“Semakin Iblis mendalam cintanya kepada Allah, semakin pula ia akan diuji dengan ujian jebakan. Semakin tinggi level kedekatan seorang hamba, semakin tinggi pula jebakannya Cung!”
“Lho bukannya Iblis terlaknat Mbah. Bagaimana mungkin yang terlaknat itu Pecinta Mbah?”
“Lho jangan salah Cung. Iblis tak pernah membenci Allah. Tapi yang ia benci hanya Adam dan keturunannya. Puluhan ribu tahun dia bersujud kepada Allah, bagaimana mungkin membenci-Nya? Tapi, ketika ada perintah untuk sujud kepada selain-Nya, pastinya dia tak mau. Sebab ingin selamanya hanya setia dengan yang dicintainya”
“Terus mana jebakannya Mbah?”
“Iblis terjebak dengan Zatnya Allah. Padahal Allah itu punya Af’al, Asma’ dan Sifat. Diantara Af’al-nya Allah itu ya perintah untuk sujud kepada Adam. Nah, pemahamannya Iblis, jika ia sujud kepada Adam berarti ia telah mendua. Padahal ini pemahaman yang sangat keliru.”
“Yang benar bagaimana Mbah?”
“Jika perintah sujud kepada Adam itu diartikan menyembah, jelas itu salah. Tapi jika dimaknai bahwa Adam adalah arah kiblat sujud, sedangkan qalbu-nya tetap menyembah Allah, itu baru setia dan tidak mendua Cung.”
“Wah, kalau pemahaman seperti ini akan berbahaya Mbah.”
“Maksudnya Cung?”
“Akhirnya siapa pun akan bersujud kepada apa pun atau siapa pun. Bisa batu, patung, bahkan kepada sesama manusia. Analoginya sama, seperti semua malaikat bersujud secara lahir mereka kepada Adam, tapi batin mereka tetap kepada Allah.”
“Salah Cung. Masih ada kelanjutannya Simbah menjelaskan.”
“Salahnya di mana Mbah?.”
“Begini, Illat sebab sujudnya Malaikat kepada Adam itu namanya Illat Ta’abbudi bukan munasabah yang bisa di-qiyas. Artinya berdasarkan perintahnya Allah, bukan hikmahnya apa. Selama Allah memerintahkan untuk sujud, maka sampai kapanpun harus sujud. Tidak boleh tidak.”
Cung, kenapa Babi diharamkan untuk dikonsumsi?”
“Sebab ayat Al Qur’annya bilang begitu kok Mbah.”
“Nah, cerdas. Jadi bukan sebab adanya hikmah. Walaupun setiap perintah itu ada hikmah. Misalkan kalau mengkonsumsi akan ada madharat, atau hikmah lainnya. Berarti kalau madharatnya bisa diatasi dengan kecanggihan teknologi, jadi halal dong? Tetap tidak. Selamanya jika Allah sudah bilang haram ya haram. Sampai nanti ada hukum darurat, diantara bagian dari sayangnya Allah kepada hamba-Nya.”
Jadi, tidak dibenarkan bersujud kepada siapa pun selain kepada Allah, tanpa perintah dari Allah. Seperti perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘alaihis salam.”
“Terus, kaitan dengan ujian jebakan Iblis maksudnya apa Mbah?”
“Cung, jebakan-jebakan ini akan terulang Cung. Semakin murid mencintai guru, semakin ia bernafsu untuk mencukupkan hanya dengan sosok gurunya, tidak boleh dengan yang lain, sehingga kelak jika gurunya sudah wafat, ia tidak mau mencari guru yang baru. Ia takut jika dianggap tak setia dengan guru yang lama. Faham Cung?”
“Berarti jebakan sosok ya Mbah?”
“Iya, misalkan, suluk harus ditungguin gurunya. Kalau ditungguin guru yang lain, ia tidak akan mau. Padahal itu adalah bagian dari perintah guru Cung.”
“Wah, berat Mbah.. Sangat berat Mbah..”
“Berat itu kalau yang kita pandang adalah zahirnya pengganti guru. Coba kalau memandang mereka, dengan pandangan bahwa mereka adalah tajalliyah dari guru sebelumnya, atau ini adalah bagian dari sami’na wa atho’na (mendengar dan menaati) seorang murid kepada perintah guru, pasti tenang cung. Tentunya murid yang baik akan totalitas memberikan yang terbaik untuk gurunya.
Tapi, guru sejati itu hanya Rasulullah Saw. Cung. Pasti sempurna. Sedangkan para pewarisnya, pasti banyak celah kekurangannya. Makanya tidak ada guru yang sempurna, tapi adanya murid yang tashdiq kepada gurunya.”
“Jebakan berat ini Mbah. Apalagi yang menjadi pengganti itu di bawah kita Mbah, Berat..”
“Inilah yang disebut mujahadah Cung. Menundukkan nafsiyyah, ego merasa lebih baik dari yang lain. Atau menundukkan rasa bersalah, atau merasa tidak setia, dan merasa-merasa yang lain. Apalagi jika sebelum perintah sudah ada problem rasa. Pasti bertambah berat Cung.
Jadi, jika nanti Simbah sudah tidak ada. Atau, Simbah memberikan perintah untuk berguru kepada yang lain. Kamu harus sendhiko dhawuh ya Cung. Jangan sampai seperti Iblis yang terjebak oleh sosok. Ilmu Allah itu luas tak bertepi Cung. Siapa pun yang dikehendaki akan mendapatkan ilmu dari-Nya, tanpa harus berkompromi. Sebab, semua yang bergerak dan diam adalah suka-suka Dia. Kalau Iblis bisa terlempar dari kenikmatan surga, maka murid pun bisa saja demikian. Merana dan gelisah, serta terlempar dari merasakan kenikmatan di dalam qalbunya.”
Setelah menjelaskan wejangannya, Simbah Rungkul pun menghilang di kegelapan malam. Tanpa menunggu aku untuk berucap lagi sepatah kata-pun.
