Pertanyaan:
Buya, sebetulnya, saat Allah memberikan hidayah kepada hamba-Nya yang ghaflah (lalai), maksiat, pada hakikatnya, Allah yang memberi hidayah, atau hamba itulah yang mencarinya (hidayah)? Saya banyak mendengar para dai berkata, “Kalau mau dapat hidayah, kitalah yang harus mencarinya.” Di sisi lain, kalau kita mengatakan Allah yang memberi hidayah, orang jadi berpikir untuk lanjut bermaksiat, karena merasa Allah belum memberinya hidayah.
Jawaban (Buya Ashfi Bagindo Pakiah):
Manusia diberi kesadaran untuk berikhtiar dengan kemampuan yang diberikan Allah. Dalam ilmu akidah, ini adalah kasb atau ikhtiar. Kita memiliki kesadaran bahwa kita memilih untuk melakukan sesuatu.
Misalnya, saat seseorang memukul kita, kita memiliki keinginan untuk membalas pukulan itu. Padahal kita sangat tahu bahwa Allah lah yang membuat si pelaku berbuat. Tetapi kita secara tidak sadar meyakini ada orang itulah yang mengambil pilihan memukul kita. Artinya, Allah memberi manusia kesadaran untuk memilih tindakan yang ia lakukan.
Di sisi lain, Allah juga menunjukkan bahwa pilihan dan usaha itu tidak berpengaruh terhadap hasil. Contohnya, saat ada orang yang mengerahkan usaha yang sama dalam mencari rezeki, tetapi hasilnya tetap saja berbeda. Di sini Allah menunjukkan qudrah-Nya berada di atas segala kasb manusia.
Lalu apa peran kasb? Kasb adalah nilai plus penghambaan. Manusia berusaha dan berikhtiar untuk memperoleh sesuatu bukan dengan keyakinan dapat mengubahnya, tapi menunaikan tugas sebagai hamba.
Apakah hidayah itu dicari atau diberi oleh Allah?
Kedua-duanya benar tergantung persepsi yang kita gunakan. Allah memberi manusia Nuqthah Irsyadiyyah Nuuriyyah atau “chip Allah terhadap hamba.” Dia telah memberi tahu kepada Ruh bahwa di dalam diri kita ada kecenderungan kepada fujur (maksiat) dan taqwa (ketaatan).
Allah berfirman:
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
Lalu Dia memberi ilham kepadanya (ruh) tentang mana jalan yang mengarah kepada kejahatan dan yang menuju kepada ketakwaan. (QS. As-Syams [91:8])
Allah telah memberi hidayah kepada ruh, tetapi kita mempunyai kasb untuk memilih jalan, di sinilah pernyataan “hidayah harus dicari dan dijemput” berlaku.
Kita tetap menjalankan hukum kausalitas sebagai hamba dalam mencari hidayah,tetapi dengan sikap batin yang senantiasa berharap Allah men-tajalli-kan nama-Nya Al Haadii kepada diri kita.
Dalam kasus Imam Fudhail bin ‘Iyadh, seorang wali Allah yang mengakui telah banyak berbuat maksiat di masa lalunya, secara hakikat, hak azali Imam Fudhail adalah menjadi wali Allah, maka Allah ubah arah kehidupan-Nya di waktu yang Dia kehendaki sehingga menutup usia sebagai salah satu di antara wali-Nya.
Di sisi lain, secara syariat, Imam Fudhail memilih untuk menerima hidayah yang datang kepada beliau.
Saat berhadapan dengan perbuatan maksiat, seorang hamba memang tidak boleh ridha dengan maksiat yang ia lakukan, tetapi wajib ridha dengan Allah yang menetapkan dirinya jatuh pada perbuatan dosa itu.
الرضا بالقضاء لا بالمقضي
Ridha itu kepada ketetapan-Nya, bukan kepada objek ketetapan itu (maksiat yang terlanjur diperbuat).
Melihat Kecenderungan Fujur dan Taqwa
Dengan ilham yang Allah berikan kepada Ruh, maka setiap kita punya kemampuan untuk mendeteksi diri, apakah termasuk orang yang memiliki kecenderungan kepada fujur atau taqwa.
Ini tidak hanya dilihat dari tampilan atau perbuatan fisik, tetapi lebih jauh ke dalam diri. Rasulullah Saw. bersabda:
كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
Setiap orang akan dimudahkan untuk berbuat sesuatu yang mengantarkannya kepada kondisi yang telah diciptakan untuknya (HR. Bukhari).
Tidak semua orang yang berbuat maksiat memiliki kecenderungan kepada fujur, begitu pula sebaliknya. Jika seseorang tergelincir ke dalam perbuatan maksiat, lalu muncul rasa sesal dalam dirinya, maka itu adalah pertanda kebaikan baginya.
Sebaliknya, jika saat berbuat kebaikan yang muncul adalah perasaan sombong, ujub, bahkan riya, maka seorang hamba perlu waspada dan segera bertobat.
Dalam sudut pandang syariat, hidayah mestilah dicari dan dijemput. Namun, dari sisi hakikat, ia adalah pemberian dan hadiah dari Al Haadii, Allah yang Maha Memberi Petunjuk.


