13 Desember 2025 19:47

Cinta Habaib Bukanlah Syiah

Cetak

Apa yang terbayang dalam pikiran pembaca ketika disebutkan kata “haba’ib” atau melewati banner yang ada foto para haba’ib di setiap perempatan atau pertigaan jalan. Barangkali ada yang langsung mengatakan, “ O, itu orang Syi’ah” dengan ekspresi meremehkan, atau ada juga berkata, “Orang-orang suci” karena terbayang mereka sebagai keturunan Nabi Saw. Dua hal ini bisa benar, atau juga keliru. Ini dikarenakan ada haba’ib yang Syi’ah, tapi juga banyak yang Sunni. Mereka adalah orang-orang yang dilarang oleh Nabi Saw menerima sedekah dan zakat karena dua jenis harta ini adalah awsakh al-mal (kotoran harta). Tentu saja pelarangan ini sebelum aliran Sunni dan Syi’ah muncul di kalangan umat Islam.

Istilah haba’ib yang berarti orang-orang yang dicintai. Sebutan ini lebih populer di Yaman terutama Hadramaut. Apabila seseorang mempunyai nasab atau trah yang sahih bersambung kepada Fatimah putri Nabi Saw, maka ia biasanya dipanggil dengan habib seperti Habib Umar bin Hafizh, Habib Ali al-Jufri, dan lainnya. Adapun di wilayah lain, seperti Saudi dan Mesir, maka lebih sering disebut dengan sayyid seperti Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki di Makkah. Semua itu adalah tokoh Sunni dan sangat anti terhadap Syi’ah. Dikarenakan tradisi keislaman umat Muslim di Indonesia belakangan ini lebih banyak dipengaruhi oleh corak keislaman para pendakwah yang belajar atau berasal dari Hadramaut, maka istilah habib atau haba’ib lebih sering digunakan daripada sayyid.

Kesahihan Hadis Perintah Cinta Ahli Bait

Dari manakah bersumber ungkapan ini? Sebenarnya ungkapan tersebut bersumber dari sebuah hadis yang ‘kurang’ dipopulerkan oleh para pendakwah Muslim. Mungkin karena ketidaktahuan atau memang sengaja menyembunyikannya khawatir dituduh Syi’ah oleh orang yang tidak faham. Menariknya, hadis tersebut adalah riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim. Nabi Saw bersabda:

وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ. فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ « وَأَهْلُ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى.

“Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang berat (tsaqalain), yaitu Kitab Allah- yang di dalamnya terdapat pelita dan petunjuk, maka berpegang teguhlah dengannya- dan keluargaku (ahl baiti). Aku peringatkan kalian terhadap keluargaku”. Nabi Saw mengulanginya tiga kali. (HR. Muslim, no: 6378). Hadis ini terjamin kesahihannya, karena diriwayatkan di dalam Shahih Muslim.

Imam al-Tirmidzi juga meriwayatkan dalam kitab al-Jami’ al-Shahih atau Sunan al-Tirmidzi bahwa Nabi Saw bersabda dalam salah satu khutbahnya:

يا أيها الناس إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهَلَ بَيْتِي

“Wahai manusia, aku tinggalkan untuk kalian (dua hal). Apabila kalian berpegang dengannya maka tidak akan sesat selamanya, yaitu Kitab Allah dan keluargaku serta keturunanku (‘itrati)”. (HR. Al-Tirmidzi, no: 3786). Imam al-Tirmidzi menilai riwayat ini berkualitas hasan (baik).

Hadis ini juga diriwayatkan oleh ulama hadis lain seperti Imam Ahmad, Ibn Abi Syaibah, Abu Ya’la, al-Thabrani, al-Hakim dan lainnya. Imam al-Haytsami dalam Majma’ al-Zawa’id menilai kualitas periwayatnya tsiqah (terpercaya), bahkan Albani juga menilainya sahih sebagaimana disebutkannya dalam Shahih Sunan al-Tirmidzi.

Kelemahan Hadis “Kitab Allah dan Sunahku”

Hadis di atas menarik untuk diperhatikan, karena yang populer di kalangan pendakwah adalah redaksi yang lain. Redaksi hadis tersebut adalah:

 تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan kalian dua hal. Apabila kalian berpegang teguh dengannya maka tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku”.

Hadis dengan redaksi “Kitab Allah dan Sunnahku” ini tidak ditemukan dalam kitab yang disepakati kesahihahnnya oleh ulama hadis. Tetapi hadis tersebut terdapat dalam Muwaththa’ karya Imam Malik, Sunan karya Imam al-Daruquthni, Musnad karya Imam al-Bazzar, dan al-Sunan al-Kubra karya Imam al-Baihaqi. Namun sanad redaksi hadis ini tidak ada yang sampai derajat sahih meskipun populer. Bahkan riwayat Imam Malik tergolong terputus. Meskipun ada ahli hadis lain yang meriwayatkan dengan sanad yang muttashil (bersambung) tetapi Imam al-Suyuthi di dalam al-La’ali al-Mashnu‘ah melemahkan semua periwayatan tersebut dengan diperkuat penjelasan dari Ibn Hajar.

Terlepas dari perbedaan redaksi tersebut, hadis dengan redaksi “Kitab Allah dan keluargaku serta keturunanku” mamang kurang populer kecuali di kalangan ahli hadis. Barangkali ada kekhawatiran sebagian ulama dituduh sebagai Syi’ah sebagaimana disebutkan sebelumnya. Ini benar-benar terjadi pada Imam al-Hakim. Imam al-Hakim menjadi objek kritikan Imam al-Dzahabi karena meriwayatkan hadis serupa yang dikenal dengan Ghadir Qum yang berisi tentang keutamaan Ali bin Abu Thalib.

Namun sebenarnya kekhawatiran tersebut tidak perlu terjadi, karena perintah mengikuti atau mencintai keluarga dan keturunan Nabi Saw sudah ada sebelum terjadi perpecahan Sunni dan Syiah. Artinya, cinta terhadap haba’ib bukanlah ajaran Syi’ah saja, tetapi juga terdapat di kalangan Sunni sejak zaman salaf. Dalam hal ini, Imam Ibn ‘Asakir meriwayatkan kisah Zaid bin Tsabit yang hendak mengambil kendaraannya setelah salat jenazah.

Lalu Ibn ‘Abbas bergegas membawakan kendaraan tersebut kepada Zaid bin Tsabit sebagai tanda penghormatan kepada ulama sahabat. Lalu Zaid bin Tsabit berkata: “Wahai anak paman Nabi Saw, menjauhlah (jangan lakukan itu)”. Tetapi, Ibn ‘Abbas tetap melakukannya sembari berkata: “Beginilah kami diperintahkan untuk menghormati ulama dan tokoh besar kami”. Zaid bin Tsabit pun membalas dengan meminta Ibn ‘Abbas mengulurkan tangannya, lalu ia mencium tangan anak paman Nabi Saw tersebut. Ibn ‘Abbas menjadi terkejut. Lalu Zaid bin Tsabit menimpali dengan berkata: “Beginilah kami diperintahkan menghormati keluarga Nabi Saw”

Sikap tersebut wajar karena Zaid bin Tsabit menyadari bahwa Ibn ‘Abbas adalah salah satu ahli bait. Selain itu juga terdapat hadis-hadis yang menganjurkan salawat untuk keturunan Nabi Saw. ini terlihat dari hadis berikut:

ولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ

Katakanlah: Ya Allah berilah salawat atas Nabi Muhammad, istri-istrinya, keturunanmu sebagaimana Engkau bersalawat atas Nabi Ibrahim. Berkahilah Nabi Muhammad, istri-istrinya, dan keturunannya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, mengikuti dan mencintai para haba’ib yang berpegang kepada Kitab Allah dan Sunnah Nabi Saw tidak lantas menyebabkan seseorang menjadi Syi’ah, tetapi hal tersebut adalah salah satu pengamalan Sunnah Nabi

  اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وذريته وصحبه ومن تبعه إلى يوم المعاد…

Share

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue