Seorang qadhi penduduk Bashrah, yang juga ulama penulis sejarah Imam Malik, Sahl bin Abdullah Al-Tustari pernah bercerita, bahwasanya saat berumur tiga tahun, ia melaksanakan shalat malam. Ia melihat bagaimana pamannya, Muhammad bin Siwar, melaksanakan shalat. Suatu hari, pamannya berkata padanya, “Tidakkah engkau ingat Allah yang telah menciptakanmu?”
“Bagaimana aku mengingatnya?” Balas Sahl.
Pamannya kemudian mengajarkan amalan wirid penenang hati yang sangat berharga. “Ucapkanlah: Allah ma’i, Allah nazirun ilayya, Allah syahidii (Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menjadi saksiku). Ucapkan kalimat itu saat kamu mengganti pakaian sebanyak tiga kali. Bacalah dalam hati tanpa menggerakkan bibirmu.”
Proses Membiasakan Amalan Zikir Sejak Dini
Sahl pun kemudian melaksanakan apa yang diperintah pamannya. Ia bahkan mengucapkan zikir tersebut sepanjang malam. Saat ia memberitahu pamannya akan hal itu, pamannya kemudian berkata, “Ucapkan setiap malam tujuh kali.”
Sahl kemudian melaksanakan Kembali perintah pamannya, dan ketika ia memberitahu apa yang sudah ia lakukan, pamannya berkata, “Ucapkan setiap malam sebelas kali.”
Seperti tidak ada yang menghalangi Sahl untuk melaksanakan setiap perintah pamannya, Ia melaksanakan setiap pesan yang diberikan dengan begitu mudah, hingga ia mengaku merasakan ketenangan dalam hati.
Setahun kemudian, Pamannya berkata pada Sahl, “Hafalkan apa yang aku ajarkan padamu. Ucapkan kalimat itu terus-menerus hingga kamu mati. Kalimat itu akan memberimu manfaat di dunia maupun akhirat.”
Buah dari Wirid Penenang Hati dan Pelajarannya
Sahl mengaku melaksanakan pesan pamannya selama beberapa tahun, hingga akhirnya ia merasa hatinya tenang. Pada suatu hari pamannya Kembali berkata, “Hai Sahl, jika seseorang merasakan Allah bersamanya, melihat padanya, dan menjadi saksi baginya, maka apakah ia akan berani berbuat maksiat?”


