Diam diri dalam diri
Hening diri menatap se-Zati
Sunyi diri melirik sifati
Damai diri melirih asma’i
Diri terhijab rasa wujudi
Diri terhalang jahil Anani
Diri terjarak ragu raibi
Diri tertolak inkar kufri
Rasa diri wasilah qalbi
Dari qalbi kepada Sirri
Dari Sirri kepada Inna-ni
Di dalam Sirri kedirian Sejati
Hati-hati pada khayali
Dianya dua terpari
Khayali Hissi kerja Syaitani
Khayali Muthlaqi kemurahan Ilahi
Hairannya, syaitani meng-aku berani
Menyata jadi cahaya Rabbi
Slalu datang mewaswas shadri
Itulah khayali hissi
Hebatnya, kemurahan ilahi
Wushul padanya dengan wasilati
Menatap hakikat Nur Nunni
Mengalir pada alam tubuh Khuluqi
Duhai diri yang terdiri
Tinggalkan angan fikrati
Lawanlah cinta ego nafsi
Makmurkan qalbu bayt asma’i
Duhai diri yang insani
Leburkan nama dalam sifati
Karamlah sifat dalam zati
Bagai Muhammadi lebur dalam Ahmadi.
Duhai diri yang Sejati
Kini tiadalah zati, sifati, dan asma’i
Kecuali Aku Zat-Nya, Dia Sifat-Nya, Allah lah asma’i
Allah Sirr-nya Asma’i
Huwa sirr-nyaAllahi
Ana sirr-nya Zati
Dalam Ar-Ruh al-Amri bertajalli
Bandara Halim, 20 Ramadhan 1446H 13.33 WIB


