17 Desember 2025 03:48

Menyikapi Lintasan Batin: Adab, Sumber, dan Panduan Rasulullah ﷺ

Oleh Rif'atul Mahmudah

Jamaah Ribath Agam

Cetak
lustrasi seorang murid sufi duduk dalam perenungan malam, dikelilingi cahaya samar sebagai simbol lintasan batin dan gelombang spiritual.

Lintasan batin adalah gelombang kesadaran dalam diri. Lintasan batin senantiasa muncul pada diri seorang manusia. Sumbernya bisa bermacam-macam. Terkadang, lintasan batin mengandung dorongan untuk melakukan sesuatu, entah dalam bentuk kebajikan maupun kejahatan. Bagaimana menyikapi lintasan batin? Apa Sabda Rasulullah ﷺ mengenai ini?

Dalam kajian kitab al-Anwar al-Qudsiyyah, Buya Ashfi Bagindo Pakiah menjelaskan bahwa lintasan batin dalam istilah Tasawuf disebut dengan khathir -jamak: khawathir. Semua khathir berasal dari salah satu dari 5 sumber berikut:

  • Jiwa (nafs)
  • Pikiran (‘aql)
  • Hati (qalb)
  • Aspek kemalaikatan (malaki)
  • Aspek Ketuhanan (Rabbani)
  • Was-was setan (syaithani)

Khathir nafsi biasanya mendorong diri untuk melakukan sesuatu yang memuaskan nafsu atau jiwa. Khathir ‘aqli bisa berbuah ide-ide dan inovasi. Adapun khathir qalbi kadang mendorong munculnya mahabbah atau rasa cinta. Lintasan batin muncul sesuai dengan karakter sumbernya masing-masing.

Adab para Sahabat Saat Mendapatkan Lintasan Batin

Lintasan batin bukanlah perkara sepele. Kenyataannya, sesuatu yang terbesit di dalam batin seseorang dapat menjadi indikator spiritualitasnya. Perhatian khusus terhadap lintasan batin dalam agama sudah terlihat sejak periode sahabat Nabi ﷺ. Salah satu riwayat dari Abu Hurairah ra. menceritakan bahwa suatu kali, beberapa orang sahabat ra. datang kepada Rasulullah ﷺ untuk berkonsultasi.

Salah seorang dari mereka kemudian berkata:

إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ

Kami mendapati sesuatu di dalam diri kami yang berat bagi kami untuk membicarakannya wahai Rasulullah.

Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ berkata:

وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ

Apa kalian sudah mendapatkannya?

Para sahabat itu menjawab:

نَعَمْ

Benar, wahai Rasulullah.

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:

ذَاكَ صَرِيحُ الإِيمَانِ

Itulah kesejatian iman. (HR. Muslim)

Hadis di atas memberikan kepada kita beberapa faidah:

 1. Selayaknya Murid Tidak Berpaling dari Majelis Guru

Hadis di atas menceritakan tentang kedatangan beberapa sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan bahwa mereka senantiasa berusaha bermajelis dengan Rasulullah ﷺ, walaupun mereka adalah para Sahabat, generasi terbaik sepanjang masa. Kita dapat mengambil pelajaran, bahwa seorang murid yang tulus tidak selayaknya meninggalkan majelis gurunya, walaupun maqam rohaninya berada di atas sang guru.

Tindakan para sahabat ini juga memotivasi kita untuk senantiasa ber-mulazamah dengan majelis guru, walaupun ia tinggal di tempat yang jauh dari majelis guru. Tetaplah datanglah ke majelis guru, walaupun tinggal di tempat yang jauh.

2. Kesempurnaan Bimbingan Rasulullah ﷺ kepada Para Sahabat

Lintasan batin dapat menjadi indikator spiritualitas seorang salik. Pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat pada hadis di atas menandakan tingginya spiritualitas mereka. Kaidahnya adalah, pertanyaan tentang sesuatu di dalam diri (batin) adalah tanda ketinggian spiritual, baik yang bersifat wujdan maupun futuh.

Sahabat bertanya tentang wujdan, tergambar dalam kata “نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا”. Imam Sya’rani menyampaikan bahwa itu adalah pertanyaan tentang khathir Rabbani, jenis lintasan batin tertinggi yang berasal dari aspek Ketuhanan Allah Swt. Tingginya level spiritualitas mereka adalah bukti keberhasilan didikan Rasulullah ﷺ kepada mereka, di mana mereka tidak hanya diajarkan beribadah zhahir, tetapi juga membangun kepekaan batin.

3. Asrar dan Ma’rifat Bukanlah Perkara Baru

Khathir Rabbani adalah salah satu sumber kemakrifatan. Ini menandakan bahwa kemakrifatan bukanlah perkara baru. Namun, bagaimana bisa kita menduga bahwa pertanyaan para sahabat adalah tentang kemakrifatan?

Dalam hadis di atas, Sahabat mengatakan, “Kami mendapati sesuatu di dalam diri kami yang berat bagi kami untuk membicarakannya.” Perasaan berat yang dirasakan sahabat itu adalah tanda bahwa pertanyaan mereka bersifat rahasia (asrar) dan bermuatan kemakrifatan.

Sebagai generasi terbaik, para sahabat adalah orang yang sangat haus ilmu. Kecintaan mereka kepada ilmu membuat mereka tidak malu menanyakan apa pun kepada Rasulullah ﷺ, terutama jika itu berkaitan dengan akidah, fikih dan amalan keseharian. Para sahabat perempuan dari kalangan Anshar bahkan tidak malu saat menanyakan cara bersuci setelah haid langsung kepada Rasulullah ﷺ, yang saat itu masih dianggap tabu oleh masyarakat Arab untuk dibahas. Para sahabat juga tidak malu mengakui kesalahan mereka di hadapan Rasulullah ﷺ.

Namun demikian, mereka merasa berat untuk membicarakan wujdan di hadapan Rasulullah ﷺ. Rasa berat itu bukan lahir dari rasa malu atau kurangnya semangat menggali pengetahuan, melainkan rasa hormat mereka kepada rahasia yang Allah Swt. titipkan kepada diri mereka.

Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa kemakrifatan bukan perkara baru maupun tabu. Kemakrifatan telah ada sejak periode risalah. Pada dasarnya, mempertanyakan keberadaan ma’rifat di zaman Nabi ﷺ termasuk su’ul adab (perilaku tak beradab) terhadap Baginda Nabi ﷺ., karena beliau lah lumbung kemarifatan itu. Rasulullah ﷺ bahkan adalah objek kemakrifatan itu sendiri.

4. Adab menyampaikan Lintasan Batin Kepada Guru

Ketika merasakan khathir/lintasan atin, seorang murid tidak boleh langsung mengikuti atau menolak substansi khathir tersebut. Yang harus ia lakukan adalah menyampaikannya kepada guru. Mengapa demikian?

Adakalanya khathir bersifat menipu. Sepintas terlihat baik, padahal mengandung keburukan terselubung. Misalnya, seorang murid mendapatkan khathir untuk menyembunyikan amalannya agar keikhlasannya tidak rusak. Sekilas, khathir ini terlihat baik karena menganjurkan untuk menjaga keikhlasan. Namun, khathir ini mengandung penyakit hati tersembunyi, yaitu mengakuisisi perbuatan Allah sebagai perbuatannya. Padahal amalan baik hamba sejatinya adalah perbuatan Allah kepada dirinya. Perbuatan Allah tidak akan tercemar, baik ketika dilihat manusia maupun tidak. Khathir seperti ini biasanya berasal dari nafs atau jiwa tabiat. Di sinilah peran guru untuk membaca jebakan-jebakan dalam khathir murid.

Dalam menyampaikan khathir, seorang murid harus mengikuti adab-adab berikut:

  • Tidak menyampaikan khathir terang-terangan kepada guru di tengah keramaian.

Khathir termasuk rahasia hamba dengan Allah. Mengumbar-umbar khathir merupakan sikap tidak menghargai rahasia Allah. Adab menyampaikan khathir jika tengah bersama-sama dengan orang lain adalah melalui tulisan atau isyarat qalbu ke qalbu.

  • Tidak menutup-nutupi sesuatu dari guru, baik yang mengganjal di qalbu maupun kejanggalan yang dirasakan.
  • Khathir yang dirasakan harus ditulis atau disampaikan kepada guru agar tidak mencederai qalbu.
  • Saat guru bertanya, murid hendaknya menjawab apa adanya dan tidak menebak-nebak reaksi gurunya untuk menyesuaikan jawaban.

5. Teladan Rasulullah ﷺ Menerima Konsultasi Sahabat

Rasulullah ﷺ adalah suri teladan paling sempurna dalam mendidik murid. Dari hadis di atas, setidaknya ada beberapa pelajaran yang dapat diambil:

  • Guru sebaiknya tidak mendesak murid untuk merincikan lintasan batinnya. 

Saat para sahabat mengakui adanya rasa berat untuk menyampaikan wujdan yang mereka rasakan, Rasulullah ﷺ tidak mendesak mereka untuk merincikannya. Beliau hanya bertanya, “Kalian sungguh sudah mendapatkannya?”. Rasulullah ﷺ langsung menyelami batin mereka dan mengetahui apa yang mereka dapati.

  • Guru tidak boleh membongkar rahasia murid walaupun sudah mengetahuinya.

Sebagai guru yang mendidik rohani murid, Allah memberikan fasilitas kepada guru untuk mengetahui kondisi batin muridnya. Namun demikian, adab mereka adalah tidak membeberkan apa yang mereka ketahui kepada siapa pun, termasuk kepada muridnya. Saat murid berkonsultasi kepada guru, maka guru akan bersikap seolah-olah baru mengetahuinya. Ini adalah sikap untuk memberikan kenyamanan kepada murid agar mau tetap berada di bawah bimbingan gurunya dan tidak merasa takut kepada gurunya.

Hal serupa juga terjadi ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa as., “Apakah yang ada di tangan kananmu itu wahai Musa?” Pertanyaan itu muncul bukan karena Allah tidak tahu, tetapi bentuk percakapan kasih sayang Allah kepada Nabi Musa as.

  • Setelah mendengar konsultasi dari murid, guru boleh memuji muridnya selama sang murid tidak dikhawatirkan jatuh dalam penyakit ‘ujub. Untuk mengatasi penyakit ini, guru harus menyertakan nasehat ketauhidan untuk muridnya.

Kesimpulan

Hadis di atas memberikan pemahaman kepada kita tentang cara menyikapi lintasan batin atau khathir yang hadir. Pertama, jangan langsung menerima atau menolak subtansi khathir yang dirasakan. Kedua, saat merasakan khathir hadir, hendaknya murid mencatat lalu menyampaikannya kepada guru. Ketiga, mengikuti adab-adab dalam menyampaikan lintasan batin sebagaimana yang telah dirincikan.

Semoga catatan ini bermanfaat. Wallahu a’lam.


Ini adalah catatan kajian kitab Al-Anwar Al-Qudsiyah. Sahabath dapat menyaksikan penjelasan langsung dari Buya Ashfi Bagindo Pakiah di sini.

Mau berkontribusi ?

Apa saja bentuk karya yang bisa dikirimkan?

Sahabath bisa berkontribusi dengan mengirimkan tulisan berupa: artikel, ringkasan kajian, puisi atau lainnya (mengikuti konfirmasi lanjutan dari redaksi)

  1. Kontributor mengirimkan karya dalam bentuk Microsoft Word / Link Google Doc (pastikan link dapat dibuka) ke email maktabah.nouraniyyah@gmail.com atau no. whatsapp 089508082256
  2. Kontirbutor menyertakan data berikut:
    – Nama kontributor
    – Alamat
    – kontak
  3. Kontirbutor mendapat konfirmasi jika karya diterbitkan

Bagikan

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Oleh: Abu Kayyis Al-Batawi

Oleh: Arif Suryanto

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue