Pertanyaan:
Saya pernah membaca hadis bahwa Rasulullah ﷺ berpuasa satu bulan penuh di bulan Sya’ban, apakah riwayat ini benar?
Jawaban:
Puasa sunnah di bulan Sya’ban termasuk jenis puasa yang dianjurkan. Beberapa riwayat menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.
Ada dua versi riwayat yang menyebutkan kebiasaan puasa Rasulullah ﷺ di bulan tersebut. Riwayat Pertama, bersumber dari Sayyidah Aisyah ra.:
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
(Rasulullah ﷺ) berpuasa di bulan Sya’ban diseluruh harinya (HR. Bukhari no. 1970).
Kedua, riwayat lain yang juga bersumber dari Sayyidah Aisyah:
كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً
(Rasulullah ﷺ) berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban kecuali sedikit (HR. Ibnu Majah no. 1710).
Ulama berbeda pandangan mengenai penyatuan kedua riwayat ini. Syekh Mulla Ali Al-Qari menjelaskan bahwa penggunaan kata “kulluhu” pada hadis pertama tidak bermakna seluruh, tetapi sebagian besar. Beliau berpendapat, “Rasulullah ﷺ tidak berpuasa di bulan Sya’ban di sebagian kecil hari-harinya, sehingga beliau terlihat seolah-olah berpuasa sebulan penuh.”
Adapun Sebagian ulama lain berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ berpuasa sebulan penuh di bulan Sya’ban sebelum beliau hijrah ke Madinah. Sedangkan setelah hijrah, beliau tetap berpuasa, tetapi tidak satu bulan penuh.
Di sisi lain, riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ berpuasa Sya’ban satu bulan penuh tidak sesuai dengan hadis berikut:
وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ
Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan (HR. Muslim no. 1156).
Di samping itu, ada riwayat lain yang melarang puasa di yaum asy-syak, yaitu hari yang diragukan statusnya sebagai bagian dari bulan Sya’ban atau Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa di satu atau dua hari sebelumnya, kecuali untuk seseorang yang berpuasa dengan niat tertentu, maka ia boleh berpuasa (HR. Muslim no. 1082).
Memahami hadis di atas, mazhab Syafii mengharamkan berpuasa sunnah di hari syak, sebagaimana penuturan Imam Khatib As-Syirbini.
Kesimpulan
Puasa sunnah di bulan Sya’ban sangat dianjurkan sebagai latihan menuju ibadah wajib puasa Ramadhan. Berkaitan dengan puasa Sya’ban satu bulan penuh, Mazhab Syafii melarang berpuasa di hari syak tanpa ada kewajiban tertentu, seperti puasa qadha atau nazar.
Dalam berpuasa sunnah, kita boleh melakukannya sebanyak mungkin sesuai kemampuan, sebagaimana pesan Rasulullah ﷺ:
خُذُوا مِنَ الْعَمَلِ مَا تُطِيقُونَ
Lakukanlah amalan-amalan sunnah sesuai kemampuan kalian (HR. Bukhari no. 1970).
Wallahu a’lam bi ash-shawab.


