Ketika Dunia Tak Memberi Tanda
Langit sore berwarna jingga pucat ketika Andra melewati jalan setapak menuju rumah. Ia baru saja pulang dari tempat kerja—sebuah toko kelontong kecil di pasar kampung. Di sepanjang jalan, matanya sempat terpaku pada rumah-rumah besar yang menjulang, dengan mobil terparkir rapi, dan taman yang terawat.
“Ya Allah,” gumamnya pelan, “kenapa hidupku terasa begini-begini saja?”
Andra sering mendengar nasihat tentang qana’ah dan sabar. Tapi di sudut hatinya, ada suara kecil yang terus bertanya: Apakah hidup yang seperti ini… benar-benar diridhai?
Perbandingan yang Menggoda
Sore itu, Andra mampir ke warung Ustaz Salman. Di sana, beberapa pemuda sedang berbincang tentang seseorang yang baru saja membangun rumah megah.
“Dia tuh dulu biasa aja, tapi rezekinya ngalir terus. Katanya, amalannya kuat,” kata salah satu dari mereka.
Andra diam. Dalam hatinya muncul pikiran: Apakah keberkahan selalu tampak dari lahir?
Malam harinya, Andra menatap cermin. Ia ingat semua salat yang tak pernah ia tinggalkan, doa-doa di sepertiga malam, bantu warga tanpa mengharap balasan. Tapi mengapa tak ada yang berubah?
“Jangan-jangan… aku ini kurang berkah,” gumamnya, lirih.
Pertemuan di Balik Gerimis
Beberapa hari kemudian, saat hujan rintik turun, Andra berpapasan dengan seorang lelaki tua yang sedang meneduh di pinggir musholla. Lelaki itu tampak sederhana, dengan sorban lusuh dan mata yang lembut.
“Anak muda, kenapa wajahmu mendung seperti cuaca?” tanya lelaki itu.
Andra pun bercerita panjang. Tentang hidup yang stagnan, tentang rasa kecil saat melihat orang lain melesat maju, tentang pertanyaan yang menggantung di dalam ibadahnya sendiri.
Lelaki itu tersenyum. “Kau tahu, Andra… Tidak semua yang dilihat langit, ditampakkan ke bumi.”
Mata yang Tertipu Cahaya
Lelaki itu melanjutkan, “Kadang kita menganggap orang lain lebih tinggi karena rumahnya megah, atau karena rezekinya lancar. Tapi bisa jadi, Allah justru sedang menyingkapkan semuanya sekarang karena tak ada yang disimpan untuk akhirat.”
Andra diam.
“Sementara ada yang hidupnya biasa-biasa saja… tapi Allah jaga dia dari hal-hal yang menipu. Karena jika diberikan semua di dunia, ia akan lalai. Maka Allah jaga.”
Dan untuk pertama kalinya, Andra menangis. Bukan karena sedih, tapi karena merasa telah menilai dirinya terlalu rendah, dan orang lain terlalu tinggi.
Yang Tidak Dilihat, Tapi Diperhitungkan
Malam itu, di dalam doanya, Andra berkata pelan:
“Ya Allah, aku tak ingin tanda lahir, jika itu menjauhkan aku dari pandangan-Mu.
Biarlah dunia tak mengenal aku. Asal Engkau tahu, aku sedang berusaha.”
Tak ada yang berubah keesokan harinya. Rumahnya masih kecil, pekerjaannya masih sama. Tapi ada yang berubah di dalam: cara ia menilai dirinya sendiri… dan orang lain.
