Di kota Bashrah, pada masa ketika cahaya tasawuf menyala terang, seorang sufi bernama Maryam Al-Bashriyyah hidup. Ia bukan sosok yang banyak disebut dalam lembar-lembar sejarah besar, tetapi jejak ruhani hidupnya tertanam kuat dalam lingkaran para pencari Tuhan. Maryam hidup sezaman dengan Sayyidah Rabi‘ah Al-Adawiyah, dan lebih dari sekadar sezaman, ia adalah murid yang berkhidmah, membersamai, dan menimba ilmu ruhani langsung dari sang guru.
Maryam tidak hanya hadir di majelis-majelis Rabi‘ah sebagai pendengar. Ia hadir dengan hati yang terbuka sepenuhnya. Ia melayani, menemani, dan menyertai Rabi‘ah hingga akhir hayat sang sufi agung. Dalam kebersamaan itulah Maryam menyerap pelajaran yang tidak tertulis: pelajaran tentang mahabbah, cinta murni kepada Allah yang tidak bercampur pamrih, tidak ditimbang dengan pahala, dan tidak digerakkan oleh rasa takut akan siksa.
Dari Rabi‘ah, Maryam belajar bahwa cinta kepada Tuhan bukanlah konsep, melainkan keadaan. Setiap kali Maryam mendengar kalam-kalam mahabbah yang keluar dari lisan gurunya, hatinya diliputi hayrah—keheranan yang melampaui nalar. Ia luluh, lalu tenggelam. Kata-kata cinta ilahi seakan membuka tabir demi tabir dalam jiwanya, hingga dirinya sendiri terasa menghilang.
Diriwayatkan bahwa Maryam Al-Bashriyyah wafat dalam sebuah majelis zikir. Bukan karena sebab lahiriah melainkan karena ia tidak lagi mampu menahan ahwal mahabbah ruhani yang mengalir deras dalam hatinya. Sebuah akhir yang sunyi, namun sarat makna.
Wirid dan Tawakal Sayyidah Maryam Al-Bashriyyah
Dalam kesehariannya, Maryam dikenal sebagai pribadi yang sangat menjaga wirid dan kehadiran hati. Seorang ulama sufi, Abdul Aziz ibn ‘Umair, meriwayatkan bahwa salah satu wirid yang senantiasa dibaca Maryam adalah kalimat:
“Allāhu Laṭīfun bi ‘ibādih” — Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.
Maryam membacanya sejak awal malam, dan sering kali tanpa sadar terus melantunkannya hingga dini hari menjelang subuh. Bukan karena target bilangan, melainkan karena hatinya tidak ingin berhenti.
Kelembutan ilahi dalam firman-firman-Nya benar-benar ia resapi dalam hidupnya. Tawakal bukan sebuah sikap pasrah yang kosong, melainkan keyakinan yang hidup di dalam hati dan tercermin dalam perbuatan. Maryam pernah berkata dengan ketenangan yang jernih,
“Aku tidak pernah lagi bersusah hati maupun berletih-letih dalam mencari rezeki sejak aku mengetahui firman Allah: Di langit terdapat pula rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Az-Zariyat: 22).
Kalimat itu bukan penghiburan, tetapi kesaksian. Maryam tidak berhenti berusaha, tetapi ia berhenti menggantungkan hatinya pada sebab.
Dalam diri Maryam Al-Bashriyyah, tasawuf tidak tampil sebagai ajaran yang lantang, tetapi sebagai kehidupan yang lembut. Ia mengajarkan bahwa mahabbah bukan untuk dibicarakan, melainkan untuk dialami—hingga diri ini benar-benar larut, dan yang tersisa hanyalah kehadiran-Nya.


