17 Desember 2025 04:37

Kasih Sayang Nabi Saw. dalam Perubahan Aturan Puasa

Oleh Putri Naomi

Jamaah Ribath Tangerang Selatan

Cetak
kasih sayang Nabi Muhammad Saw. dalam perubahan aturan puasa Ramadan

Pada awal masa Islam, aturan puasa yang berlaku jauh lebih berat dibandingkan sekarang. Saat itu, seorang Muslim hanya boleh makan dan minum sejak waktu magrib hingga shalat isya ataupun sebelum tidur. Begitu ia tertidur, meskipun hanya sebentar saja, maka otomatis masuk waktu imsak dan ia harus menahan diri hingga magrib keesokan harinya.

Dalam satu kesempatan kajian kitab Sunan al-Tirmidzi, Buya Ashfi Bagindo Pakiah memaparkan sebab turunnya salah satu ayat puasa, yaitu surat Al-Baqarah ayat 187. 

Peristiwa yang Dialami Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Suatu malam, Sayyidina Umar bin Khattab r.a tidak mampu menahan hasratnya untuk mendekati istrinya. Keesokan harinya, ia langsung menemui Nabi Muhammad Saw dan menceritakan kekeliruannya kemarin. Nabi yang penuh kasih sayang itu tidak lantas memarahi Sayyidina Umar, apalagi mencercanya. Justru dari peristiwa tersebut, Allah menurunkan keringanan (rukhshah) melalui firman-Nya: 

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur (berhubungan) dengan istri-istri kalian. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.“ (Q.S. Al-Baqarah [2]: 187)

Keringanan Aturan Puasa yang Membawa Kemudahan 

Sejak saat itu, aturan puasa yang awalnya sangat panjang menjadi lebih ringan dan mudah dijalani.

Bayangkan jika aturan lama itu masih berlaku hingga sekarang. Kita harus begadang hingga fajar, yang tentu sulit dilakukan. Jika memilih tidur, maka waktu berpuasa akan terasa amat panjang dan melelahkan.

Peristiwa ini menunjukkan betapa luas kasing sayang Nabi Muhammad Saw. Kesulitan yang dialami para sahabatnya dimaklumi bahkan diberi hadiah berupa keringanan-keringanan dalam ibadah. Sebagai umat beliau, sudah sepantasnya kita meneladani sifat kasih sayang tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dengan menebarkan rahmat dan kebaikan kepada sesama. 

Wallahu a’lam.

Apa aturan puasa pada masa awal Islam?
Pada awal Islam, seorang Muslim hanya boleh makan dan minum sejak magrib hingga shalat isya atau sebelum tidur. Jika tertidur, meskipun sebentar, otomatis waktu imsak dimulai hingga magrib esok harinya.
Mengapa aturan puasa kemudian berubah?
Aturan puasa berubah setelah Sayyidina Umar bin Khattab r.a. mengalami kesulitan. Allah menurunkan keringanan melalui QS. Al-Baqarah ayat 187 sehingga umat Islam diperbolehkan makan dan minum hingga fajar terbit.
Apa makna kasih sayang Nabi dalam perubahan aturan puasa?
Nabi Muhammad Saw. tidak memarahi para sahabat yang kesulitan, justru dimaklumi dan diberi keringanan. Hal ini menunjukkan kasih sayang Nabi yang luas kepada umatnya.
Bagaimana dampaknya jika aturan lama puasa masih berlaku?
Jika aturan lama masih berlaku, umat Islam harus begadang hingga fajar atau berpuasa dengan durasi sangat panjang, yang tentu terasa berat dan melelahkan.
Apa pelajaran dari perubahan aturan puasa ini?
Pelajaran utamanya adalah bahwa Islam memberi kemudahan, bukan kesulitan. Kasih sayang Nabi menjadi teladan untuk selalu menebarkan rahmat dan kebaikan kepada sesama.

Mau berkontribusi ?

Apa saja bentuk karya yang bisa dikirimkan?

Sahabath bisa berkontribusi dengan mengirimkan tulisan berupa: artikel, ringkasan kajian, puisi atau lainnya (mengikuti konfirmasi lanjutan dari redaksi)

  1. Kontributor mengirimkan karya dalam bentuk Microsoft Word / Link Google Doc (pastikan link dapat dibuka) ke email maktabah.nouraniyyah@gmail.com atau no. whatsapp 089508082256
  2. Kontirbutor menyertakan data berikut:
    – Nama kontributor
    – Alamat
    – kontak
  3. Kontirbutor mendapat konfirmasi jika karya diterbitkan

Bagikan

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Oleh: Abu Kayyis Al-Batawi

Oleh: Arif Suryanto

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue