Allah memperkenalkan Af’al-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dengan menyebut bahwa Dia senantiasa mengurus sesuatu. Allah berfirman:
كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍۚ
Setiap hari Dia menangani urusan (QS. Ar-Rahman: 29).
Istilah “kesibukan” Allah yang dimaksud dalam ayat di atas merujuk pada aktivitas takdir yang terus-menerus terjadi. Allah senantiasa mengatur urusan seluruh alam semesta, mulai dari perkara di ’Arsy hingga lapisan bumi terdalam, setiap saat tanpa henti.
Namun demikian, Allah tidak sama dengan makhluk-Nya. Perbuatan Allah yang mengatur urusan seluruh makhluk tidak membuat Allah terbatas atau memiliki aktivitas yang melelahkan. Perbuatan itu adalah bentuk manifestasi dari qudrah (kekuasaan) dan iradah (kehendak) Allah yang berjalan atas segala ciptaan-Nya.
Skenario Takdir Sebagai “Kesibukan” Allah
Dari sudut pandang makhluk, segala yang manusia alami—seperti erkabulnya doa, datangnya rezeki, atau ujian hidup—adalah bagian dari “kesibukan” Allah dalam menjalankan skenario takdir yang sudah tertulis (al-qada wal qadar). Tidak hanya itu, bahkan setetes air yang turun, sehelai daun yang gugur dari pohonnya adalah bukti Allah mengurus makhluk-Nya sampai hal-hal terkecil. Allah berfirman:
وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (QS. Al-An’am: 59)
SIkap Terhadap Skenario Takdir
Allah melakukan apa yang Dia kehendaki tanpa ada yang bisa memaksa atau mempertanyakan tindakan-Nya. Ini adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisa didebat oleh hamba.
Sebagai hamba, tugas manusia adalah menerima apa yang telah Allah tetapkan dengan ridha, bukan mencoba mengatur Allah sesuai kehendak kita. Karena sesungguhnya Allah lebih memahami mahluk-Nya dibanding diri mereka sendiri.
Penerimaan ini tidak menafikan doa. Dalam berdoa, hamba bukan sedang menuntut Allah memenuhi keinginannya, tetapi menunjukkan kelemahan-Nya di hadapan Rabb Ta’ala. Dalam berdoa Imam ibn ‘Athaillah mengajarkan batasan-batasan itu dalam hikmahnya:
لا يكن طلبك تسبباً إلى العطاء منه، فيقلَّ فهمك عنه، وليكن طلبك لإظهار العبودية، وقياماً بحق الربوبية
Jangan sampai doa kamu jadikan sebagai sebab pemberian nikmat-Nya, karena itu tanda kamu kurang memahami-Nya. Namun, jadikanlah doamu untuk memperlihatkan ‘ubudiyah (kehambaan) dan untuk melaksanakan hak-hak rububiyah (Ketuhanan).
Tulisan ini adalah ringkasan dari kajian kitab Futuhul Ghaib yang diampu oleh Buya Aldomi Putra. Sahabath dapat menyaksikan selengkapnya di sini

