Rasulullah ﷺ bertemu dengan Sayyidah Khadijah ra. lewat hubungan dagang. Khadijah sebelumnya telah menikah dua kali, tetapi kedua suaminya meninggal. Beliau akhirnya memilih hidup mandiri, dan fokus pada anak-anak dan perniagaannya, walau tak sedikit yang melamarnya.
Suatu hari, Abu Thalib dan istrinya memanggil keponakan mereka dan berkata, “Wahai Muhammad, sungguh aku tidak mempunyai harta. Zaman kini semakin sulit dan kami telah menua dimakan waktu. Kami juga tak mempunyai apa pun untuk diniagakan.”
Abu Thalib melanjutkan, “Sebentar lagi akan ada kafilah dagang berangkat ke Syam. Khadijah binti Khuwailid sedang mencari seseorang untuk menjual dagangannya. Jika engkau menemuinya, pasti Khadijah akan langsung memilihmu karena kebersihan hati dan kejujuranmu.”
Rasulullah ﷺ mengikuti saran pamannya. Beliau ﷺ lalu mengirim pelayan bernama Nab’ah ke tempat Khadijah untuk menawarkan diri menjadi utusan dagang ke Syam.
Kejujuran yang Menyentuh Hati Khadijah
Khadijah menyambut baik dan segera menyetujuinya. Beliau kemudian mengundang Rasulullah ﷺ untuk menyepakati hubungan kerja mereka.
“Sungguh aku memilihmu sebagai utusan karena kejujuran, sifat amanah, dan kemuliaan akhlakmu yang kudengar. Aku akan memberi imbalan lebih banyak dari biasanya,” kata Khadijah.
Selama persiapan keberangkatan, Khadijah memperhatikan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ bekerja sangat tekun, ulet, teliti, dan rapi. Bahkan, beliau ﷺ ikut membantu pekerja lain menyusun dan merapikan barang dagangan ke atas punggung hewan pengangkut, walaupun posisinya adalah pemimpin kafilah.
Rasulullah ﷺ berangkat berdagang ke Pasar bersama salah satu pelayan Khadijah yang bernama Maisarah. Saat kembali, Maisarah cepat-cepat menemui tuannya. Ia tak sabar ingin menceritakan indahnya perilaku Rasulullah ﷺ selama pergi berdagang.
Di tempat lain, Rasulullah ﷺ berkata kepada salah satu rekannya, “Aku tidak melihat saudagar yang lebih baik daripada Khadijah, dia selalu menghidangkan makanan untuk kafilah dagang setiap kembali dari perniagaan.”
Pada perjalanan dagang berikutnya, Maisarah menceritakan kejadian menakjubkan selama perjalanan itu. Rasulullah ﷺ dinaungi awan selama perjalanan sehingga orang-orang di sekitarnya tidak kepanasan. Khadijah terlihat sangat antusias mendengar berita apa pun tentang Rasulullah ﷺ.
Setelah mendengar kisah Maisarah, Khadijah pergi mengunjungi pamannya, Waraqah bin Naufal yang merupakan seorang rahib. Waraqah menduga bahwa beliau ﷺ adalah rasul terakhir yang ditunggu-tunggu, karena semua deskripsi tentangnya sesuai dengan ciri-ciri rasul yang dicantumkan dalam kitab suci yang pernah ia baca.
Khadijah Menjawab dengan Diam, Rasul ﷺ Menjawab dengan Ridha
Khadijah semakin sibuk memikirkan Rasulullah ﷺ setelah menemui pamannya. Ia ingin Rasulullah ﷺ selalu berada di sisinya. Jika benar beliau ﷺ akan menjadi seorang Rasul, Khadijah ingin menjadi orang yang ada di sampingnya dan membantunya mengatasi setiap ujian dan kesulitan yang akan beliau ﷺ hadapi.
Khadijah merasa ikatan dagang antara mereka yang bersifat musiman tidak cukup. Beliau hanya bisa memikirkan satu solusi untuk terus bersama Rasulullah ﷺ, yaitu menikah dengannya.
Tidak bisa dipungkiri, Rasulullah ﷺ memiliki semua kualifikasi sebagai suami idaman. Fisik dan parasnya sempurna, beliau ﷺ pun lahir dari keturunan terhormat di negerinya. Belum lagi kemuliaan akhlak dan adabnya yang melampaui semua orang di masanya.
Hal ini sesuai dengan deskripsi dari sahabat Bara’ ra. tentang Rasulullah ﷺ:
كانَ رَسولُ اللهِ صَلّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النّاسِ وَجْهًا، وَأَحْسَنَهُمْ خَلْقًا، ليسَ بالطَّوِيلِ الذّاهِبِ، وَلا بالقَصِيرِ
Rasulullah ﷺ adalah seorang yang paling tampan wajahnya, paling mulia akhlaknya, perawakannya tidak tinggi kurus dan tidak pula gemuk pendek (HR. Muslim no. 2337).
Semua orang yang mengenal dekat Khadijah menyadari bahwa beliau tertarik pada Rasulullah ﷺ. Salah satu sahabat terdekatnya, Nafisah binti Munabbih kemudian menawarkan dirinya kepada Khadijah untuk menyampaikan niat baik sahabatnya itu kepada Rasulullah ﷺ. Khadijah hanya diam menyetujui.
Nafisah pergi menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata, “Wahai Muhammad, adakah sesuatu yang menghalangimu untuk menikah?”
“Aku belum menemukan seseorang untuk aku nikahi,” jawab Rasulullah ﷺ.
Nafisah lega mendengarnya dan melanjutkan, “Bagaimana pendapatmu tentang seorang perempuan yang berkecukupan, lahir dari keturunan yang terhormat, berparas rupawan, dan cerdas? Apakah engkau akan menerimanya?”
Rasulullah ﷺ bertanya, “Siapakah dia?”
Nafisah langsung menjawab, “Khadijah.”
Rasulullah ﷺ belum terbiasa dengan percakapan ini. Beliau kemudian berkata, “Aku harus bagaimana?”
Nafisah menangkap kebimbangan Rasulullah ﷺ dengan cepat, lalu menjawab, “Selama engkau ridha, itu sudah cukup.”
Ketika Safar Menjadi Saksi Janji Suci
Setelah itu, Rasulullah ﷺ dan pamannya datang ke rumah Khadijah untuk melamarnya. Dan Khadijah yang sudah menunggu pinangan itu segara menerimanya.
Datanglah hari pernikahan bagi Rasulullah ﷺ dan Khadijah. Pernikahan ini dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak. Rasulullah ﷺ datang bersama paman-pamannya dari Bani Hasyim, yaitu Abu Thalib, Hamzah ra., dan Abbas ra. Hadir juga sahabat terdekatnya, Abu Bakar ra. dan Ammar bin Yasir ra.
Sementara itu, bersama Khadijah telah hadir paman-pamannya pula, Amru bin Sa’ad, Waraqah bin Naufal, sepupunya, beserta pembesar Bani Mudhar dan beberapa orang dari kabilah Quraisy.
Kedua belah pihak saling memberi khutbah, setelah itu Waraqah bin Naufal mewakili Khadijah dan mengucapkan janji pernikahan kepada Rasulullah ﷺ, dan Abu Thalib menjawab janji itu atas nama keponakannya.
Resmilah Rasulullah ﷺ menjadi suami Khadijah pada tanggal 25 Safar di usianya yang ke-25 tahun, 15 tahun sebelum beliau ﷺ diangkat menjadi rasul. Sementara Khadijah saat itu berumur 40 tahun.
Walimah diadakan dengan menyembelih dua ekor unta. Para tetangga menabuh rebana, dan semua orang berbahagia dengan pernikahan mereka.
Demikianlah pernikahan dua orang manusia terbaik, rasul untuk seluruh umat akhir zaman, dan ibu untuk semua orang mukmin. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah mereka. Aamiin.
Wallahu A’lam.
Referensi: Muslim bin Hajjaj; Shahih Muslim, Muhammad bin Ishaq; As-Sirah An-Nabawiyah, Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal; Ummu Al-Mukminin Khadijah binti Khuwailid.


