Tokoh ulama perempuan dalam sejarah Islam memiliki kedudukan yang sangat mulia. Salah satu sosok yang patut kita teladani adalah Mu’minah bint Bahlul. Beliau adalah seorang sufi perempuan yang tekun beribadah dan memiliki tingkat makrifat yang sangat dalam.
Imam al-Sulami bahkan memasukkan nama beliau ke dalam kategori al-’Arifat al-Kibar, yaitu golongan orang-orang yang dianugerahi kema’rifatan yang agung.
Imam al-Sulami menukilkan salah satu pesan berharga dari Mu’minah bint Bahlul melalui ayahnya:
“Dunia maupun akhirat tidak akan baik-baik saja tanpa (memandang) Allah atau memperhatikan jejak-jejak penciptaan dan kekuasaannya. Siapa yang terhalangi dari maqam kedekatan, maka terlegakanlah ia dengan jejak-jejak itu. Dan tidak ada saat yang lebih buruk dari masa yang Allah tidak disebut/diingat padanya.”
Kalamnya yang begitu dalam itu membuat orang-orang di sekitarnya kagum. Mereka pun bertanya, “Dari manakah kamu mendapatkan ahwal yang sangat mulia ini?”
Mu’minah pun menjawab, “Dengan mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasulullah Saw., Mementingkan hak-hak kaum muslimin, dan menyempurnakan khidmah terhadap orang-orang yang berbuat baik dan shaleh.
4 Jalur Kema’rifatan Menurut Mu’minah bint Bahlul
Dalam kesempatan yang lain, Mu’minah berdoa dalam munajatnya, “Wahai penyejuk mataku, dunia dan akhirat ini tak akan baik=baik saja tanpa-Mu, maka janganlah engkau berikan padaku azab bersama kehilanganmu.”
Kutipan nasihat dan doa dari Mu’minah bint Bahlul di atas menunjukkan kepada kita jalur kema’rifatan yang sejati. Untuk mencapai kedudukan spiritual yang tinggi, seorang mukmin hendaknya bermujahadah dalam empat hal utama:
- Mengikuti perintah Allah
- Mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah saw.
- Memperhatikan hak-hak orang Islam sebagai sesuatu yang penting.
- Menyempurnakan khidmah kepada kekasih-kekasih Allah dari kalangan al-Abrar dan orang-orang saleh.


