Dalam kehidupan sosial, kita sering kali melihat orang lain bahkan diri sendiri memberi penghormatan kepada seseorang karena faktor eksternal. Seorang anak kecil disapa dengan ramah karena ada orang tuanya di sampingnya. Atau ketika orang menghoramti dan menjaga pandangan terhadap seorang perempuan karena ada suaminya yang mendampingi. Namun, benarkah itu bentuk penghormatan yang tulus, atau sekadar rasa segan dan pencitraan di hadapan manusia?
Dalam sebuah kitabnya yang berjudul al-Minan al-Kubra, Imam Abdul Wahab asy-Sya’rani mengajarkan kepada kita agar menaruh rasa hormat lebih ketika seseorang baik itu anak yatim atau perempuan saat sedang tidak bersama pelindung dunianya. Imam Sya’rani menulis bahwa ia lebih memuliakan dan menjaga anak yatim setelah ayahnya wafat daripada saat ayah anak itu masih hidup. Tidak hanya itu, beliau juga menambahkan bahwa Imam Sya’rani semakin menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan seorang perempuan ketika suami perempuan tersebut sedang tidak ada atau sedang bepergian jauh.
Perlindungan Hakiki di Balik Perlindungan Manusia
Logikanya sangat indah, ketika seorang perempuan atau anak yatim kehilangan “pelindung” manusianya, maka saat itulah mereka berada dalam fokus penjagaan Allah secara murni. Menghormati mereka di saat sendiri adalah bentuk penghormatan tertinggi kita kepada Allah Sang Penjaga.
Imam Sya’rani bahkan menceritakan pengalaman spiritualnya ditegur dalam mimpi. Sebelumnya beliau merasa tidak ada bedanya dalam menundukkan pandangan saat ada suami si perempuan maupun tidak. Beliau diingatkan bahwa semestinya rasa segan dan penjagaan itu bertambah saat suami perempuan itu tidak ada. Ini adalah bentuk pengagungan kepada Allah yang sedang mengawasi hamba-Nya tersebut secara langsung.
Pelajaran besar dari kajian ini adalah bahwa adab kita kepada sesama manusia tidak boleh bergantung pada siapa yang melihat kita. Mari kita perbaiki cara pandang kita. Menghormati perempuan saat ia sendiri tanpa mahram bukan hanya soal kesopanan sosial, melainkan bentuk ketulusan kita dalam menjaga kehormatan sesama karena Allah swt semata.
Sumber: Disarikan dari kitab Lathaiful Minan karya Imam Asy-Sya’rani melalui kajian Buya Ashfi Bagindo Pakiah (Ribath Nouraniyyah Hasyimiyyah).


