“Ada suara yang terus datang, Guru. Tapi saya takut, itu cuma bisikan nafsu, bukan petunjuk.”
Khadijah duduk di teras rumah panggung kayu, menunduk dalam diam. Di depannya, sang Guru menyesap teh dengan pelan. Suara adzan Ashar dari surau belakang rumah seakan menyela ketegangan batin Khadijah.
“Suara seperti apa?” tanya Guru tanpa tatapan menghakimi.
“Semacam dorongan… untuk meninggalkan semua kegiatan luar. Saya ingin uzlah, menyepi. Tapi saya bingung. Saya guru ngaji, saya masih diminta banyak orang. Kalau saya mundur, apakah itu lari? Atau justru petunjuk?”
Guru tersenyum tipis. “Itu yang dinamakan khathir, Khadijah. Lintasan batin. Ia bisa datang dari Allah, bisa juga dari nafsu.”
“Tapi bagaimana cara tahu bedanya, Guru?”
Wajah Khadijah berubah cemas.
Guru menatap langit. Satu helai daun jati melayang turun.
“Kalau dari Allah, ia membawa ketenangan. Jika dari nafsu, ia membuatmu terburu-buru, merasa paling tahu, dan cemas kalau tak segera dilakukan.”
“Tapi saya merasa tenang juga, Guru… malah sangat tenang saat membayangkannya.”
“Tenang itu bisa palsu, Khadijah. Kadang nafsu menyamar dalam keheningan.”
Lalu Guru menunduk, dengan suara pelan:
“Pernahkah engkau sampaikan lintasan itu kepada gurumu?”
Khadijah terdiam. Matanya memerah. “Belum. Saya malu.”
“Itulah letak adabnya. Menyampaikan tanpa merusak rahasia. Bukan untuk dikomentari, tapi untuk ditimbang. Kadang, yang terlihat sangat ikhlas pun bisa jadi jerat halus ujub atau lari dari amanah.”
Khadijah menatap tangannya yang mengeriput. Tangannya itu pernah memeluk puluhan anak yatim saat mengajarkan huruf-huruf awal. Ia mencintai perannya, tapi kini merasa kosong.
“Saya kira… mungkin saya merasa jenuh. Tapi saya takut menyebut itu. Takut dikira lemah.”
“Kelelahan bukan kekalahan. Bahkan para sahabat pun mendatangi Rasul karena lintasan batin yang membuat mereka gelisah.”
Khadijah menoleh. “Benarkah?”
“Pernah para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami mendapati lintasan yang kami malu menyebutkannya’. Rasul tidak mengolok. Beliau justru berkata: ‘Itulah tanda keimanan sejati.’
Guru menatapnya lembut.
“Allah tidak menuntut kita untuk tidak punya lintasan, tapi untuk menjaga adab terhadapnya.”
Khadijah menghela napas. Seolah suara yang mendesaknya diam. Digantikan sunyi yang damai.
“Jadi… saya tak harus terburu-buru memilih uzlah atau tetap mengajar?”
“Tidak. Tugasmu sekarang adalah mencatat lintasan itu. Sampaikan dengan adab. Dan tunggu dengan sabar, bukan dengan ego.”
Mata Khadijah berkaca. Ia merasa seperti anak kecil yang baru saja dipeluk setelah lama tersesat.
“Terima kasih, Guru. Saya kira saya butuh fatwa. Ternyata saya hanya butuh adab.”
