Salam adalah rukun penutup dalam ibadah shalat. Pernahkah kita bertanya-tanya kepada siapa sebenarnya salam ini ditujukan? Berikut ini adalah penjelasan tentang gerakan, bacaan dan sasaran ucapan salam di dalam shalat.
Salah satu di antara rukun shalat adalah mengucapkan salam pertama. Salam menjadi penutup ibadah shalat dan menghalalkan perbuatan mubah yang sebelumnya haram selama mendirikan shalat, seperti makan dan berbicara. Adapun mengucapkan salam kedua hukumnya sunnah menurut jumhur ulama fikih.
Gerakan dan Bacaan Salam di Akhir Shalat
Bacaan salam biasanya bersamaan dengan gerakan menoleh ke kanan dan ke kiri mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah Saw. Sahabat Ibn Mas’ud ra. meriwayatkannya dalam hadis berikut:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ ” السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ” . حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ الأَيْمَنِ وَعَنْ يَسَارِهِ ” السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ ” . حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ الأَيْسَرِ
Rasulullah Saw. mengucapkan salam ke arah kanannya dengan kalimat “Assalamu ‘alaykum warahmatullah” hingga terlihat putihnya pipi kanan beliau, lalu mengucapkan salam ke kiri dengan kalimat “Assalamu ‘alaykum warahmatullah”, hingga terlihat putinya pipi kiri beliau (HR. Al-Nasa’i no. 1325).
Dari hadis di atas, kita mendapat petunjuk bahwa Rasulullah Saw. mengucapkan salam di akhir shalat yang berbunyi “Assalamu ‘alaykum warahmatullah.” Saat membaca salam seseorang hendaknya berusaha menoleh maksimal ke arah kanan, lalu ke arah kiri, kira-kira hingga sisi pipinya terlihat oleh orang yang berada di belakangnya.
Salam di Akhir Shalat untuk Siapa?
Bacaan salam umumnya diucapkan sebagai doa untuk orang lain, seperti lawan bicara atau audiens. Ada juga pensyariatan membaca salam untuk diri sendiri, seperti mengucapkan salam saat memasuki rumah kosong. Pada intinya, setiap salam selalu ditujukan kepada suatu pihak, karena dia adalah doa keselamatan yang dipanjatkan kepada Allah Swt.
Pertanyaannya adalah, ucapan salam di akhir shalat ini ditujukan kepada siapa?
Ternyata jawabannya telah ada di dalam hadis Nabi Muhammad Saw. Imam Al-Tirmidzi meriwayatkan di dalam kitab Sunan al-Tirmidzi Sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib ra. berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِالتَّسْلِيمِ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُؤْمِنِينَ
Rasulullah Saw. melaksanakan shalat sunnah qabliyah Ashar sebanyak empat rakaat yang dipisahkan di antaranya (tiap dua rakaat) dengan salam kepada malaikat muqarrabin dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan muslim dan mukmin (HR. Al-Tirmidzi no. 439).
Walaupun hadis ini adalah perkataan Sahabat ‘Ali, penjelasan mengenai salam ini tidak mungkin berasal dari ijtihad, dan para sahabat tidak mungkin berdusta atas nama Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu, informasi ini bisa dipastikan valid.
Dalam riwayat lainnya, Sahabat Samurah ra. berkata:
أَمَرَنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَرُدَّ عَلَى الإِمَامِ وَأَنْ نَتَحَابَّ وَأَنْ يُسَلِّمَ بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ
Nabi Muhammad Saw. memerintahkan kamu untuk menjawab salam imam dan agar kami saling mencintai dan saling mengucapkan salam (HR. Abu Dawud no. 1001).
Sebagian ulama hadis menilai sanad hadis ini dhaif, tetapi maknanya shahih menurut para ahli fikih, seperti Syekh Zainuddin Al-Malibari dan Imam Zakariya Al-Anshari.
Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa salam di akhir shalat ditujukan kepada:
- Malaikat Muqarrabin
- Orang-orang muslim dan mukmin
- Imam sebagai jawaban (dalam shalat berjamaah)
Hikmah Salam dalam Kehidupan
Ucapan salam adalah doa keselamatan. Mengucapkan salam adalah pembuka pintu mahabbah kepada saudara seiman. Sebab ini, Rasulullah Saw. menegaskan bahwa yang terbaik di antara dua orang mukmin yang sedang berselisih atau mendiamkan satu sama lain adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam. Dengan salah satunya mengucapkan salam, mudah-mudahan pintu saling mencintai antara keduanya kembali terbuka.
Jika kita benar-benar memaknai salam di dalam shalat dan meniatkannya untuk seluruh orang Islam, maka selayaknya hilanglah rasa benci kepada seluruh saudara seiman. Tidak terbatas apakah orang mukmin itu tengah berhubungan baik dengan kita atau tidak. Satu shalat seharusnya sudah cukup untuk menyelesaikan permusuhan di antara keduanya, karena tidak ada pembenci yang saling mendoakan keselamatan.
Allahu a’lam.


