Setiap mukmin tentu bercita-cita menjadi hamba yang dicintai dan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Kita ingin masuk ke dalam golongan hamba pilihan sebagaimana firman-Nya:
فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙ
“Maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”(QS. Al-Maidah [5]: 54)
Kita tidak dapat meraih cinta ini tanpa pertolongan-Nya. Allah adalah pemilik cinta yang menanamkan rasa tersebut ke dalam hati dan ruh setiap hamba. Cinta Allah bernilai sangat mahal karena tidak akan pernah sirna. Berbeda dengan cinta makhluk yang rapuh, mudah berubah, atau menyisakan kesedihan karena perpisahan.
Imam Muhammad Ibnu Labban menjelaskan bahwa cinta Allah adalah rahasia ruhani yang menyatukan perbedaan. Dalam hubungan sesama manusia, cinta lahir saat dua pihak menemukan titik kesamaan. Jika titik tersebut tersingkap,berbalaslah cinta mereka.
Wasilah dan Cara Membuktikan Cinta Kepada Allah
Langkah utama untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mengenal-Nya (ma’rifatullah). Seorang hamba tidak mungkin mencintai Allah tanpa mengenal perbuatan, nama, maupun sifat-sifat-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تعارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu bagaikan tentara yang saling bertaut. Siapa yang dulunya saling mengenal maka ia akan berhimpun, dan siapa yang tidak saling mengenal akan berselisih.” (HR. Muslim no. 2638)
Setiap orang bisa mengaku mencintai, tetapi tidak semua mampu membuktikannya dengan benar. Kaum kafir Quraisy dahulu keliru membuktikannya dengan menyembah berhala. Padahal, Allah meluruskan bahwa bukti cinta yang sejati adalah dengan mengikuti Rasulullah ﷺ:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu.”(QS. Ali Imran [3]: 31)
Mengikuti sunnah beliau tidak cukup hanya secara lahiriah saja, tetapi juga batiniah. Contohnya adalah melaksanakan shalat dengan rasa malu, penuh syukur, serta meneladani kasih sayang beliau kepada sesama.
Mencintai Makhluk dalam Rangka Mencintai Allah
Imam Ibnu Labban menegaskan dalam kitab Izalah As-Syubuhat bahwa tidak ada keberadaan yang hakiki untuk dicintai kecuali Allah. Makhluk bersifat fana dan akan sampai pada ajalnya. Oleh karena itu, cinta kepada orang tua, pasangan,guru, maupun saudara seiman hendaknya diniatkan untuk meraih ridha-Nya.
Cinta kepada makhluk tidak boleh melebihi rasa mencintai Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا
“Cintailah kekasihmu sekadarnya, boleh jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu benci.” (HR. Tirmidzi no. 1997)
Beliau ﷺ juga menegaskan syarat meraih manisnya iman melalui sabdanya:
“Seseorang tidak akan menemukan manisnya iman sampai ia mencintai seseorang hanya karena Allah… dan sampai ia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apa pun selain keduanya.” (HR. Bukhari no. 6041)
Cinta hakiki tidak akan mendorong seseorang bermaksiat atau melanggar syariat. Mari kita perbanyak doa agar Allah membimbing hati kita untuk senantiasa mencintai-Nya dan mengamalkan ajaran-Nya.


