Imam Abdul Wahhab asy-Sya’rani: Representasi Faqih nan Sufi

Oleh Annisa Ramadiniah

Jamaah Ribath Tangerang Selatan

Cetak
Makam Imam Asy-Sya’rani

Imam Sya’rani, seorang ulama besar dan mursyid tarekat yang ilmunya tak hanya menembus batas pikiran, tetapi juga menyentuh kedalaman qalbu. Dalam perjalanan panjangnya, beliau tidak hanya dikenal sebagai ahli ilmu, tetapi juga pembimbing jiwa yang menuntun banyak murid menuju makrifatullah.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan kegelisahan spiritual umat, kisah dan ajaran Imam Sya’rani menjadi telaga sejuk. Beliau mengingatkan kita kembali akan pentingnya keseimbangan antara ilmu dan amal, antara syariat dan hakikat. Melalui tulisan ini, penulis berusaha menyajikan gambaran kehidupan beliau, mulai dari masa kecil, pendidikan, perjalanan ruhani, hingga warisan hikmah yang beliau tinggalkan bagi generasi setelahnya.

Masa Kecil dan Tumbuhnya Cahaya Ilmu (5-10 Tahun)

Imam Sya’rani lahir dengan nama Abdul Wahhab, ibn Ahmad ibn Ali ibn Ahmad ibn Muhammad al-Sya’rani al-Anshari al-Khalwati. Beliau lahir di Qalqasyandah, sebuah desa di Mesir pada tahun 898H/1493M.

Abdul Wahhab tumbuh di keluarga sederhana yang terkenal taat beragama. Imam Sya’rani kecil sudah memperlihatkan kecerdasan sekaligus semangat belajar yang luar biasa. Keluarga Imam Sya’rani juga sangat memperhatikan pendidikannya, sehingga Imam Sya’rani berhasil menghafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun.

Selain belajar Al-Qur’an, kedua orang tua Imam Sya’rani telah mengajarkannya adab dan akhlak seperti kejujuran, kesabaran, dan sopan santun. Setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an, ‘Abdul Wahhab pindah ke Kairo melanjutkan studinya.

Penuntut Ilmu Ulung (10-17 tahun)

Menginjak usia 10 tahun, Imam Sya’rani melanjutkan pendidikannya di Kairo. Di sinilah beliau bertemu dengan banyak ulama yang mematangkan pola pikir dan batinnya.

Pada usia 12 hingga 13 tahun, Imam Sya’rani belajar fikih mazhab Syafii Syekh Zakariyya Al-Anshari. Selain belajar fikih, Imam Sya’rani juga sudah mempelajari ilmu hadis, sanad dan matan kepada ulama di masanya. Kecerdasan Imam Sya’rani membuatnya dapat mengajari teman-teman sebayanya.

Pertemuan dengan Sang Mursyid (18-25 tahun)

Imam Sya’rani memulai perjalanan spiritual di bawah bimbingan gurunya di usia 18 tahun. Ia bertemu dengan guru spiritualnya, Imam ‘Ali Al-Khawwash. Beliau adalah seorang yang ummi (tidak menulis) tetapi dianugerahi segudang kema’rifatan kepada Allah. Imam ‘Ali Al-Khawwash lah yang memperkenalkan Imam Sya’rani kepada tasawuf dan membimbingnya dalam proses menyucikan qalbu, melatih keikhlasan, dan memahami hakikat ibadah.

Dalam proses perjalanan spiritualnya, Imam ‘Ali Al-Khawwash menyuruh Imam Sya’rani untuk menjual seluruh risalah dan buku yang ia tulis dan menyedekahkan semua hasilnya kepada fakir miskin. Ujian ini tentu tidak mudah mengingat besarnya usaha yang telah dikerahkan untuk menulis karya tersebut dan tingginya harga naskah di masa itu. Namun, Imam Sya’rani mematuhi perintah gurunya tanpa banyak mndebat atau mengeluh.

Dalam rentang usia ini, Imam Sya’rani mulai kembali menulis banyak karya terkait tasawuf dan adab. Beliau juga mendalami tafsir dan ushul fikih untuk memperdalam pemahamannya terrhadap syariat.

Menebar Cahaya dalam Karya dan Tarbiyah (30-wafat)

Menginjak usia 30 tahun, Imam Sya’rani sudah menjadi ulama besar Mesir yang mengajar di berbagai bidang ilmu. Di antaranya adalah fikih, hadis, tafsir, dan tasawuf. Imam Sya’rani menulis salah stau karyanya di bidang fikih yang menggabungkan keempat mashab berjudul al-Mizan al-Kubra.

Selain mengajar, Imam Sya’rani juga berperan dalam pembinaan moral dan spiriual masyarkat melalui tulisan dan haalqan ilmu yang beliau ampu.

Demikianlah biografi singkat mengenai kehidupan imam sya’roni dan awal tumbuhnya cahaya ilmu. dalam kesederhanaan rumah dan lingkungan yang penuh keberkahan, beliau tumbuh dengan bimbingan keluarga yang mencintai ilmu dan menghidupkan adab. Sejak usia belia, tanda-tanda kecintaan terhadap pengetahuan dan ketekunan beribadah sudah tampak jelas, seolah Allah telah menyiapkan hati beliau untuk menjadi wadah hikmah dan rahmat bagi banyak jiwa. Ilmu tidak hanya melekat pada akalnya, tetapi juga menyatu dengan hatinya, menjadikannya pribadi yang lembut, rendah hati, dan penuh kasih dalam menuntun sesama. Pada bagian selanjutnya penulis akan menyajikan mengenai perjalan ruhani, nama guru-guru ruhani kemudian perangai dan kepribadian beliau dalam bermasyarakat.

Mau berkontribusi ?

Apa saja bentuk karya yang bisa dikirimkan?

Sahabath bisa berkontribusi dengan mengirimkan tulisan berupa: artikel, ringkasan kajian, puisi atau lainnya (mengikuti konfirmasi lanjutan dari redaksi)

  1. Kontributor mengirimkan karya dalam bentuk Microsoft Word / Link Google Doc (pastikan link dapat dibuka) ke email maktabah.nouraniyyah@gmail.com atau no. whatsapp 089508082256
  2. Kontirbutor menyertakan data berikut:
    – Nama kontributor
    – Alamat
    – kontak
  3. Kontirbutor mendapat konfirmasi jika karya diterbitkan

Bagikan

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Oleh: Pencari

Oleh: Sirva Zarana

Oleh: Rif’atul Mahmudah

Oleh: Edwardo Yamad

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue