Pada 17 Agustus 2025 ini, NKRI genap berumur 80 tahun. Terlepas dari bagaimana anugerah kemerdekaan ini telah diisi, masyarakat Indonesia yang mencintai tanah airnya merayakan kemerdekaan dengan penuh semangat. Tak terkecuali, RNH ikut serta dalam mensyukuri nikmat kemerdekaan ini dengan corak utamanya, Kajian Kebangsaan. Selain itu, ada juga kegiatan lainnya yang mengiringi.
Perayaan HUT Ri tahun ini diadakan sesuai jadwal kajian Al-Hikam bulanan RNH, yaitu pada hari Sabtu, 16 Agustus 2025. Kegiatan di pusatkan di Surau Nur Muhammadi Buaran. Di siang harinya, para peserta yang berasal dari jamaah junior RNH dan juga anak-anak sekitar surau mengikuti pelbagai perlombaan. Dimulai dari lomba hafalan surat Al-Fatihah, lomba hafalan surat pendek, lomba praktik shalat fardu, dan lomba membaca teks proklamasi.

Setelah pelaksanaan lomba yang berlangsung meriah, pengumuman para pemenang diselenggarakan pada malam hari. Di sela-sela pengumuman, adik-adik pemenang lomba menunjukkan penampilannya kepada penonton dan jamaah kajian.

Wasiat Abuya Arrazy Hasyim dalam Memaknai Kemerdekaan
Setelah pengumuman, agenda utama Kajian Hikam Kebangsaan dimulai. Sebagaimana biasanya, Om Dik Doank memoderatori dan membuka agenda kajian. Pertanyaan mengenai “memaknai kemerdekaan” menjadi pemantik pembahasan. Menjawab pertanyaan ini, Abuya Arrazy Hasyim menjelaskan salah satu hikmah Imam Ibn ‘Athaillah:
”Engkau merdeka terhadap sesuatu yang engkau terlepas dari mengharapkannya.”
Kemudian Abuya menuturkan, “Jadi kita jangan terlalu berharap juga. Sebelum teriak-teriak kemerdekaan untuk negeri ini, merdekakan terlebih dahulu diri kita.”
Kemudian Abuya menyampaikan, “Ini adalah wasiat bagi diri sendiri dan kita semua, termasuk yang khidmah di Ribath, yayasan apa pun, majelis apa pun, instansi apa pun, dan kementerian apa pun, jangan terlalu berangan-angan kepada materi maupun immateri.”
Beliau kemudian melanjutkan, “Agar merdeka dari angan-angan materi dan immateri ini, banyak-banyaklah membaca kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah’. Itu adalah pembebas dari perbudakan nafsiyah dan ruhiyah. Lalu kalamkan ‘Ilahi Anta Maqshudi wa Ridhaaka Mathlubi’. Semakin murni tujuan seseorang kepada Allah, maka semakin merdekalah dia. Karena Allah adalah sumber kemerdekan itu sendiri.”

Menutup acara, Abuya Arrazy Hasyim memimpin prosesi pemotongan Tumpeng Kemerdekaan diikuti lantunan lagu Hari Kemerdekaan bersama seluruh hadirin dengan khidmat. Abuya kemudian menutup prosesi ini dengan doa bersama.
Semoga momen hari kemerdekaan ini kembali menyadarkan kita semua, bahwa cara menikmati kemerdekaan adalah dengan mengisinya dengan peran-peran terbaik sebagai hamba dan warga negara. Dan kemerdekaan sejati adalah dengan memerdekakan diri dari perbudakan nafsiyah dan memurnikan tujuan hanya kepada Allah. Aamiin.


