17 Desember 2025 04:07

Sejarah Perayaan Maulid Nabi ﷺ

Cetak
perayaan Maulid Nabi Muhammad ﷺ

Maulid Nabi Muhammad ﷺ tahun ini bertepatan dengan tanggal 6 September 2025. Maulid Nabi ﷺ adalah hari kelahiran Rasulullah ﷺ yang jatuh pada hari Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah. Sepeninggal beliau ﷺ, banyak dari umatnya yang merayakan kelahirannya setiap tahun.

Perayaan Maulid Nabi ﷺ telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Ada pelbagai pendapat tentang bagaimana dan kapan perayaan Maulid Nabi ﷺ pertama kali berlangsung. Berikut keterangannya:

Abad ke-2 Hijriah

Menurut catatan Ahmad Tsauri, perayaan Maulid Nabi ﷺ sudah ada sejak abad kedua Hijriah. Perayaan pertama diinisiasi oleh Khaizuran (w. 170 H).  Khaizuran adalah ibu dari Khalifah Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. Dia datang ke Madinah, lalu mengajak penduduk Madinah untuk merayakan kelahiran Rasulullah ﷺ di Masjid Nabawi.

Saat berkunjung ke Mekkah, Khaizuran juga mengajak penduduk merayakan Maulid Nabi ﷺ di rumah mereka masing-masing. Khaizuran menginisiasi perayaan ini dengan tujuan agar ajaran dan teladan kepemimpinan Rasulullah ﷺ tetap menginspirasi masyarakat.

Catatan mengenai perayaan ini dapat kita temukan di rumah kelahiran Rasulullah ﷺ di Mekkah, bahwasanya perayaan maulid pernah ada di abad 8 M/2 H. Tidak hanya hari kelahiran, tempat kelahiran Rasulullah ﷺ juga sempat menjadi pilihan untuk tempat shalat.

Ahli sejarah Al-Azraqi menyatakan bahwa rumah kelahiran Nabi ﷺ menjadi salah satu tempat yang mustahab (dianjurkan) untuk melaksanakan shalat di Mekkah. Ulama Al-Qur’an An-Naqqasy mengungkapkan bahwa rumah beliau ﷺ menjadi tempat berdoa setiap hari Senin (hari kelahiran Rasulullah ﷺ).

Abad ke-3 Hijriah

Berdasarkan catatan para sejarawan abad ketiga seperti Ibnu Zahira Al-Hanafi, Ibnu Hajar Al-Haitami, dan An-Nahrawi, masyarakat merayakan hari kelahiran  Rasulullah ﷺ setelah magrib di tanggal 12 Rabiul Awal. Sebagian besar masyarakat Mekkah akan berbondong-bondong mengunjungi rumah kelahiran Rasulullah ﷺ sambil berzikir membaca Laa Ilaha IllAllah.

Di tempat inilah Rasulullah ﷺ lahir. Rumah ini sekarang menjadi perpustakaan yang jaraknya tak jauh dari Kakbah (sumber www.zawiyahjakarta.or.id)

Jalanan terang dan orang-orang membawa serta anak-anak mereka. Mereka mengenakan pakaian terbaik ke sana. Kemudian, ulama akan berkhutbah tentang kelahiran Rasulullah ﷺ dan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya. Kemudian acara dilanjutkan dengan berdoa untuk khalifah, para qadhi, dan amirul mukminin Mekkah.

Setelah acara selesai, mereka pergi ke Masjidil Haram lalu duduk di dekat Maqam Ibrahim. Setelah khatib membaca tahmid (alhamdulillah) dan doa, mereka menunaikan shalat Isya berjamaah, lalu pulang.

Abad ke-4 Hijriah

Pendapat kedua menyatakan bahwa Maulid Nabi ﷺ pertama kali ada pada masa Dinasti Fatimiyyah di Mesir. Dinasti Fatimiyyah mengadakannya dengan berkurban, puasa, dan acara untuk Ahlul Bait dari keturunan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

Perayaan ini masih berlanjut saat Dinasti Ayyubiyyah yang beraliran sunni, memimpin Mesir. Raja Shalahuddin Al-Ayyubi mengadakan festival perayaan Maulid Nabi ﷺ atas saran sepupunya, Muzafaruddin Gekburi.

Zaman Raja Shalahuddin Al-Ayyubi banyak terjadi peperangan, dan festival Maulid ini dapat membangkitkan semangat masyarakat. Di masa Raja Shalahuddin, masyarakat mengkaji sirah dan atsar tentang Nabi Muhammad ﷺ dengan serius, sebagai bentuk kecintaan mereka kepada Rasulullah ﷺ.

Banyak ulama yang menentang perayaan maulid di masa itu karena tidak dilakukan di zaman Rasulullah ﷺ. Namun, Raja Shalahuddin menegaskan bahwa kegiatan maulid hanya bentuk syiar agama dan bukan ritual yang berhukum wajib. 

Festival ini pertama kali diadakan di abad keenam Hijriah. Saat itu Raja Shalahuddin mengadakan sayembara menulis riwayat hidup Rasulullah ﷺ dan puisi untuknya ﷺ. Syeikh Ja’far Al-Barzanji memenangkan sayembara ini. Karya beliau kini terkenal dengan nama Maulid Barzanji.

Berkat festival tersebut, banyak pemuda muslim mendaftar menjadi prajurit pembebasan Al-Aqsa dan Yerusalem dari tangan pasukan salib. Dan umat Islam berhasil membebaskan Yerusalem dari pasukan salib.

Abad ke-6 Hijriah

Ibnu Jubair menulis dalam bukunya Rihal, bahwa pada masanya, rumah kelahiran Rasulullah ﷺ dibuka, lalu orang-orang mendatangi rumah itu di hari senin pada bulan Rabiul Awal untuk mendapatkan keberkahan.

Abad ke-7 Hijriah

Pendapat ini menyatakan bahwa orang yang pertama kali merayakan Maulid adalah Raja Ibril dari Iraq. Beliau bernama Al-Muzaffar Abu Sa’id Kaukabri. 

Pada hari Maulid, raja mengundang ahli ilmu, pakar tasawuf, para ulama dan rakyatnya lalu menjamu mereka semua, memberi hadiah, dan bersedekah kepada fakir miskin. Pada masa ini, semua ulama mendukung perhatian raja yang begitu besar terhadap peringatan Maulid Nabi ﷺ.

Adapun Abu Al-Abbas Al-Azafi, sejarawan abad ke-7, mengemukakan bahwa pada hari maulid, tidak ada kegiatan perekonomian berlangsung di Mekkah. Orang-orang sibuk berziarah ke rumah kelahiran Rasulullah ﷺ.

Abad ke-8 Hijriah

Ibnu Batutah, pengembara muslim yang terkenal, menceritakan bahwa pada hari Maulid, pintu Kakbah dibuka. Pada hari itu pula Qadhi Mekkah, Najmuddin Muhammad bin Imam Muhyiddin Ath-Thabari membagi-bagi makanan kepada keluarga nabi (syurafa) dan orang-orang Mekkah.

Demikianlah sejarah perayaan Maulid Nabi ﷺ menurut para ahli sejarah dan ulama. Perayaan ini masih berlanjut di berbagai negara berpenduduk muslim, seperti Mesir, Yaman, Libya, Tunisia, Maroko, Sudan, Somalia, Turki, Pakistan, Malaysia, Brunei, India, juga Indonesia.

Sahabat KESAN yang budiman, selamat  merayakan Maulid Nabi ﷺ dengan bahagia dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan sesuai syariat. Bahkan beberapa ulama menganjurkan perayaan Maulid Nabi ﷺ, seperti Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dan Imam Suyuti.

Dalil tentang Maulid Nabi dan ulama yang membolehkannya akan kami bahas lebih lengkap pada artikel selanjutnya. Semoga dengan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ, kita bisa mendapatkan syafaat beliau ﷺ di hari Kiamat kelak. Aamiin.

Referensi: Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi, AM Waskito; Pro dan Kontra Maulid Nabi, Kholilurrohman; Wewangian Semerbak Dalam Menjelaskan Tentang Peringatan Maulid.

Mau berkontribusi ?

Apa saja bentuk karya yang bisa dikirimkan?

Sahabath bisa berkontribusi dengan mengirimkan tulisan berupa: artikel, ringkasan kajian, puisi atau lainnya (mengikuti konfirmasi lanjutan dari redaksi)

  1. Kontributor mengirimkan karya dalam bentuk Microsoft Word / Link Google Doc (pastikan link dapat dibuka) ke email maktabah.nouraniyyah@gmail.com atau no. whatsapp 089508082256
  2. Kontirbutor menyertakan data berikut:
    – Nama kontributor
    – Alamat
    – kontak
  3. Kontirbutor mendapat konfirmasi jika karya diterbitkan

Bagikan

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Oleh: Abu Kayyis Al-Batawi

Oleh: Arif Suryanto

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue