Ramadhan telah memasuki fase puncaknya. Di malam-malam terakhir ini, masjid-masjid mulai kembali penuh sesak oleh insan yang memohon akan ampunan-Nya. Cahaya lampu berpendar hingga fajar, mengiringi lantunan doa dan sujud-sujud panjang para pemburu keberkahan. Tak lupa, dengan beberapa jepretan untuk mengkhabarkannya di sosial media. Kita semua berlomba mengetuk pintu langit, berharap menjadi hamba yang dipilih untuk mendapat kemuliaan Lailatul Qadar.
Namun, di tengah keriuhan ibadah yang bersifat personal itu, ada sebuah pertanyaan besar yang perlu kita ajukan pada diri sendiri: Apakah ibadah kita hanya sesempit ukuran sajadah itu?
Sering kali kita terjebak dalam dikotomi yang sempit. Kita menganggap bahwa berdekatan dengan Tuhan hanya bisa dilakukan melalui zikir, tilawah, dan i’tikaf di pojok masjid. Padahal, itu hanya sekian persen saja dari keseluruhan ibadah. Minusnya lagi jika sikap merasa “paling shaleh” muncul tak tertahankan. Kita dengan mudah memandang sebelah mata pada mereka yang tidak terlihat di masjid pada malam-malam akhir Ramadhan ini, atau bahkan sejak Ramadhan dimulai.
I’tikaf dan Tadarus Tak Terlihat
Padahal, bisa jadi “i’tikaf” mereka adalah bekerja lembur demi memastikan anak-anaknya bisa makan. Bisa jadi “tadarus” mereka adalah peluh yang menetes saat mencari nafkah halal agar keluarganya tidak jatuh dalam kefakiran. Di mata Allah, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga adalah jihad yang agung.
Seseorang yang tidak bisa berlama-lama di atas sajadah, baik karena harus melayani kepentingan orang banyak atau mencari penghidupan. Mereka bisa jadi memiliki derajat yang sama mulianya dengan mereka yang sujud di barisan terdepan.
Maka, biarlah Ramadhan kali ini tidak hanya menyisakan bekas sujud di dahi, tetapi juga bekas kepedulian di hati. Karena kesalehan yang sejati tidak akan pernah terpenjara di atas selembar sajadah yang sempit. Ibadah kita seharusnya menjadi jembatan, bukan dinding pemisah; yang membuat kita semakin peka terhadap lapar dan lelahnya sesama. Pun menyadari bahwa ridha Allah juga mengalir melalui peluh perjuangan mencari nafkah dan tangan yang ringan membantu sesama. Pada akhirnya, ukuran kemuliaan seorang hamba bukan hanya seberapa lama ia berdiam di pojok masjid, melainkan seberapa luas manfaat yang ia tebarkan bagi dunia di luar gerbang masjid.


