Di antara sekian banyak ibadah yang ada di dalam syariat, Allah memilih puasa sebagai ibadah utama di bulan yang mulia, bulan Ramadhan. Dalam rangka mencapai derajat takwa, Allah mewajibkan kita untuk menahan diri dari makan dan minum, yang hukum asalnya adalah mubah (boleh).
Syariat tidak datang tanpa sebab dan hikmah. Ibadah puasa memiliki banyak keistimewaan sehingga ia dipilih sebagai ibadah wajib di bulan Ramadhan.
Pertama, puasa adalah ibadah untuk Allah
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:
وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Puasa itu adalah ibadah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalas-Nya (HR. Bukhari no. 7538).
Para ulama menjelaskan bahwa Allah mengklaim kepemilikan ibadah puasa hamba untuk menunjukkan keagungan ibadah ini. Ibadah puasa lebih aman dari riya, karena ia termasuk ibadah tark, yaitu ibadah meninggalkan sesuatu, sehingga tidak ada yang menyadarinya kecuali Allah.
Kedua, puasa adalah setengah dari kesabaran
Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang sabar. Dia berfirman:
ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan (QS. Az-Zumar [39]: 10).
Dalam sebuah riwayat, seorang sahabat dari Bani Sulaim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berkata kepadanya:
الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ
Puasa itu adalah setengah dari sabar (HR. Tirmidzi no. 3519).
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa sabar memiliki tiga kategori, yaitu sabar dalam taat, sabar dalam meninggalkan maksiat, dan sabar dalam memikul kesulitan dan rasa sakit. Ibadah puasa mengumpulkan semua kategori ini di dalamnya, sehingga ia dijuluki sebagai setengahnya sabar.
Ketiga, puasa adalah ibadah yang tidak terbatas nilai pahalanya
Sebagian besar ibadah yang diamanatkan syariat dilipatgandakan 10 hingga 70 kali lipat nilai kebaikan. Namun, ibadah puasa tidak demikian. Imam Ibnu Rajab menjelaskan bahwa Allah mengklaim puasa sebagai ibadah khusus hamba untuk-Nya dan membalasnya lebih dari nilai ibadah-ibadah lainnya, sebagaimana kesabaran juga bernilai tak terbatas di sisi Allah.
Keempat, puasa paling ampuh melatih jiwa
Ibadah puasa adalah latihan yang paling ampuh untuk mengalahkan hawa nafsu. Puasa juga dapat menjauhkan seorang hamba dari godaan setan. Ulama Bisyr bin Al Harits berkata, “Sungguh rasa lapar itu menyucikan relung hati, membunuh hawa nafsu, dan mewariskan ilmu yang mendalam.”
Rasulullah ﷺ sendiri adalah orang yang sering berpuasa. Salah satu riwayat dari Sayyidah Aisyah ra. menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah merasakan kenyang tiga hari berturut-turut. Teladan ini diikuti kemudian oleh para sahabat.
Saat Sahabat Umar bin Khattab ra. ditanyai alasan makannya yang sedikit dan pakaiannya yang lusuh, ia menjawab, “Sungguh aku ingin bergabung dengan hidup Rasulullah ﷺ yang keras dan sulit. Aku harap, kelak aku pun akan membersamainya dalam kehidupan (akhirat) yang nyaman.”
Rasa kenyang yang terus menerus tidak baik untuk kesehatan qalbu seorang muslim. Oleh karena itu, kita diwajibkan setidaknya berpuasa satu di antara dua belas bulan. Apabila sanggup, maka kita dapat berpuasa sunnah.
Luqman Al Hakim berkata kepada anaknya, “Jika perut penuh, maka matilah pikiran, hikmah sulit untuk muncul, dan malaslah tubuh untuk beribadah.
Sahabath, puasa adalah ibadah istimewa, hadiah dari Rabb yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan puasa kita dengan melakukan amalan-amalan yang dapat merusaknya. Semoga Allah menerima ibadah Ramadhan kita semua. Aamiin

