Dari Perut ke Qalbu, Jalan Sunyi Menyambut Cahaya

Oleh Annisa Ramadiniah

Jamaah Ribath Tangerang Selatan

Cetak
Adab makan dan cahaya qalbu

Dalam Islam, urusan makan bukan hanya perkara mengenyangkan perut, tetapi juga bagian dari ibadah. Allah ﷻ berfirman:

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS. Al-Baqarah: 168)

Ayat ini menegaskan bahwa makanan yang kita konsumsi memiliki hubungan langsung dengan kualitas hidup, termasuk kualitas ibadah. Berikut yang dapat dipelajari dari para masyayikh yang sedang berjalan Menuju Allah, para sufi, serta adab Rasulullah ﷺ dalam memilih makanan dan tata cara makan yang baik. 

Makanan Halal, Hati Pun Tenang

Syarat pertama makanan yang baik secara syariat adalah halal dan thayyib. Makanan haram atau syubhat tidak hanya berdampak pada tubuh, tapi juga bisa mengeraskan hati, membuat ibadah terasa hampa, dan doa tidak terkabul.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang yang berada di tempat, waktu, dan kondisi yang memastikan mustajabnya doa pun tidak akan terkabul doanya jika memakan makanan yang haram. (HR. Muslim)

Selain menghindari makanan yang haram, seorang muslim perlu berhati-hati dari mengkonsumsi yang tidak jelas status halal-haramnya (syubhat). Seorang salik yang sedang melatih diri menundukkan ego, belajar ilmu tarekat, hakikat, dan terlebih ma’rifat wajib menghindari jenis makanan yang mengandung syubhat.

Jenis makanan yang mengandung syubhat diantaranya: hasil riba, kecurangan, penipuan, mengambil hak orang lain, dan memakan makanan tanpa izin dari pemilik makanan tersebut.

Selain itu, makan dengan nafsu tanpa mengingat Allah juga termasuk ranah syubhat Dalam hal ini, meskipun makanan tersebut halal dalam zat, namun menurut masyaikh dan para sufi akan mematikan kepekaan ruhani dan kepekaan rasa batin. 

Makanan Sehat, Ibadah Pun Kuat

Sering kali kita merasa malas shalat, mengantuk saat mengaji, atau lemas ketika berzikir. Salah satu penyebab yang jarang disadari adalah pola makan yang tidak sehat. Tubuh yang kekurangan gizi akan cepat lelah, sulit fokus, dan tidak memiliki energi untuk beribadah secara maksimal.

Oleh karena itu, carilah makanan yang dapat membantu tubuh tetap bertenaga sebagaimana yang dianjurkan oleh para ahli kesehatan seperti slogan ‘Isi Piringku’ yang disarankan oleh Kemenkes RI.

Mengirim Al-Fatihah kepada Perantara Rezeki

Para masyaikh menasihati murid-muridnya:

“Jangan pernah melihat makanan hanya sebagai benda di piring. Lihatlah perjalanan panjang yang ia tempuh hingga sampai ke tanganmu.”

Sebelum menyentuh suapan pertama, beliau selalu mengajarkan untuk mengirimkan surat Al-Fatihah. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi diniatkan untuk para petani yang menanam padi di bawah terik matahari, buruh yang memanen sayuran dengan tangan yang kasar. Kemudian juga untuk pedagang yang mengantarkan bahan makanan dari para petani ke tangan pembeli hingga orang yang memasak dengan tenaga dan kasih sayang.  Dan terakhir untuk dirinya sendiri yang akan menyantap makanan tersebut.

Setelah itu beliau mengucapkan basmalah dan mengalamkan doa seperti 

“Bismillahi Huwal Awwal, Bismillahi Huwal Akhir, Bismillahi Huwaddzohir, Bismillahi Huwal bathin, Sallallahu A’laihi Wassalam.”

Amalan ini memberikan pengaruh yang positif kepada orang dan makanan yang dikonsumsi. Para murid merasakan perbedaan yang besar darinya. Makanan yang sederhana terasa lebih nikmat, hati terasa lebih lembut, dan ibadah setelahnya pun terasa lebih hidup. Karena adab dalam makan bukan hanya soal cara, rasa, atau ketertarikan. Namun tentang menghadirkan cinta, doa, dan kesadaran bahwa setiap rezeki adalah perjalanan panjang penuh pengorbanan.

Adab Saat Menyantap Makanan 

Rasulullah ﷺ mengajarkan adab-adab makan melalui sabda-sabda beliau. Di antaranya mengajarkan mencuci tangan, berwudhu, berdoa sebelum makan dan cara duduk. Selain itu, para masyayikh juga mengajari adab saat makan, di antaranya adalah menggunakan tangan kanan, mengunyah perlahan dan tidak banyak bicara, mengambil makanan secukupnya, tidak mencela makanan, tidak meniup makanan yang panas, dan berhenti sebelum kenyang. Imam Al Ghazali berkata,”Makan hingga kenyang dapat mematikan cahaya hati.”

Adab Setelah Makan 

Setelah makan selesai, maka seorang yang sedang belajar dalam menata diri dan hati, harus membiasakan adab setelah makan. Di antaranya memuji Allah atas rezeki yang diberikan, menjilat jari, memastikan tidak ada makanan yang tersisa di piring, dan tidak langsung tidur setelahnya karena akan menimbulkan rasa malas. 

Panduan-panduan di atas diajarkan mengingat pentingnya memperhatikan makanan yang dimakan serta adab-adab dari sebelum makan hingga selesai makan. Selain itu، makanan yang sehat akan menghasilkan tubuh yang bugar sehingga shalat akan terasa lebih nikmat, dzikir lebih khusyu, dsn aktivitas ibadah lainnya bisa dilakukan dengan penuh semangat, sehingga melahirkan hati yang lembut dan ibadah yang hidup.Semoga kita semua termasuk hamba yang bukan hanya pandai memilih makanan untuk tubuh, tetapi juga pandai memilih makanan yang  dapat menumbuhkan cahaya di dalam hati. Aamiin.

Mau berkontribusi ?

Apa saja bentuk karya yang bisa dikirimkan?

Sahabath bisa berkontribusi dengan mengirimkan tulisan berupa: artikel, ringkasan kajian, puisi atau lainnya (mengikuti konfirmasi lanjutan dari redaksi)

  1. Kontributor mengirimkan karya dalam bentuk Microsoft Word / Link Google Doc (pastikan link dapat dibuka) ke email maktabah.nouraniyyah@gmail.com atau no. whatsapp 089508082256
  2. Kontirbutor menyertakan data berikut:
    – Nama kontributor
    – Alamat
    – kontak
  3. Kontirbutor mendapat konfirmasi jika karya diterbitkan

Bagikan

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Oleh: Sirva Zarana

Oleh: Rif’atul Mahmudah

Oleh: Edwardo Yamad

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue