15 Desember 2025 19:18

Mengapa Kita Harus Memaafkan? Rahasia Besar di Balik Sikap Pemaaf dalam Islam

Cetak
Ilustrasi seorang muslim sedang memaafkan orang lain

Manusia selain para nabi dan rasul adalah makhluk yang pasti pernah berbuat kesalahan. Tidak ada seorang pun manusia biasa di dunia ini yang ma’shum (terpelihara dari dosa).

Tidak sengaja berbuat salah bukanlah sebuah kekurangan, karena itu adalah kodrat penciptaan yang Allah tetapkan bagi kita. Kita sangat mungkin berbuat salah sebagaimana orang lain bisa berbuat salah. Oleh karena itu, kita tidak pantas merasa lebih suci dari orang lain. Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى ࣖ

Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui orang yang bertaqwa. (QS. An-Najm [53]: 32).

Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk saling memaafkan karena ada banyak rahasia dibalik memberi maaf. Berikut di antaranya:

Memaafkan Mengundang Cinta Allah

Terlepas dari seberat apa pun kesalahan seorang hamba, Allah memiliki ampunan yang sangat luas. Bahkan dia menyebut diri-Nya dengan tiga nama, Al-Ghafir, Al-Ghafur, dan Al-Ghaffar. Maknanya, Allah mengampuni semua dosa, baik dosa kecil, dosa besar, sedikit, maupun dosa yang banyak.

Selain itu, Allah masih memiliki nama lain yang menyempurnakan keluasan ampunan-Nya, yaitu AL-Tawwab (Yang Maha Menerima Taubat yang berulang-ulang), Al-’Afuw (Yang Maha Memaafkan), dan Al-Rahim (Yang Maha Penyayang).

Sebagai hamba dari Rabb yang Maha Pengampun, seorang muslim hendaknya berusaha mengambil teladan dari nama ini. Allah mencintai manusia yang suka memberi maaf, karena itu adalah tanda ketakwaan dan sifat ihsan di dalam diri. Dia berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. Ali Imran [3]: 134).

Memaafkan Adalah Berterimakasih kepada Allah

Siapa pun bisa tergelincir dalam lubang dosa dan kesalahan. Orang yang senantiasa berbuat baik pun bisa saja terjerumus dalam berbuat salah kepada orang lain.

Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk memberi maaf, bahkan kepada orang yang belum beriman. Jika suatu perbuatan terlihat sebagai sebuah kesalahan di mata kita, maka memaafkan adalah salah satu cara kita bersyukur kepada Allah. Mengapa demikian?

Coba Sahabath bayangkan, Allah Maha Kuasa untuk membuat kita melakukan suatu keburukan walaupun kita tidak mengehendakinya. Namun, Dia membuat kita tidak melakukannya. Allah kemudian membuat orang lain melakukan itu agar kita dapat mengambil pelajaran.

Bahkan jika perbuatan buruk orang itu berefek buruk kepada kita, maka maaf tidak selalu diberikan karena seseorang berhak menerimanya, tetapi karena kita bersyukur kepada Allah yang menjauhkan kita dari melakukan keburukan itu.

Setelah memaafkan, alangkah baiknya kita mendoakan agar Allah mengampuni orang tersebut dan menuntunnya untuk kembali kepada kebenaran. Akhlak inilah yang Rasulullah ﷺ tunjukkan saat beliau dilempari dan dikata-katai oleh orang-orang Thaif.

Membuka Peluang untuk Ampunan Allah

Tidak satu pun perbuatan kita luput dari pandangan Allah. Di antara seluruh aktivitas kita dalam sehari, mungkin kita telah bermaksiat tanpa sadar. Di sinilah memaafkan orang lain berperan besar bagi kita.

Allah memberi ganjaran yang luar biasa bagi orang yang mau memberi maaf dalam firman-Nya:

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nur [24] 22).

Kesalahan memiliki bobot yang berbeda-beda di hati setiap orang. Seseorang boleh jadi menganggap perkataannya candaan, tetapi lawan bicaranya merasa tersinggung karena perkataan tersebut.

Di sisi lain, manusia tidak bisa mengendalikan hatinya sendiri. Kita kadang merasa sulit untuk memaafkan kesalahan orang lain karena pedihnya luka hati yang harus kita tanggung. Namun, Allah tahu isi hati hamba-Nya. Dialah yang berkuasa membolak-balikkan hati kita.

Habib ‘Ali Al-Jufri mengatakan, “Jika kamu sudah berniat memaafkan tetapi hatimu belum bisa merelakan, maka berdoalah kepada Allah, ‘Ya Allah, aku sudah berniat dan memaafkan mereka dengan lisanku yang bisa aku kendalikan, maka aku serahkan kepada-Mu urusan hatiku yang berada dalam kuasa-Mu.’”

Sahabath, Allah tidak pernah merugikan orang yang mau memberi maaf. Memberi maaf bukanlah tanda kekalahan, melainkan tanda kekuatan dan keteguhan hati seorang muslim. Semoga kita dapat meneladani sikap pemaaf Rasulullah ﷺ. dan membuat beliau ﷺ. bahagia dengan sikap mudah memberi maaf. Aamin yaa Rabbal Alamin.

Allahu A’lam.

Share

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue