16 Desember 2025 23:27

Mahabbah dan Khidmah: Refleksi Perjalanan Salik dan Murid

Cetak
Mahabbah & Khidmah

Sejauh kaki melangkah, menyeberangi lautan, dari pulau ke pulau, menembus batas teritori, berpindah dari satu negeri ke negeri, pada diri yang nafsani hanyalah riyadhah mujahadah. Perjalanan taubat dan inabah. Rasa dan kondisi yang bercampur aduk, mulai dari ringan dan berat hingga senang dan susah, diramu dituangkan dan dihidangkan dalam satu kata, CINTA.

CINTA yang murni CINTA yang hakiki. Tidak tercampur oleh hasrat dan ambisi. Tidak tercemari oleh dunia maupun nafsu dalam diri. Hanya satu kata, CINTA atau MAHABBAH. Kata yang singkat begitu mudah diucap. Tetapi manusia tetaplah manusia. Seindah apapun ucapannya, belum tentu sama dengan apa yang ada di dalam qalbunya. Kata bisa berbohong, tapi hati mana bisa berdusta.

Pada diri yang ruhani, perjalanan yang membentang begitu luas nan panjang itu hanyalah KHIDMAH semata. KHIDMAH dalam menebar CINTA. Menebar kasih dan sayang-Nya. KHIDMAH adalah ekspresi pecinta yang karam dan tenggelam akan cinta kekasih-Nya. CINTA yang tidak lagi logis juga tidak egois. CINTA yang bukan hanya untuk dirinya, tetapi dibagi untuk sesama bahkan makhluk lainnya. CINTA yang tidak lagi tautan individual tetapi terhubung pada KHIDMAH sosial. KHIDMAH bukan tentang dan untuk dirinya, melainkan tentang cinta kekasih sejati-Nya, yang ditebar untuk umat manusia.

CINTA-nya begitu luas membentang, mengakar kuat sangat mendalam, termazhar dalam seluruh lingkup kehidupan. CINTA siapakah itu sebenarnya? Dari manakah itu datangnya? Ya Rahman Ya Rahim. Sang Nabi adalah pecinta sejati, Nabi Muhammad Nur Dzati Saw dari keruhanian yang qudsi. CINTA yang kita miliki adalah percikan dari cintanya yang suci nan abadi.

Dari cinta Sang Nabi Saw yang diutus untuk menebar rahmat ilahi. Dengan Rahman-Nya, ditebarlah cinta secara universal, membentang ke seluruh alam, menjangkau setiap makhluk ciptaan. Dengan Rahim-Nya, ditebarlah cinta secara spesial, untuk umatnya yang spesial dan sangat diistimewakan. CINTAnya yang begitu sangat luas tak terhingga, menembus ruang dan waktu, dari semasa hidupnya, menjelang ajalnya, hingga hari kebangkitan kelak, yang dicari hanyalah umatnya, Ummati Ummati Ummati….

Adakah setiap langkah perjalanan benar-benar karena penuh bakti? Jangan-jangan hanya jebakan ilusi. Benarkah perjalanan panjang itu karena CINTA? Jangan-jangan itu hanya manis di kata. Akui saja, wahai manusia pendosa, bahwa perjalananmu penuh dusta dan kebohongan yang hina.

Apalah artinya perjalanan nun jauh itu, bila yang dipandang hanya diri sendiri. Apalah artinya maqam-maqam maupun ahwal ruhani, mimpi-mimpi, rasa (dzauq) yang tajam, bila yang ditatap hanyalah dirinya. Mengatasnamakan nama-Nya tetapi takjub pada dirinya. Apalah arti itu semua? Untuk apa itu semua? Hanyalah sampah di jalan keruhanian. Dikira sekat semakin tersingkap ternyata semakin terhijab. Disangka semakin dekat nyatanya semakin jauh tersesat. Berselimut dibalik nama nabi-Nya untuk membesarkan nama dirinya. Inikah perjalanan sang diri jasmani yang ruhani itu?

Perjalanan panjang nun jauh itu, apapun pengalaman yang berlaku, semua sia-sia kalau masih ada yang dipandang selain diri-Nya. Tiada guna kalau tidak ada nur sang baginda di qalbunya. Geraknya karena af’al-Nya, karena kudrah dan iradahNya, mengapa masih tersisa ruang bagi kediriannya? Memandang diri, menatap aku dalam diri, dikira semua karena geraknya, daya dan upayanya. Ujung dari semuanya, CINTA maupun KHIDMAH, maupun segala geraknya, adalah TIADA. Tiada dirinya. Hangus. Musnah. Hancur sehancur-hancurnya. Lebur selebur-leburnya.

Sang Maha Suci, Nabi Nur Dzati, Ruh yang Qudsi, kekasih sejati. Jangan lagi pandang diri baik secara jasmani maupun ruhani. Benam leburkan semuanya, kepada-Nya, di dalam jalan kekasih-Nya. Adakah diri yang jasmani maupun ruhani ADA pada Dzat-Nya? TIADA, hanya Dia yang ADA. Adakah ruhani ini ADA, kalaulah benar ia telah kembali pada sumbernya? Adakah diri jasmani ini ADA, kalaulah ia kembali kepada asal Nur-Nya? Kita ini TIADA hanya Dia yang ADA. Maka jangan pernah merasa ADA pada diri yang sebenarnya TIADA.

Kalaulah diri tidak bisa lebur pad-Nya dan jalan kekasih sejati-Nya, maka leburkan diri pada jalan guru ruhani yang membimbing keruhanian diri untuk sampai padaNya dan kekasih sejati tercintaNya. Akan tiba pada waktunya, karena dihantar sang guru, engkau akan lebur padaNya dan kekasih tercinta-Nya.

Klang, Selangor, Malaysia.
Senin, 27 Oktober 2025

Share

Sign Up Newsletter

Dapatkan informasi, berita dan konten terbaru RNH hanya untuk Sahabth, di sini

Terkait

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue