di kamarku, maka aku tidak suka jika ada sesuatu yang menyita pikiranku. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar barang berharga tersebut disedekahkan” jelas Nabi ﷺ.

Kisah ini bersumber dari Imam Al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari. Kejadian ini menyiratkan pesan bahwa, Nabi ﷺ tidak pernah membiarkan satu barang berharga pun di rumahnya. Apabila seorang nabi yang terpelihara dari dosa terganggu oleh harta yang sedikit, bagaimanakah dengan umatnya saat ini yang setiap hari berusaha menumpuk harta. Tentu, hal tersebut membuat hati manusia yang tidak ma’shum lebih tersita memikirkan harta yang mereka kumpulkan. Wajar jika dalam beribadah pada masa ini khusyu menjadi sesuatu yang langka.

Nabi ﷺ Tak Pernah Menolak Siapa pun 

Kedua, Nabi ﷺ tidak pernah menolak siapa pun yang meminta sesuatu darinya. Imam al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari pada bagian kitab al-Libas meriwayatkan kisah seorang perempuan yang menenun sendiri suatu pakaian untuk Nabi ﷺ. Pada saat itu, beliau terlihat memang membutuhkan pakaian. Lalu, Nabi ﷺ memakainya salat. Setelah salat, tiba-tiba ada seseorang yang berkata kepadanya, “Wahai Rasul Allah, kenakanlah pakaian tersebut kepadaku”. Setelah itu, Nabi ﷺ kembali duduk di tempat duduknya sejenak, lalu memberikannya pakaian baru itu kepada sahabat yang meminta.

Pemandangan kurang wajar ini membuat para sahabat yang lain memarahi orang tersebut, “Pantaskah permintaanmu ini? Bukankah kamu tahu bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menolak orang yang meminta. Tetapi sahabat tersebut memberikan jawaban yang mengejutkan. “Aku meminta pakaian yang dikenakan Nabi ﷺ tersebut untuk menjadi kafanku kelak saat meninggal”. Kisah ini, di samping ‘menyebalkan’ juga mengharukan. Ternyata sahabat si peminta tersebut hanya ingin dikafani dengan pakaian yang pernah oleh Nabi ﷺ.

Terlepas dari muatan yang mengharukan tersebut, pernyataan kedermawanan Nabi Saw bukanlah berasal dari klaimnya sendiri, tetapi pengakuan dari para sahabat. Beliaulah orang yang la yarudd al-sa’il (tidak pernah menolak orang yang meminta) sebagaimana ungkapan para sahabat. Bahkan tanpa ada yang meminta pun, Nabi ﷺ sangat dermawan, apalagi pada bulan suci Ramadan. Kedermawanannya pun oleh Sayyidah Aisyah ra. sebutkan seperti angin lepas (al-rih al-mursalah).

Ketiga, Nabi ﷺ adalah sosok pemimpin yang suka menghormati tamu dengan memberikan mereka hadiah yang berharga. Imam Muslim menyebutkan bahwa suatu kali ‘Umar ibn Al-Khaththab pernah mengusulkan agar Nabi ﷺ memberikan hadiah kepada para tamu negara, baik muslim maupun masih musyrik. Lalu, Nabi ﷺ membeli sutera yang halus untuk dibagikan kepada setiap tamu yang datang. Namun, beliau sendiri tidak memakainya sama sekali.

Alasan Nabi ﷺ Tetap sebagai Orang Miskin

Keempat, Nabi ﷺ berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan dalam keadaan miskin. Ini sebagaimana ditemukan dalam riwayat Imam Al-Hakim dalam al-Mustadrak dengan kualitas yang disepakati kesahihannya oleh Imam Al-Dzahabi. Abu Sa’id Al-Khudri ra. meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ pernah berdoa, “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin. Wafatkanlah aku dalam keadaan miskin. Kumpulkanlah aku di Padang Mahsyar bersama orang miskin. Sesungguhnya orang yang paling sengsara adalah siapa yang miskin di dunia dan tersiksa di akhirat”.

Sebenarnya, alasan sederhana Nabi ﷺ bermohon agar dihidupkan dan diwafatkan sebagai orang miskin adalah doa yang ketiga dari hadis tersebut, yaitu berkumpul di padang Mahsyar dengan orang miskin. Orang miskin karena hartanya sedikit mengalami hisab yang lebih mudah sehingga terlebih dahulu masuk surga daripada orang kaya.

Ini sesuai dengan apa yang Imam Al-Thabrani riwayatkan dalam Mu’jam al-Awsath dengan riwayat yang bagus menurut Al-Haitsami. Ia menyebutkan bahwa Umar bin al-Khaththab mengirim surat kepada Mu’adz bin Jabal yang sedang menjabat sebagai gubernur di luar Madinah. Salah satu isi dari surat tersebut adalah sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya para nabi memasuki surga dua ribu tahun lebih dahulu sebelum Nabi Daud as. dan Nabi Sulaiman as., sedangkan orang miskin dari kalangan muslimin masuk surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya mereka”. 

Hadis ini menunjukkan bahwa ajaran kesederhanaan Nabi ﷺ diajarkan kembali oleh ‘Umar ibn al-Khaththab ra, kepada para pejabat di bawahnya. ’Umar ingin mengatakan bahwa jika Nabi Daud as. dan Sulaiman as. yang kaya dengan harta yang halal tertunda masuk surga karena kekayaan mereka, maka bagaimanakah nasib para koruptor yang kaya dengan harta yang haram?

Dengan demikian, kesederhanaan Nabi ﷺ bukanlah tanda kemiskinannya. Tetapi kesederhanaan tersebut adalah karena kesadaran tinggi yang berpandangan jauh ke masa depan yang hakiki, yaitu nasib di akhirat kelak. Sederhana ala Rasulullah ﷺ inilah yang jarang terlihat dari sosok para pemimpin maupun masyarakat biasa di masa ini. Meskipun tidak sanggup mengikuti kepribadian Nabi ﷺ secara utuh, kita masih dapat mengambil semangat kesederhanaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu A’lam.

Artikel in telah terbit di majalahnabawi.com

Share

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue