Hari Santri hendaknya bukan menjadi sekadar perayaan, tetapi juga momen refleksi dunia pendidikan Islam. Sesuai tema Hari Santri 2025, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, rasanya kita perlu menoleh ke belakang, kepada sosok pembangun fondasi peradaban, yakni Baginda Nabi Muhammad Saw., Sang Maha Guru, dan sahabat-sahabat beliau, santri-santri terbaik sepanjang masa.
Pengajaran nilai-nilai agama telah berlangsung sejak periode Mekkah, di antaranya majelis yang dibuka secara sembunyi-sembunyi di rumah Sahabat Al-Arqam ibn Abi Al-Arqam. Setelah turun perintah hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw. membangun sistem pendidikan untuk para sahabat yang berpusat di Masjid Nabawi.
Rasulullah ﷺ kemudian menjadikan serambi masjid sebagai tempat tinggal para sahabat yang tidak memiliki rumah (pondokan). Di sana, mereka fokus mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah ﷺ dan ikut berjihad bersama beliau ﷺ.
Mereka inilah yang disebut Ahlu As-Suffah. Secara sederhana, Ahlu As-Suffah adalah orang yang tinggal di Suffah (serambi) Masjid Nabawi. Namun, bukan sekadar menumpang tinggal, mereka adalah santri di lembaga pendidikan pertama dalam Islam yang diasuh oleh Rasulullah ﷺ langsung.
Selama dakwah Rasulullah ﷺ di Madinah, beberapa wilayah yang jauh mengirimkan delegasi mereka untuk belajar langsung dari beliau ﷺ, lalu mengajarkannya kembali kepada penduduk di kampung halaman mereka. Para utusan ini kemudian tinggal bersama-sama di Suffah.
Selain kaum Muhajirin, penduduk asli Madinah juga ada yang tinggal di Suffah karena mereka memilih untuk hidup sederhana dan fokus belajar kepada Rasulullah ﷺ.
Ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat tentang jumlah orang yang menghuni Suffah Masjid Nabawi. Abu Nu’aim Al-Isfahani meriwayatkan bahwa penghuni tetapnya ada sekitar 70 orang. Imam Qatadah berpendapat jumlah mereka lebih dari 900 orang.
Imam Abu Nu’aim mendaftar sahabat-sahabat yang termasuk Ahlu As-Suffah, di antaranya adalah Abu Hurairah, Abu Dzar Al-Ghifari, Salman Al-Farisi, Kaab bin Malik Al-Anshari, Hanzhalah, dan Huzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhum. Bilal bin Rabah ra. juga masuk dalam daftar ini.
Jika menengok cuplikan-cuplikan kehidupan Ahlu As-Suffah dalam Al-Qur’an dan hadis, kita dapat melihat bahwa santri-santri Rasulullah ﷺ memiliki beberapa karakter berikut:
1. Kemandirian dari Sikap Meminta-minta
Meskipun hidup serba berkekurangan, Ahlu As-Suffah tidak suka meminta-minta. Jika mereka sangat lapar, mereka menyampaikannya secara tersirat. Seperti kisah Abu Hurairah ra. yang mengajak sahabat yang lewat di jalanan Madinah berbincang dengan harapan akan diajak makan bersama.
Sikap ini tergambar jelas dalam firman Allah:
يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ
(Orang lain) yang tidak tahu, menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta) (QS. Al-Baqarah [2]: 273).
Ahli tafsir Imam Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ahlu As-Suffah yang tinggal di teras Masjid Nabawi. Mereka fakir dan tak mampu bekerja, sehingga mereka menyibukkan diri dengan belajar, beribadah, dan berjihad. Oleh karena itu, Allah menganjurkan untuk bersedekah kepada mereka.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-sehari, Ahlu As-Suffah pergi mencari air pada siang hari, lalu mengumpulkannya untuk minum bersama. Sebagian lainnya pergi mencari kayu bakar lalu menjualnya untuk membeli makanan (HR. Muslim no. 677).
2. Konsentrasi Penuh dalam Belajar
Kegiatan utama Ahlu As-Suffah adalah belajar kepada Rasulullah ﷺ. Mereka menghafal Al-Qur’an sekaligus mengikuti penjelasannya dari Rasulullah ﷺ melalui sunnah qauliyah (perkataan) dan fi’liyah (perbuatan) beliau ﷺ.
Pada satu kesempatan, Rasulullah ﷺ bertemu dengan Ahlu As-Suffah yang sedang mendengar bacaan Al-Qur’an, lalu beliau ﷺ bersabda:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ أُمِرْتُ أَنْ أَصْبِرَ نَفْسِي مَعَهُمْ
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan sebagian dari umatku sekelompok orang yang aku diperintahkan untuk bersabar bersama mereka (HR. Abu Dawud no. 3666, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menilai hadis ini hasan).
3. Meridhai Kesederhanaan
Ahlu As-Suffah pernah mengeluhkan kehidupan dunia mereka yang sulit kepada Rasulullah ﷺ. Namun, Allah menegur mereka, dan berfirman:
وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُ
Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki (QS. Asy-Syura [42]: 27).
Rasulullah ﷺ lalu senantiasa memotivasi Ahlu As-Suffah untuk sabar dalam kesederhanaan, karena mereka mungkin akan melupakan agama jika mereka hidup berlebihan.
4. Istiqamah dalam Ubudiyyah
Suatu ketika, beberapa orang mengungkapkan ketidaksukaan mereka terhadap Ahlu As-Suffah dan tidak mau berdekatan dengan mereka. Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ mencari Ahlu As-Suffah dan mendapati mereka sedang berzikir. Beliau ﷺ lalu bersabda:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يُمِتْنِي حَتَّى أَمَرَنِي أَنْ أَصْبِرَ نَفْسِي مَعَ قَوْمٍ مِنْ أُمَّتِي، مَعَكُمُ الْمَحْيَا وَمَعَكُمُ الْمَمَاتُ
Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku sehingga memerintahkanku agar aku bersabar bersama sekelompok kaum dari umatku. Hidupku dan matiku akan bersamamu (Syu’abul Iman Baihaqi no. 10012).
Berkaitan dengan peristiwa ini Allah memerintahkan agar kaum muslimin bersabar dengan mereka, karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa berzikir di pagi dan petang hari, serta selalu mengharapkan ridha Allah (QS. Al-Kahf [18]: 28).
5. Belajar untuk Mengajar
Rasulullah ﷺ membekali Ahlu As-Suffah dengan ilmu yang cukup agar bisa menjadi pengajar-pengajar yang dapat diutus berdakwah ke berbagai negeri. Sebelum wafat, Rasulullah ﷺ sudah dapat mempercayakan para penghuni Ahlu As-Suffah sebagai rujukan bacaan Al-Qur’an yang benar.
Beliau ﷺ bersabda:
خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ـ فَبَدَأَ بِهِ ـ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ
Belajarlah Al-Qur’an kepada empat orang, yaitu Abdullah bin Mas’ud, Salim budak Abu Hudzaifah, Muadz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’ab (HR. Bukhari no. 3808).
Abdullah bin Mas’ud ra. dan Salim ra. adalah bagian dari Ahlus Suffah.
6. Berkontribusi dalam Kegiatan Masyarakat
Ahlu As-Suffah terkenal sebagai orang-orang yang selalu siap berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, khususnya berjihad. Mereka tidak hanya siap saat belajar, tetapi juga siap berangkat jihad dan berkorban nyawa di medan perang jika dibutuhkan (QS. Al-Baqarah [2]: 273).
Sahabath, begitulah karakter santri didikan Rasulullah ﷺ. Mereka adalah generasi santri terbaik yang pernah ada, karena yang mendidik mereka adalah orang terbaik, yaitu Rasulullah ﷺ.
Semoga kita bisa senantiasa menjadi santri, yaitu orang yang senantiasa menuntut ilmu, memelihara iman, dan rajin beribadah, sehingga kita menjadi santri yang selalu bertumbuh, berdaya, dan berkarya. Aamiin.
Referensi: Abu Nuaim Al-Asfihani; Hilyat Auliya, Musthafa A’zhami; Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Imam Qurthubi; Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, Akram Dhiya Al-Umari; Al-Mujtama’ Al-madani Khasaishuhu wa Tandzimatuhu Al-Ula, Abu Dawud; Sunan Abu Dawud, Al-Baihaqi; Syu’abul Iman, Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, AL-Jami’ Ash-Shahih.

