Dituduh menyimpang, sesat atau dianggap mengikuti orang “sesat” adalah sunnatullah bagi orang-orang yang menempuh jalan spiritual. Terkadang, ujian ini menimbulkan luka batin bagi “tersangka sesat”, sehingga tidak sedikit yang menyerah di tengah atau bahkan sejak awal perjalanan pencarian spiritual.
Ada dua kondisi internal yang menyebabkan luka batin ini. Pertama, Wadah batin yang belum siap menghadapi tekanan cercaan. Kedua, pola sikap mainstream, yaitu suka mengikuti alur pemikiran orang banyak yang belum tentu tepat. Kedua kondisi ini memprihatinkan baik bagi para pemula maupun para pesuluk yang sudah melalui waktu panjang dalam menjalankan laku dan pencarian spiritual.
Mengapa Manusia Menempuh Jalan Spiritual?
Orang-orang memilih untuk berspiritual dilatarbelakangi berbagai alasan. Namun pada intinya, spiritualitas membantu mereka menemukan makna, tujuan dan kedamaian dalam hidup.
Dalam buku Islam dan Nestapa Manusia Modern (1983), Sayyed Hossein Nasr melukis sketsa posisi manusia saat ini. Ia menggambarkan sebuah lingkaran sebagai kehidupan, sedangkan diameternya adalah jalan sufi, dan titik koordinatnya merupakan realitas Ilahi.
Nasr dalam bukunya The Garden of Truth, Mereguk Sari Tasawuf, menjabarkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang cuma lahir, hidup, lalu mati tanpa membawa pemaknaan dan kepenuhan jiwa selama hidup. Sejak awal manusia memiliki dimensi batin. Sewaktu-waktu aspek ruhani tidak hanya membutuhkan pemenuhan, tetapi juga memberontak dan merindukan asal-muasalnya. Melalui dimensi batin inilah manusia berpotensi menemukan kesejatiannya. Itulah perjalanan dimensi batin inilah yang disebut jalan spiritual atau sufisme.
Penyebab Tasawuf Diaggap Menyimpang
Labelisasi spiritualitas sebagai sebuah “penyimpangan” dapat muncul karena berbagai sebab. Penjabaran berikut diharapkan dapat menjadi bahan muhasabah bersama para salik. Pun juga bagi para pemberi label tersebut, namun hatinya masih dilembutkan dan dituntun untuk berhijrah pada nilai kesejatian.
1. Istilah-istilah yang tidak umum
Sebagai disiplin ilmu, tasawuf membawa istilah-istilah keilmuan yang tidak terdengar umum. Ketika istilah tersebut sampai di telinga orang awam, muncul penolakan dengan alasan ini tidak sesuai dengan ajaran Islam atau dianggap dogma baru. Labelisasi pun muncul walaupun kata atau kalimat yang ditolak tersebut telah diiringi penjelasan yang masuk akal.
2. Pengalaman
Penolakan terhadap ajaran tasawuf juga kerap muncul sebab mereka yang memberi stigma sesat pada para pejalan laku spiritual belum pernah mengalami langsung. Ini menyebabkan mereka sulit mencerna dan memahami sikap atau ucapan para pelaku spiritual. Sejatinya, kesadaran spiritual didapatkan dengan mengalami langsung, bukan dengan membaca saja.
3. Ketakutan
Faktor lain yang menyebabkan penolakan terhadap ajaran tasawuf adalah rasa takut kehilangan “aturan pasti” yang sudah diajarkan sejak kecil. Spiritualitas membuka peluang jawaban yang tidak mutlak untuk satu pertanyaan. Karena jawaban itu terkadang bersifat subjektif dan berfokus pada pengalaman pribadi.
Spiritualitas tidak menawarkan jawaban tunggal atau final, melainkan mendorong individu untuk menemukan makna dan kebenaran mereka sendiri melalui pengalaman dan refleksi. Mengapa demikian?
Saat seseorang tumbuh dan berkembang, pertanyaan mereka mungkin berubah. Demikian pula jawaban yang telah mereka temukan sebelumnya mungkin perlu ditinjau kembali atau diinterpretasikan ulang. Spiritualitas mengajarkan penerimaan terhadap ketidakpastian dan kompleksitas hidup. Para salik akan menyadari bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang jelas, dan ia akan dituntun untuk merasa nyaman dengan ketidakpastian itu.
4. Komunitas “Spiritual” Menyimpang
Pengalaman bersentuhan dengan komunitas atau personal spiritual yang menyimpang adalah faktor lain yang menggeneralisasi klaim penyimpangan beragama terhadap ajaran tasawuf. Hal ini bisa terjadi sebab kesalahan pola pikir atau kegagalan menyelami hikmah pencarian. Akhirnya, baik teman, handai taulan, bahkan guru yang mengamalkan ajaran tasawuf dicap sebagai pengikut ajaran menyimpang.
5. Kesenjangan Pengetahuan
Kesenjangan ilmu dan pemahaman akan ajaran tasawuf cukup besar kontribusinya dalam membentuk paradigma. Kurangnya pemahaman menyebabkan kebanyakan orang salah mengartikulasi sikap, argumentasi, persepsi dan pola pikir para pelaku spiritual.
Menyikapi Tuduhan Sesat dengan Bijak
Dari sudut pandang para pesuluk, yang tersisa adalah bagaimana menyikapi labelisasi yang diterima serta mengambil hikmah dari fenomena tersebut.
Pertama, pesuluk belajar untuk berlapang dada menjalani laku spiritual yang senantiasa beriringan dengan resiko dibaliknya. Berjalan di jalan tasawuf memang menuntut kesiapan untuk dihakimi dan dicela sebagai orang sesat/menyimpang.
Menerima tuduhan bukan berarti menyerah pada keburukan, tetapi mengakui bahwa kontra pendapat adalah bagian dari pengalaman hidup.
Kedua, mengubah tuduhan menjadi sumber kekuatan dan menumbuhkan kebijaksanaan. Hasilnya, salik dapat menjaga energi ketenangan dan sikap elegan menghadapi klaim penyimpangan tanpa menyebabkan arogansi spiritual.
Dalam merealisasikan sikap bijaksana dalam bertasawuf serta ketahanan terhadap tempaan labelisasi menyimpang, sesat dan lain sebagainya itu, seorang salik hendaklah bertekad untuk berguru. Guru yang dimaksud adalah guru yang autentik. Kriteria autentik menurut Nashr adalah guru yang mempunyai sanad (walayah) hingga ke Nabi Muhammad Saw. Ia lebih dari sekadar mursyid, sebab selain memegang kunci dan peranan utama dalam mengarahkan murid, ia juga berwawasan mendalam sepanjang menyangkut tradisi sufi.
Lalu bagaimana cara mencarinya? Mencari guru spiritual adalah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran. Jangan terburu-buru dalam membuat keputusan. Luangkan waktu untuk benar-benar memahami dan jangan lupa untuk memohon petunjuk dari Allah melalui shalat Istikharah.
Mencari guru spiritual bisa menjadi self journey atau perjalanan pribadi yang melibatkan introspeksi, doa dan mencari informasi. Jadi, pengalaman terdahulu dalam “proses pencarian” dan kemampuan mengambil hikmah yang terelaborasi adalah sangu atau bekal mahal dan berharga. Ini akan menjadi bahan bakar keberlanjutan dalam menempuh jalan spiritual.
Wallahu A’lam.

