Pernahkah kamu memikirkan suatu kejadian masa lalu secara berlarut-larut? atau kamu memikirkan kemungkinan-kemungkinan negatif di masa depan karena melihat keadaanmu saat ini? Atau pernahkah kamu merasa sangat cemas dan takut menghadapi hari esok?
Kekalutan-kekalutan yang kamu alami itu barangkali sudah termasuk overthinking dan overfeeling. Keduanya adalah penyakit, dan setiap penyakit pasti ada obatnya. Kita akan membahas cara mengatasi overthinking dari sudut pandang Islam.
Mengenal Overthinking
Overthinking berasal dari Bahasa Inggris berarti berpikir berlebihan. Pada dasarnya berpikir adalah pekerjaan yang sangat esensial dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, kita sering mendengar kalimat “al-Insan hayawan al-natiq” (manusia adalah hewan yang berpikir/berbicara). Berpikir adalah proses tak terpisahkan dari diri manusia.
Mengutip dari Mattia Ponzo dalam bukunya How to Stop Overthink, Overthinking adalah situasi di mana pikiran fokus memikirkan sesuatu secara berulang-ulang tanpa bisa dikontrol.
Fokus overthinking biasanya adalah kepada kekhawatiran, kesalahan di masa lalu, atau ketakutan akan kejadian di masa depan. Biasanya pikiran hanya berputar-putar menganalisa permasalahan itu tanpa berakhir pada suatu kesimpulan.
Overthinking biasanya memberikan pengaruh signifikan kepada emosi. Orang yang mengalami overthinking biasanya tak lepas dari rasa cemas, gelisah, panik, rasa bersalah, dan rasa-rasa negatif lainnya yang menghantam bersamaan. Fenomena ini bisa disebut overfeeling. Dalam psikologi, overfeeling adalah pengalaman ketika seseorang merasakan pelbagai emosi negatif dalam satu waktu.
Dalam Islam, overthinking sering dikaitkan dengan was-was setan. Namun, itu hanyalah salah satu faktor. Jika ditelisik lagi, overthinking lebih sering dimulai dari nafs (jiwa/emosi). Perasaan negatif mempengaruhi pikiran sehingga muncullah gejala overthinking,
Misalnya, rasa tidak puas atas kejadian di masa lalu mendorong pikiran mengulang-ulang kesalahan yang dilakukan tanpa refleksi untuk memperbaikinya di kesempatan mendatang.
3 Kategori Overthinking
Ada tiga kategori overthinking berdasarkan objeknya:
- Rumination, yaitu memikirkan kejadian tidak mengenakkan di masa lalu. Tipe ini biasanya menghadirkan rasa bersalah, penyesalan berlebihan, dan kata-kata “Coba waktu itu saya begini… begitu…,” dan sebagainya.
- Future tripping, yaitu pikiran negatif berlebihan karena memikirkan ketidakpastian masa depan. Biasanya, overthinking jenis ini memunculkan rasa takut berlebihan untuk melakukan sesuatu karena takut menghadapi kegagalan atau bencana yang belum tentu terjadi.
- Overanalyzing, yaitu kondisi di mana seseorang memikirkan sesuatu terlalu dalam sehingga memasuki ranah detail yang tidak relevan. Overthinking jenis ini menjadi masalah saat pikiran itu membuatnya menunda aksi, mencari validasi, atau kehilangan kepercayaan diri dalam membuat keputusan.
Penyebab Overthinking dan Cara Mengatasinya dalam Islam
Sebagaimana kebanyakan penyakit fisik, penyakit jiwa dan hati pun ada obatnya. Allah sangat memperhatikan setiap aspek diri hamba-Nya, mulai dari fisik, nafs (jiwa), akal, hati, hingga ruhnya. Sebagai sebuah penyakit yang dimulai dari nafs (jiwa), mengatasi overthinking harus dimulai dari mengobati penyakit nafsiyah yang memicunya terlebih dahulu.
Menanggulangi Jeratan Masa Lalu: Rida dan Taubat
Ingatan akan kejadian masa lalu yang berulang-ulang dipicu di antaranya oleh penyesalan. Jika kita merujuk kepada ilmu akidah, segala sesuatu yang telah terjadi adalah takdir Allah Swt.
Oleh karena itu, tidak semestinya seorang hamba terus-menerus menyesali masa lalu dengan memenjarakan diri dalam rasa bersalah atau menyalahkan orang lain. Karena itu adalah bentuk protes kepada takdir.
Rasulullah Saw. bersabda:
وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا . وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Dan apabila kamu ditimpa sesuatu (yang tidak kamu sukai), maka janganlah katakan ‘Andai aku dulu melakukan ini…. itu…’, tetapi katakanlah ‘Allah telah menakdirkan ini, dan Dia melakukan apa pun sesuai kehendak-Nya. Karena, sungguh ‘law’ (berandai-andai) itu adalah pembuka setan untuk berbuat sesuatu (kepadamu) (HR. Muslim).
Rasulullah Saw., tidak memperkenankan umatnya terjebak dalam kesalahan masa lalu. Beliau mengajak untuk meridhai apa yang Allah telah tetapkan. Karena masa lalu bukan untuk disesali, tetapi untuk disyukuri, diikhlaskan, dan diambil pelajaran.
Penyesalan adalah salah satu syarat utama bertaubat. Penyesalan dalam bertaubat adalah penyesalan yang menghadirkan niat memohon pengampunan dan tekad untuk tidak mengulangi di masa yang akan datang.
Dengan demikian, penyesalan harus segera diikuti dengan memohon ampun kepada Allah. Setelah bertaubat, tetaplah melanjutkan hidup dengan tekad tidak jatuh ke lubang yang sama, bukan dengan tidak melangkah sama sekali dan hanya terpaku pada kesalahan tersebut.
Mengatasi Kekhawatiran dengan Tawakal
Salah satu sumber overthinking adalah kekhawatiran tak berdasar akan masa depan. Rasa khawatir, cemas, dan takut memang tidak mudah dihindari. Pada porsi yang tepat, kekhawatiran mendorong persiapan yang matang dan manajemen resiko. Namun, kekhawatiran berlebihan dapat menyebabkan penundaan dan kelelahan mental.
Obat dari rasa cemas dan khawatir adalah bertawakal. Tawakal adalah sikap hati berserah penuh kepada Allah Swt., di mana seorang hamba menyadari bahwa dirinya tidak punya daya melakukan atau mengatur sesuatu.
Bertawakkal tidak hanya dilakukan setelah berusaha maksimal, tetapi menjadi sikap hati yang menopang tindakan sejak awal. Allah berfirman:
فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Maka, apabila kamu telah bertekad, bertawakallah kepada Allah, Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal (QS. Ali Imran [3]:159).
Pada ayat ini, Allah berfirman kepada Nabi Muhammad Saw., untuk bertawakal langsung setelah bertekad, tercermin dari penggunaan kata “fa” yang menghubungkan dua kejadian atau pekerjaan yang terjadi tanpa jeda.
Menanggulangi Was-was dengan Membangun Koneksi kepada Allah
Sumber overthinking lainnya adalah was-was bisikan setan ke dalam jiwa manusia hingga mempengaruhi hatinya. Sebagaimana firman Allah:
مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ . ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ
Dari keburukan was-was setan, yang memasukkan was-was ke dalam hati manusia (QS. An-Nas (114): 4-5).
Was-was dapat mempengaruhi jiwa, akal, bahkan hati manusia. Overthinking sangat mudah menjangkiti pikiran dan hati yang kosong. Saat pikiran kosong, was-was setan merasuki jiwa dan mempengaruhi pikiran, sehingga pikiran-pikiran negatif tidak terhindarkan.
Begitu pula dengan hati yang kosong dari zikir kepada Allah. Oleh karena itu, overthinking dapat dihilangkan dengan senantiasa menjaga qalbu dalam kondisi berzikir, dan pikiran dalam kondisi tafakkur.
Menjaga qalbu senantiasa berzikir dapat menolak was-was setan, karena zikir dapat menghadirkan ketenangan hati, sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan overthinking. Allah berfirman
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Orang-orang mukmin dan yang tenang hati-hati mereka dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Di antara momen berzikir yang Allah wajibkan kepada hamba-Nya adalah shalat fardu. Di samping sebagai cara menghambakan diri, shalat adalah media menenangkan hati dan pikiran dari kesibukan duniawi yang melelahkan. Rasulullah Saw., sendiri pernah meminta Bilal untuk mengumandangkan iqamah dengan berkata:
يَا بِلاَلُ أَقِمِ الصَّلاَةَ أَرِحْنَا بِهَا
Wahai Bilal, kumandangkanlah Iqamah, dan rehatkanlah kami dengannya (shalat) (HR. Abu Dawud).
Maka dari itu, hendaknya kita memulai shalat dengan perasaan bahagia, sebagaimana senangnya seseorang ketika mendapat waktu untuk beristirahat setelah bekerja tanpa henti.
ZIkir Sebagai Meditasi Islami
Jika kita pernah mendengar bahwa salah satu obat overthinking adalah bermeditasi, maka zikir adalah meditasi islami yang jauh lebih bernilai. Mengapa demikian?
Saat bermeditasi, seseorang biasanya berusaha mengosongkan pikiran. Namun, zikir justru amalan yang mengisi. Saat berzikir, seseorang berusaha mengajak seluruh dirinya, fisik, jiwa, pikiran, dan hati untuk fokus menyebut nama Allah Swt. dan mengingatnya. Dengan berzikir, fokus pikiran beralih dari objek-objek negatif kepada mengingat Allah. Jadi, bukan hanya bermeditasi, tetapi juga sarat nilai ‘ubudiyah.
Sahabath, overthinking bukanlah dosa, tetapi penyakit yang ada obatnya. Pertama, kita perlu mengenal akar sebabnya. Kedua, mencari solusinya melalui ajaran agama kita. Mempraktikkannya memang tidak mudah, tetapi selama ada tekad, insyaAllah selalu ada jalan. Jangan ragu untuk meminta bantuan ahli jika kita merasa sulit untuk menanganinya.
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Amalkan solusi-solusi di atas sebelum overthinking menghampiri. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari hal-hal yang menjauhkan dari-Nya. Aamiin.

