Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ pernah mengatakan, bahwa Allah mengasihi hamba-hamba-Nya lebih dari siapa pun. Suatu hari, Rasulullah ﷺ melihat salah seorang tawanan perempuan. Dia adalah seorang ibu susuan yang terbiasa menyusui bayi-bayi.
Setelah menjadi tawanan, sang ibu menyusui bayi yang membutuhkan ASI di antara para tawanan. Saat melihat perempuan itu, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Menurut kalian, apakah ibu itu akan tega melemparkan bayinya ke api?”
Para sahabat tanpa ragu menjawab, “Tidak mungkin ia tega melakukannya selama dia masih bisa menyelamatkan bayinya ya Rasulullah.”
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا
Sungguh, kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya (HR. Bukhari no. 5999).
Dalam sejarah hubungan antar manusia, tidak ada kasih sayang yang lebih besar dari kasih sayang ibu terhadap anaknya. Seorang ibu setidaknya sudah bertaruh nyawa saat melahirkan anak. Pengorbanan seperti itu tidak akan muncul kecuali atas dasar cinta.
Namun, kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya lebih besar dari cinta ibu kepada anaknya. Ketika Allah berfirman bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menghamba pada-Nya (QS. Az-Zariyat [51]:56), Dia telah mendeklarasikan akan mengasihi dan menyayangi seluruh jin dan manusia.
Memahami kasih sayang Allah
Wujud kasih sayang Allah tak hanya berupa nikmat. Kewajiban dan larangan juga bagian dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Bagaimana bisa kewajiban menjadi wujud cinta? Mari kita rujuk firman Allah berikut:
وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS. Al-Baqarah [2]: 25).
Jika kita cerna ayat di atas, ada dua hal yang membuat manusia dapat meraih surga Allah, yaitu iman dan amal saleh. Tanpanya, surga mungkin hanya akan berakhir di angan-angan.
Semua kewajiban yang Allah perintahkan kepada kita selalu berupa amal saleh. Dengan demikian, Allah sebenarnya mewajibkan kita amal yang akan mengantarkan kita ke surga-Nya, yang nikmatnya belum pernah kita rasakan, pun tak pernah terlintas dalam pikiran. Dan yang perlu diingat, surga adalah tempat janji jumpa hamba dengan Rabb-Nya (QS. Al-Qiyamah: 22-23).
Mengapa Allah mengemas sebagian amal saleh dalam bentuk kewajiban? Imam Ibnu ‘Athaillah dalam salah satu hikmahnya berkata:
عَلِمَ قِلَّةَ نُهُوْضِ الْعِبَادِ إِلَى مُعَامَلَتِهِ، فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُوْدَ طَاعَتِهِ، فَسَاقَهُمْ إِلَيْهِ بِسَلَاسِلِ الْإِيْجَابِ
Allah mengetahui kurangnya semangat hamba dalam beribadah. Oleh karena itu, Dia memaksa mereka untuk menunaikan sejumlah ketaatan dengan rantai belenggu kewajiban.
Syeikh Abdul Majid Asy-Syarnubi, salah satu pensyarah kitab Al-Hikam menjelaskan bahwa Allah sudah tahu kebanyakan manusia tidak beribadah kepada-Nya semata-mata karena ketaatan. Oleh karena itu, Allah memaksa mereka untuk taat dengan menetapkan amalan-amalan wajib, dan membuat hamba takut tidak mengerjakannya dengan azab-Nya.
Perbuatan Allah ini bisa dianalogikan dengan orang tua yang memaksa anaknya untuk makan saat ia tidak mau. Atau menyuruh mereka pulang sebelum Magrib, lalu menakut-nakuti mereka dengan setan yang berkeliaran di waktu Magrib. Anak mungkin awalnya menuruti perintah itu karena terpaksa, tapi ia akan menyadari setelah dewasa bahwa perintah orang tuanya semata-mata hanya untuk kebaikannya.
Dari kewajiban menuju kenikmatan
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجِبَ اللَّهُ مِنْ قَوْمٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فِي السَّلاَسِلِ
Allah heran terhadap suatu kaum yang masuk surga dalam keadaan terbelenggu (HR. Bukhari no. 3010).
Hadis ini Rasulullah ﷺ sampaikan berkenaan dengan tawanan Perang Badar yang akhirnya masuk Islam. Saat mereka memeluk Islam, mereka telah menjadi calon ahli surga, walaupun mereka merasa “terpaksa” pada awalnya.
Begitu pula dengan amalan-amalan wajib, terkadang kita memulainya dari rasa berat akan kewajiban tersebut.
Perjalanan Ibadah: dari Terpaksa Menuju Cinta
Dalam tasawuf, ada beberapa tingkatan seorang hamba dalam beribadah. Pertama, mereka yang beribadah karena kewajiban. Secara umum, hamba akan memulainya dari tingkatan ini. Di fase ini, menjalankan kewajiban kadang terasa berat, sebagian hamba mungkin menunda-nunda melaksanakannya. Hamba pada tingkat pertama seolah-olah berkata kepada dirinya, “Saya harus ibadah.”
Kedua, jika kita terus konsisten beribadah dan telah menjadi rutinitas, lama-kelamaan kewajiban tersebut akan terasa seperti kebutuhan. Jika kita meninggalkannya, maka kita akan merasa bahwa ada sesuatu yang kurang. Di fase ini, menjalankan kewajiban terasa ringan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang hamba. Hamba pada tingkat ini seperti berkata kepada dirinya, “Saya butuh ibadah ini.”
Ketiga, ketika telah melewati semua itu, hamba akan masuk ke tingkat berikutnya, yaitu merasakan ibadah sebagai kenikmatan. Apa yang dahulu disebut kewajiban, kini menjadi suatu perbuatan yang manis dan menyenangkan.
Ini adalah fase di mana seorang hamba telah bertransformasi menjadi kekasih Allah, seperti seorang suami atau istri yang ingin memberi hadiah kepada pasangannya untuk membuatnya bahagia, dan ia pun merasa bahagia sejak menyiapkan hadiahnya. Pada tingkat ini seorang hamba akan berkata, “Saya cinta ibadah.”
Seperti halnya Sahabat Ali bin Abi Thalib ra. yang tertusuk panah di kakinya. Saat para sahabat lain ingin mencabut panah tersebut, Ali berkata, “Keluarkanlah panah itu saat aku shalat.”
Saat sahabat mengeluarkan panah tersebut, Ali tidak bergeming sama sekali, karena saat shalat beliau benar-benar menikmati shalatnya dan tidak merasakan apa pun selain kenikmatan itu.
Sebagai kesimpulan, kita hendaknya meningkatkan kepekaan bertuhan dalam setiap langkah kehidupan. Membangun kesadaran bahwa seluruh perbuatan Allah adalah kasih sayang-Nya, termasuk ketetapannya memberikan kewajiban-kewajiban syariat itu. Dengan memahami ini, semoga kita dapat merubah sudut pandang kita dalam beribadah. Beramal bukan karena menuntaskan kewajiban semata, tapi mensyukuri kasih sayang-Nya yang senantiasa tercurah. Sebagaimana jawaban Baginda Nabi Muhammad Saw tatkala ditanya tentang ibadah malam beliau yang membuat kakinya membengkak:
Bukankah sudah semestinya aku menjadi hamba yang senantiasa bersyukur?
Referensi: Muhammad bin Ismail Al-Bukhari; Shahih Al-Bukhari, Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari; Al-Hikam Al-’Athaiyyah, Abdul Majid Asy-Syarnubi; Syarh Al-Hikam Al-’Athaiyyah.


