Tulisan ini lahir dari sebuah pengakuan, bahwa cinta kepada Allah bukanlah perkara klaim, melainkan perjalanan panjang yang penuh luka, jatuh, dan bangkit. Tulisan ini adalah refleksi cinta Sayyidah Rabi’ah al-‘Adawiyah, seorang perempuan suci yang menjadikan mahabbah sebagai napas hidupnya dan pada kegelisahan seorang pendosa yang masih belajar menyebut nama Tuhan dengan jujur.
Banyak hamba merasa telah mencintai Tuhannya. Bahkan merasa aman, seolah telah memiliki tiket pulang ke pangkuan Ilahi Rabbi. Namun jalan menuju Allah tidak sesederhana perasaan. Ia bukan lintasan lurus tanpa rintangan. Ada bekal yang harus disiapkan, ada tangga yang harus dinaiki, dan ada diri yang harus “dihancurkan” terlebih dahulu.
Dalam hikayat para kekasih Allah, nama Sayyidah Rabi’ah al-‘Adawiyah selalu disebut dengan gemetar. Ia masyhur bukan karena ilmunya semata, tetapi karena cinta. Dalam syairnya yang masyhur, beliau bermunajat: “Ya Allah, jika Engkau takdirkan dunia untukku, berikanlah ia kepada orang-orang kafir.
Dan jika Engkau takdirkan akhirat untukku, berikanlah ia kepada orang-orang mukmin.
Adapun aku, aku tidak menginginkan apa pun selain Engkau.”
Inilah cinta yang tidak meminta surga, tidak takut neraka. Cinta yang berdiri telanjang di hadapan Sang Kekasih.
Tangga-tangga Mahabbah
Dalam salah satu kajian, Abuya Arrazy Hasyim menjelaskan sebuah rahasia besar dalam mahabbah, “tidak mungkin seorang hamba mampu mencinta jika Allah tidak mencintainya lebih dahulu. Tidak mungkin rasa ketuhanan tumbuh jika Allah tidak meminjamkan rasa itu ke dalam hati. Dan bukan diri kita yang sejatinya Allah cintai, melainkan Nur Abaty Rasulullahﷺ yang Allah pandang dalam diri kita.”
Sebagaimana firman-Nya:
يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓۙ
“Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya.” (QS. Al-Mā’idah: 54)
Cinta selalu bermula dari-Nya, lalu kembali kepada-Nya. Namun, jangan tergesa-gesa mengaku telah sampai. Tingkatan mahabbah bukanlah hadiah instan. Ia adalah jalan bertangga. Para masyayikh mengajarkan bahwa seorang murid tidak melompat langsung menuju mahabbatullah. Ada adab perjalanan yang harus kita tempuh: mahabbatusy-syaikh, lalu mahabbatur-rasul, barulah mahabbatullah.
Seorang hamba tidak berjalan sendirian. Guru membimbing menuju Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ yang menghantarkan menuju Allah. Sebagaimana kalam Imam Junaid: “Jalan ini tertutup, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ.”
Di zaman sekarang, kata “cinta” sering terdengar hampa. Terlalu mudah diucapkan, terlalu murah untuk diklaim. Padahal cinta sejati bukan perasaan. Ia adalah amanah yang berat. Tanpa Allah menitipkannya melalui para kekasih-Nya, mustahil kita menemukannya sendiri.
Para guru di RNH pernah berpesan dengan kalam yang sederhana namun menghunjam:
- Cinta itu taṣdīq: pembenaran total.
- Cinta itu taslīm: kepasrahan tanpa syarat.
- Cinta itu istiqāmah: setia dalam jatuh dan bangun.
- Cinta itu mujāhadah: perjuangan melawan diri sendiri.
Lalu, yang selama ini kita sebut cinta itu yang mana?
Tidaklah pantas seorang hamba yang hina mengaku mencinta, kecuali ia diikutsertakan walau sekadar menjadi bayangan dalam cinta para kekasih Allah. Alangkah buruk diri ini, yang lebih sering menuntut daripada tunduk. Maka, di penghujung tahun ini, biarlah kita berhenti sejenak. Bukan untuk menghitung pencapaian dunia, melainkan untuk menundukkan kepala dan bertanya dengan jujur
Apa resolusi cinta kita untuk tahun 2026?
Masihkah kita ingin mencinta Allah dengan sisa-sisa diri, atau mulai berani menyerahkan diri sepenuhnya walau sebagai pendosa?









