Shalawat adalah salah satu amalan dengan segunung keutamaan. Karena keutamaan shalawat ini, beberapa ulama bahkan mengumpulkannya di dalam satu karya, di antaranya adalah Dalail Khayrat yang ditulis oleh Imam Muhammad ibn Sulaiman Al-Jazuli. Shalawat Dalail Khayrat banyak diamalkan oleh berbagai kelompok masyarakat di Nusantara. Ternyata, ada kisah menarik di balik penyusunan kitab ini.
Di Balik Kelahiran Kitab Dalail Khayrat
Syaikh Hasan Al-‘Adawi mengisahkan bahwa suatu kali Imam Al-Jazuli kesusahan memperoleh air wudhu. Padahal, ia telah berusaha menimba air dari sumur di sekitarnya. Tiba-tiba, seorang anak gadis muncul dari tempat yang tinggi. Ternyata, ia telah memperhatikan Imam Al-Jazuli cukup lama.
”Siapakah engkau?”, tanya gadis kecil itu. Imam Al-Jazuli pun memperkenalkan dirinya.
”O, ternyata engkau orang yang banyak terkenal karena keilmuannya itu, tetapi merasa kebingungan hanya karena kesulitan menimba air dari sumur,” tukas anak itu polos.
Anak itu kemudian meludah ke dalam sumur. Keajaiban terjadi. Sumur yang sebelumnya sulit dijangkau itu tiba-tiba dipenuhi air. Imam Al-Jazuli pun cepat-cepat menimba dan berwudhu dengannya. Setelah itu, ia bertanya kepada anak gadis tersebut sembari bersumpah, “Apakah yang membuatmu sampai kepada tingkatan mulia ini (sehingga dengan air ludah terjadi keajaiban)?”
Anak gadis tersebut menjawab, “Dikarenakan banyak bersalawat kepada Nabi Saw yang apabila berjalan di padang tandus, maka binatang liar pun bergelayut di ujung pakaiannya”.
Jawaban anak itu kemudian menginspirasi Imam Al-Jazuli untuk menyusun kitab Dala’il al-Khayrat. Kisah ini dinukil oleh Syaikh Yusuf al-Nabhani di dalam Dala’il al-Wadihat syarah kitab Dala’il al-Khayrat.
Kontroversi Wiridan Dalail Khayrat
Kitab Dala’il al-Khayrat merupakan kitab shalawat yang paling banyak dibaca oleh umat Islam, baik di dalam maupun luar negeri. Bahkan di beberapa ma‘had dan zawiyah tarekat, kitab ini paling populer setelah Al-Qur’an. Pengamalan kitab ini biasanya dilakukan setelah mendapat ijazah (izin) dari seorang syaikh atau kiyai yang telah mengamalkannya. Membaca kitab tersebut kemudian menjadi hizb harian atau pun dikhatamkan setiap hari selama seminggu.
Fenomena kitab Dala’il al-Khayrat hanyalah salah satu dari amalan spiritual yang terdapat di kalangan sufi. Karena kepopulerannya, sebagian orang merasa khawatir Al-Qur’an kurang mendapat perhatian. Bahkan tidak sedikit yang menilai kitab ini berlebihan dalam memuji Nabi Saw. Sebab itu, kitab ini pernah dilarang oleh gerakan dakwah Salafī di Saudi. Syaikh Ṣāliḥ Fauzān, misalnya, menggolongkan kitab ini sebagai khurafiyin (yang berisi khurafat). Ia memfatwakan di dalam kitab Ighatsat al-Mustafid bahwa Dala’il al-Khayrat wajib diwaspadai, sebab ia berpendapat bahwa kitab tersebut berisi syurūr (keburukan), fitan (kekacauan), dan syirkiyat (syirik) yang sangat banyak.
Tidak hanya itu, Syaikh Salih Fauzan juga mengkritisi salawat al-Fatih (pembuka) yang menurutnya sangat populer di kalangan pengamal tarekat Tijānīyah. Mereka menilai shalawat tersebut adalah al-umur al-muḥdatsah (perkara baru) atau bid‘ah. Ia berpendapat seperti itu karena beranggapan bahwa salawat al-Fatih sangat berlebihan (ghuluw) dalam memuji Nabi Saw.
Selain itu, ia berpendapat bahwa kalimat-kalimat dalam shalawat itu tidak bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi, kritik tersebut bukan berarti Syaikh Salih Fauzan tidak suka bersalawat. Ia menganjurkan setiap orang yang gemar bersalawat untuk merujuk kepada Jila’ al-Afham karya Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyah.
Kritikan Syaikh Salih Fauzan di atas sangat berbeda dengan Syaikh Muḥammad ibn ‘Abd Al-Wahhab –pendiri gerakan Wahhabiyah-. Ia membenarkan agar mewaspadai Dala’il al-Khayrat, tetapi bukan karena menganggapnya bid‘ah atau redaksi salawatnya yang beragam. Di dalam al-Rasa’il al-Sakhsiyah, Syaikh Muḥammad ibn ‘Abd Al-Wahhāb pernah menasehati pengikutnya agar tidak menjadikan Dala’il al-Khayrat lebih utama dari al-Qur’an, atau beranggapan bahwa pembacaannya lebih afdal daripada Kitabullah. Syaikh Muḥammad ibn ‘Abd Al-Wahhab juga menolak tuduhan bahwa ia memerintahkan pembakaran kitab Dala’il al-Khayrat atau melarang bersalawat dengan redaksi beragam. Ia menegaskan bahwa itu hanyalah tuduhan tanpa bukti.
Terlepas dari fenomena tersebut, salawat kepada Nabi Saw merupakan amalan yang disepakati keutamaannya. Perselisihan di antara mereka bukan pada substansi shalawat, tetapi mengenai tatacara dan paradigma seseorang dalam menilai kitab salawat.
5 Keutamaan Bershalawat
Keagungan shalawat adalah sesempurna sifat Allah yang memerintahkannya, dan semulia Nabi Muhammad Saw. yang menjadi objeknya. Ini yang menyebabkan suatu majlis, forum, dan pertemuan menjadi hampa tanpa ada muatan shalawat di dalamnya. Doa tidak diangkat ke langit karena ketiadaannya. Bahkan, salat seseorang tidak sah jika tidak bershalawat kepada Nabi Saw., berdasarkan mazhab Syafii dan Hanbali.
Berdasarkan hal tersebut, pada bagian ini kita akan melihat hadis-hadis yang menunjukkan keniscayaan bershalawat kepada Nabi Saw. dalam kehidupan seorang mukmin.
Pertama, shalawat mengantarkan pengamalnya kepada posisi yang sangat mulia, paling dekat dengan Nabi Saw pada hari Kiamat.
‘Abdullah ibn Mas‘ud ra. menyampaikan bahwa Nabi Saw bersabda: “Orang yang paling utama pada hari Kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepada Nabi Saw.” (HR. al-Tirmidzi/484, kualitas hasan).
Berdasarkan hadis ini, Imam Al-Sakhawi mengemukakan di dalam kitab al-Qawl al-Badi‘ bahwa seorang pencinta Nabi Saw. semestinya bershalawat sebanyak mungkin. Bahkan, ia mengatakan bahwa minimal seorang pencinta Nabi Saw. bershalawat 300 kali setiap hari. Jumlah ini masih tergolong sedikit dibandingkan Syaikh ‘Abd al-Ghafur al-Naqsyabandi di Mekkah yang bershalawat setiap hari 1000 kali.
Kedua, pengamal shalawat mendapat tiga keutamaan, yaitu satu shalawat dan salam dibalas menjadi sepuluh kali, digugurkan sepuluh keburukan, dan diangkat dengan sepuluh derajat.
Ini sebagaimana terdapat di dalam riwayat Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw bersabda: “Siapa yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Di dalam riwayat dari Anas ibn Malik ra. ditambahkan, “…Digugurkan sepuluh keburukannya, dan diangkat sepuluh derajatnya”. (HR. Al-Nasa’i, kualitas sahih). Riwayat lain dari Sahabat Thalhah ra. menyebutkan bahwa Nabi Saw. pernah terlihat sangat berbahagia karena hadis ini.
Lalu Nabi Saw mengabarkan bahwa malaikat Jibril datang kepadanya menyampaikan hadis Qudsi. Allah berfirman: “Hai Muḥammad, apakah engkau menjadi rida apabila seseorang dari umatmu bershalawat sekali kepadamu, maka Aku bershalawat kepadanya sepuluh kali. Siapa pun dari umatmu yang mengucapkan salam kepadamu sekali, maka Aku memberikan salam kepadanya sepuluh kali.” (HR. Al-Nasā’ī, kualitas ḥasan).
Apabila dengan shalawat, seseorang dapat memperoleh kemuliaan shalawat dan salam dari Allah, maka wajar jika ia menjadi makhluk terdekat dengan Nabi Saw. Para sahabat di masa Nabi Saw merasa terharu ketika mendapatkan salam dari Allah. Bahkan Ubay bin Ka‘ab tidak tahan berlinang air mata saat Nabi Saw mengabarkan bahwa Allah menyebut namanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim. Hal yang sama juga terjadi pada Sayyidah ‘Aisyah bint Abu Bakr ra.
Ketiga, para malaikat bershalawat 70 kali kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Saw.
Ini sesuai dengan hadis mawquf dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ra. Ia berkata: “Siapa yang bershalawat kepada Nabi Saw. maka para malaikat bershalawat kepadanya tujuh puluh kali”. (HR. Ahmad). Hadis ini dinilai ḥasan oleh Imam Al-Busyairi dalam kitab Ithaf dan Imam Al-Haitsami dalam Majma‘ al-Zawa’id. Walaupun hadis ini diriwayatkan secara mawquf dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ra., tetapi dinilai marfu‘ (bersumber dari Nabi Saw.) karena berkaitan perkara agama yang tidak mungkin berasal dari ijtihad, sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Suyuti dalam Tadrib al-Rawi.
Keempat, kebakhilan hakiki adalah orang yang tidak bershalawat kepada Nabi Saw.
Di dalam Hadis yang diriwayatkan dari ‘Ali ibn Abu Thalib ra. bahwa Nabi Saw bersabda: “Orang yang bakhil adalah orang yang saat aku disebut di sisinya, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku” (HR. al-Tirmidzī, kualitas ḥasan).
Kebakhilan dalam konteks ini lebih bersifat spiritual, karena setiap mukmin berhutang jasa kepada Nabi Saw. Di dalam riwayat lain disebutkan, “Celakalah seseorang yang tidak bershalawat ketika namaku disebut di sisinya”. (HR. al-Tirmidzī, kualitas ḥasan).
Kelima, shalawat dan salam merupakan penghubung ruhani seorang mukmin dengan Nabi Saw.
Ungkapan ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari ‘Abdullah ibn Mas‘ud ra. bahwa Nabi Saw. bersabda: “Allah mempunyai malaikat yang bertebaran (sayyahin) di bumi. Mereka menyampaikan kepadaku salam kalian.” (HR. Al-Nasa’i, kualitas sahih).
Hadis ini diperkuat oleh riwayat lain dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi Saw. bersabda: “Siapa yang menyampaikan salam kepadaku, niscaya Allah mengembalikan ruhku sehingga aku dapat menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud). Imam Abu Dawud juga menambahkan dalam riwayat lain, “Bershalawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku darimana pun kamu berada.” (HR. Abu Dawud).
Hadis-hadis tersebut merupakan dalil terkuat yang dapat mengobati kerinduan para pecinta dan perindu Nabi Saw. Mereka yang menyampaikan rasa cinta dan melepas kerinduan terhadap Nabi Saw. dengan bershalawat kepadanya, niscaya Nabi Saw akan membalas dan menjawanya.
Oleh karena itu, wajar jika mereka sering mendapatkan “kunjungan” Nabi Saw melalui mimpi-mimpi indah. Imam-imam ahli hadis dan tasawuf adalah golongan yang paling banyak bershalawat kepada Nabi Saw, sehingga mereka sering mendapatkan kenikmatan mimpi bertemu Nabi Saw. Bagaimana tidak? Setiap kali disebutkan nama-nama Nabi Saw, mereka selalu bershalawat kepadanya.
Di antara mereka ada yang bermimpi bertemu Nabi Saw., lalu bertanya tentang kualitas hadis-hadis yang mereka riwayatkan. Ini sebagaimana terjadi pada Imam Al-Thabarani pengarang al-Mu‘jam. (Ibn Mandah, Tarjamah al-Thabrani,1). Lain halnya dengan Muḥammad ibn Ramḥ murid Imam Malik dan Al-Tsauri. Ketika bingung dengan perselisihan pendapat kedua gurunya, maka Muhammad ibn Al-Rumh bermimpi bertemu Nabi Saw. yang berpesan agar mengikuti Imam Malik. (Ibn Abu Hatim, al-Jarh wa al-Ta‘dil, 1/28). Kisah-kisah lain juga terjadi pada Imam Al-Bukhārī dan murid-muridnya. Ada banyak kisah serupa di dalam kitab-kitab biografi ulama-ulama hadis.
Tata Cara Bershalawat
Bershalawat dapat dilafalkan dengan dengan banyak redaksi, sebagaimana terdapat di dalam hadis-hadis Nabi Saw. saat ditanya mengenai cara bershalawat kepadanya. Lalu Nabi Saw menjawab dengan redaksi yang beragam. Keragaman redaksi tersebut bisa jadi bersumber dari Nabi Saw sendiri, atau riwayat bi al-ma‘ná. Kenyataan tersebut mengindikasikan satu hal yang sangat penting dalam mengamalkan shalawat, yaitu ketentuan redaksi shalawat. Kesahihan hadis shalawat yang beragam ini menunjukkan bahwa Nabi Saw. tidak membatasi cara bershalawat dengan redaksi tertentu. Selain itu, sebagian besar sahabat dan tābi‘īn tidak mempermasalahkan riwayat bi al-ma‘ná, artinya redaksi shalawat tidak mesti persis dengan redaksi yang bersumber dari Nabi Saw.
Atas dasar pemikiran inilah para ulama selalu menulis dan membaca shalawat dengan redaksi yang beragam. Imam al-Syafi‘i, misalnya, menulis Shalawat dengan redaksi allahumma shalli ‘alá Muhammad kullama dzakaraka al-dzakirun wa ghafala ‘an dzikrika al-ghafilun. Kalimat ini dianggap sebagai salah satu redaksi shalawat terbaik menurut Imam al-Marwazi, meskipun Imam Al-Nawawi menjelaskan bahwa Imam Al-Syafi‘i adalah orang pertama yang mempopulerkannya. Lebih dari itu, Imam al-Jazuli mengompilasi hampir semua redaksi shalawat yang pernah ada sampai abad kesembilan Hijriah dalam kitabnya Dala’il al-Khayrat. Pengijazahan kitab ini masih berlangsung sampai saat ini.
Akan tetapi, pengamalan shalawat dengan berbagai ragam redaksi tersebut tidaklah memerlukan ijazah dari ulama, karena perintah shalawat bersifat umum di dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini, Sayyid Muḥammad Al-‘Alawi Al-Maliki menegaskan bahwa pengamalan suatu shalawat tidak memerlukan ijazah karena Allah telah memerintahkannya di dalam Al-Qur’an secara umum. Walaupun berkata demikian, Sayyid Muḥammad Al-‘Alawi tetap memberi ijazah kitab zikir dan shalawat, seperti kitab Syawariq al-Anwar dan Dala’il al-Khayrat. Karena ijazah shalawat sangat bermanfaat untuk memotivasi seorang murid untuk mengamalkannya sebanyak mungkin.
Dengan demikian, dapat kita tarik kesimpulan bahwa bershalawat merupakan amalan utama yang dapat menghubungkan ruhani seorang mukmin dengan Nabi Saw. Baik ulama ahli hadis maupun tasawuf sama-sama menjadikan shalawat sebagai amalan utama mereka sebagai jalan menuju keridaan Allah dan melepas kerinduan kepada Rasulullah Saw. Allahum shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad.
Allahu A’lam.
Artikel ini telah terbit di majalahnabawi.com


