Bulan Rabiul Awal kerap disebut Bulan Maulid, karena di bulan ini putra dari Sayyidah Aminah dan Sayyidina Abdullah ra., Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan. Beliau ﷺ adalah orang yang kelak membawa risalah untuk sekalian umat hingga akhir zaman.
Sejak dahulu, telah banyak ulama menulis tentang perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, baik secara keseluruhan, maupun fase-fase tertentu saja. Kita sangat beruntung tinggal menikmati dan mengambil ibrah dari kerja keras para ulama mengumpulkan kisah hidup Rasulullah ﷺ dari berbagai sumber.
Namun, mengapa kita mesti mengetahui kisah perjalanan hidup Rasulullah ﷺ? Mengapa kita layak menyediakan waktu untuk mengenal beliau ﷺ? Berikut ulasannya:
Kewajiban Beriman kepada Rasulullah ﷺ
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap mukmin wajib beriman kepada Allah, malaikat, kitab suci, nabi dan rasul, hari akhir, dan takdir-Nya.
Iman kepada nabi dan rasul, khususnya Rasulullah ﷺ, harus mencakup semua aspek. Tidak hanya terkait kebenaran beliau ﷺ sebagai rasul, seorang mukmin wajib mempercayai semua ajaran dan risalah yang datang kepada beliau ﷺ dan berusaha mengikutinya.
Keimanan tidak akan terwujud tanpa mengenal. Iman kepada Rasulullah ﷺ akan tumbuh seiring bertambahnya pengetahuan seseorang akan kemuliaan, kesempurnaan, dan kelebihan yang Allah berikan kepada Rasulullah ﷺ yang tidak dapat dibandingkan dengan manusia mana pun.
Allah mengenalkan Rasul-Nya sebagai seseorang yang mendapat berbagai karunia dan kesempurnaan. Di antaranya adalah kesempurnaan ilmu, di mana Allah mengajarkan beliau ﷺ secara langsung. Allah berfirman:
وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا
Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah) kepadamu serta telah mengajarkan kepadamu apa yang tadinya belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar (QS. An-Nisa [4]: 113).
Dengan mengenal karakter Rasulullah ﷺ sebagai pembawa risalah, iman kepada beliau ﷺ akan tumbuh di dalam hati dan mengakar kuat.
Perintah Mengikuti Rasulullah ﷺ
Salah satu tanda utama cinta seorang muslim kepada Allah adalah loyalitasnya dalam mengikuti Rasulullah ﷺ. Allah berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Katakanlah (Nabi Muhammad ﷺ), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali Imran [3]: 31).
Kita hanya bisa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan mengetahui perbuatan, cara bertutur, akhlak, dan kepribadian beliau ﷺ. Tanpanya, mustahil kita bisa mengaku sebagai orang yang mengikuti beliau ﷺ.
Dalam hal ini, para sahabat adalah contoh terbaik. Mereka memiliki hasrat yang sangat besar untuk menyamakan semua tingkah laku mereka dengan Rasulullah ﷺ, kecuali pada perkara yang khusus untuk beliau ﷺ, seperti tidak memakan sedekah.
Para sahabat mengikuti Rasulullah ﷺ hingga hal-hal terkecil. Misalnya, melepas sandal, melepas cincin emas mereka langsung saat nabi ﷺ melepas cincinnya, hingga mencukur habis rambut mereka saat tahallul, karena Rasulullah ﷺ melakukannya. Para sahabat juga sangat gigih bertanya kepada sahabat lain tentang cara Rasulullah ﷺ melakukan sesuatu jika mereka tak sempat melihatnya secara langsung.
Jika para sahabat bisa mengikuti Rasulullah ﷺ dengan melihat beliau ﷺ secara langsung atau bertanya kepada sahabat yang melihat langsung, maka kita dapat mengikuti beliau ﷺ dengan mempelajari kisah hidupnya melalui sunnah-sunnah dan riwayat para ulama yang bersambung kepada Rasulullah ﷺ.
Keharusan Mencintai Rasulullah ﷺ
Perintah mencintai Rasulullah ﷺ hampir selalu datang beriringan dengan perintah mencintai Allah. Mencintai Rasulullah ﷺ adalah jalan menuju cinta kepada Allah. Seseorang tak bisa mencintai Allah tanpa mencintai Rasulullah ﷺ. Cinta yang sempurna kepada Rasulullah ﷺ harus melebihi cinta seseorang kepada keluarga, ayah-ibu, harta, bahkan melebihi cinta kepada diri sendiri.
Allah berfirman:
قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ
Katakanlah (Nabi Muhammad ﷺ), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (QS. At-Taubah [9]: 24).
Imam Qurthubi menjelaskan, ayat ini adalah dalil kewajiban mencintai Allah dan Rasulullah ﷺ dan tidak ada perselisihan dalam hal ini.
Cinta sejati hanya datang kepada hati yang mengenal. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa cinta biasanya hadir karena kesempurnaan, keindahan, dan pemberian. Jika segala sebab ini terkumpul pada satu sosok, bagaimana mungkin cinta tak tumbuh di dalam hati?
Rasulullah ﷺ adalah sosok yang mengumpulkan semua sebab ini di dalam diri beliau ﷺ. Jika masih ada orang yang belum hadir cinta dalam hatinya kepada Rasulullah ﷺ, maka mungkin dia belum cukup mengenal Rasulullah ﷺ.
Dengan tiga alasan ini, maka mengetahui perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, karakter, perbuatan, dan keseharian beliau ﷺ menjadi wajib pula hukumnya. Karena kita wajib beriman, mengikuti, dan mencintai beliau ﷺ. Ketiganya tak akan terwujud tanpa mengenal.
Di sinilah esensi dari maulid, yaitu menelaah kembali sirah hidup Rasulullah ﷺ, sehingga semakin kita mengenal beliau ﷺ, semakin kita cinta kepada beliau ﷺ.
Wallahu a’lam.


