Jalan tasawuf tidak hanya ditempuh oleh para kaum bapak. Dalam kelembagaan tarekat, mursyid memang disyaratkan adalah seorang lelaki. Namun, Allah tidak membatasi siapa pun untuk menjadi hamba sejati, menjadi para waliyullah. Laki-laki maupun perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi hamba yang bertaqwa, hamba yang mencintai dan mengenal-Nya. Allah Swt berfirman:
وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.
Sepanjang sejarah, kita telah berkenalan dengan ibunda-ibunda shalihah, mulai dari Sayyidah Hawwa, Sayyidah Sarah dan Hajar, Sayyidah Asiyah, Sayyidah Maryam, hingga Ibunda Nabi Saw, Sayyidah Aminah dan seluruh Ummahat al-Mu’minin radhiyallahu ‘anhunna, semoga Allah Swt merahmati mereka semua.
Pada serial ini, kami berharap dapat menceritakan kembali sekelumit kisah perjalanan mereka yang telah tercatat dalam karya para ulama. Harapannya, jalan kehidupan dan nasehat-nasehat mereka dapat kembali menjadi suri teladan bagi generasi sekarang. Generasi yang barangkali haus figur teladan perempuan untuk diikuti di tengah banyaknya distraksi.
Sayyidah Rabi’ah Al-Adawiyah
Pelopor jalan mahabbah, mungkin begitulah julukan untuk beliau yang sering terdengar. Sayyidah Rabi’ah al-’Adawiyah terkenal dengan kalamnya tentang maqam mahabbah sebagai puncak pendekatan diri kepada Allah. Namanya adalah Rabi’ah bint Isma’il, Ummur ‘Amr. Beliau lahir sekitar tahun 100H. Rabi’ah adalah mantan budak dari keluarga ‘Atik.
Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah juga dikenal dengan syair dan munajatnya. Salah satu syairnya yang popoler yaitu “Wahai Tuhanku, seandainya aku menyembah-Mu hanya karena takut siksa neraka maka siksalah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu maka haramkanlah surga bagiku untuk memasukinya. Akan tetapi, jika aku menyembah-Mu semata-mata karena cintaku kepada-Mu maka janganlah Engkau mengecewakan aku. Janganlah Engkau menutupi diri-Mu dari pandanganku.”
Sayyidah Rabi’ah banyak dikunjungi oleh orang-orang saleh, termasuk para ulama yang ingin mendengarkan kalam-kalamnya. Di antaranya adalah Imam Sufyan al-Tsauri, Amirul Mu’minin fil Hadits. Ia mengakui kemuliaan ruhani Sayyidah Rabi’ah.
Suatu kali Imam Sufyan al-Tsauri dan murid-muridnya datang menemui Sayyidah Rabi’ah. Mereka kemudian berbincang dan berdiskusi. Seseorang di antara jamaah Imam Sufyan kemudian sekilas membicarakan tentang hal duniawi. Ketika mereka pulang, Rabiah berkata kepada salah seorang khadimahnya, “Apabila syaikh itu datang lagi bersama muridnya, jangan berikan mereka izin untuk menemuiku, karena aku melihat mereka mencintai dunia.”
Di kesempatan lainnya, Rabiah mendengar Saleh al-Murri menyinggung perkara duniawi dalam perkataannya. Rabi’ah kemudian menegurnya dengan berkata, “Seseorang akan banyak menyebut-nyebut sesuatu yang ia cintai.”
Rabi’ah adalah orang yang sangat ketat dalam mengendalikan nafsiyahnya. Salah seorang muridnya yang bernama ‘Abdah menuturkan bahwa Rabiah adalah orang yang senantiasa beribadah sepanjang malam hingga terbit fajar. Suatu kali, Rabiah tertidur setelah Subuh hingga matahari terbit, kurang lebih setengah hingga 1 jam. Saat bangun Rabi’ah berbicara kepada dirinya, “Wahai jiwa, sudah berapa banyak kamu tidur, berapa lama lagi hingga kamu terbangun? Jangan-jangan setelah tidur ini, kamu mendapati diri ini bangun sudah di hari pembalasan.”
Mengapa Rabiah Menolak Pinangan?
Sayyidah Rabiah Al-Adawiyah juga terkenal karena telah menolak lamaran para lelaki yang ingin menikahinya. Pada suatu waktu seseorang datang dan bertanya kepadanya, “Wahai Rabiah, mengapa engkau tidak menikah?”
“Ada tiga hal yang menyebabkan aku berdukacita. Seandainya ada seseorang yang dapat menyelamatkan aku dari dukacita tersebut maka aku akan menikah,” jawab Rabiah.
“Apakah tiga hal tersebut, wahai Rabiah?” Ia bertanya.
“Pertama, ketika aku menghadapi maut, adakah aku sanggup menghadap Allah dengan membawa iman yang sempurna?
Kedua, apakah buku catatan amalku diterima dengan tangan kanan pada hari kiamat kelak?
Ketiga, apabila hari kebangkitan tiba, orang-orang yang beramal shalih diantar ke surga dan orang-orang celaka diantar ke neraka, termasuk rombongan manakah diriku ini?”
Sayyidah Rabiah wafat di Yeussalem pada tahun 180H di usia ke 80 tahun.

