Mbah Rungkul (Bagian 2)

Mbah Rungkul, Gus Syamsul Hadi, Kacung & Mbah Rungkul, Cerpen Islami, Hijab Nur

Author: Gus M. Samsul Hadi, S.Q., S.Ud

“Tunggu Aku di belakang Masjid Jami’, sebelah makam Mbah Srimpet. Nanti malam jam 11 ya Cung!” Pesan Simbah Rungkul ketika kami tak sengaja berpapasan di parkiran motor sebelah barat Pasar Lasem.

Sekejap aku tak mengenali kalau yang berucap itu adalah Simbah Rungkul. Dengan pakaian kumuh dan badan penuh tato, mungkin bagi orang umum, Simbah adalah bagian dari gelandangan yang mengais sisa makanan dari tempat sampah di pasar. Sebab hatiku seakan sudah ada radar, sehingga tahu bahwa orang itu adalah Simbah Rungkul, aku pun tersadar. Iya, Simbah sekarang sedang “melakon.”

“Insya Allah Mbah.” Jawabku segera.

Malam ini setelah memastikan anak istriku tidur lelap, Aku menghidupkan Mio bututku untuk memenuhi janji dengan Guru Spiritualku, Simbah Rungkul.

“Kang, gerbangnya biar saya yang nutup nanti. Jadi ndak usah ditunggu. Kalo sampean mau tidur, ya tidur saja. Kemungkinan saya lama. Atau gerbangnya ditutup tapi jangan dikunci ya!” Pesanku kepada salah satu temen santri.

Jalanan malam mulai lengang dari kendaraan, mungkin efek PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), batinku. Toko-toko sudah banyak yang tutup. Bahkan yang biasa jualan malam, terpaksa harus tutup sebelum jam 10 malam, kalau tidak mau berurusan dengan Pak Satpol PP. Sungguh menyedihkan. Ah, itulah bagian dari skenario makhluk yang Tuhan beri izin. Kalau ndak begini kapan bisa kiamat. Begitulah gumamku, menemani perjalanan yang hanya lima menitan sampai di belakang Masjid Jami’. Ternyata Simbah sudah menungguku di sana.

Sampun dangu Mbah?” Tanyaku melihat Mbah Rungkul yang terlihat sudah dari tadi menungguku di sana. Banyak tegesan rokok kretek telah berserakan di bawah kakinya.

“Hem.. Nembè waè Cung..” Senyum Mbah Rungkul.

“Awakmu wis siap? Ayo melu Aku. Tapi motormu tinggal nang kènè.” Tanya sekaligus perintah dari Mbah Rungkul.

Ajeng teng pundi Mbah?” Tanyaku.

Wis angger mèlu. Mengko yèn wis tutuk lagi tak kandani.” Jawab Mbah Rungkul menunjukkan perintahnya tidak boleh dibantah.

Nggih Mbah..” Jawabku.

Setelah Motor kuparkirkan dekat makam, tangan kananku ditarik oleh tangan kiri Mbah Rungkul. Kami berjalan beriringan ke barat, melewati jalan raya. Kemudian ke utara. Melewati sawah, tambak garam. Sampailah kami di Pantai Caruban. Gelap gulita, tak tampak apa-apa. Iya, malam ini masih awal bulan jadi tak tampak adanya bulan.

“Coba lihat, apa kamu bisa lihat wajah Simbah Cung?” Tanya Mbah Rungkul.

Ndak tampak Mbah..” Aku dekatkan wajahku di depan Simbah, pun tak terlihat jelas wajah Simbah. Hanya terdengar suara nafas pelan darinya. Wajar saja, karena ndak ada penerangan. Jadi benda apa pun tak akan tampak, walaupun dekat di depan mata.

“Kalau begini Cung.. Tampak ndak wajah Simbah?” Tiba-tiba Simbah menghidupkan lampu led headlight yang sangat terang di kepalanya. Saking terangnya menyilaukan mataku. Karena sangat jelas lampu itu dihadapkan di wajahku.

“Ndak tampak Mbah,” kupejamkan mataku karena tak kuat melihat sinarnya.

“Kacung, hijab (penghalang) itu ada dua. Hijab dzulumāt yang berupa kegelapan. Satunya lagi hijab Nur yang berupa cahaya terang. Keduanya adalah penghalang seorang hamba bisa memandang Jamaliyah (keindahan) Penciptanya. Menurutmu mana yang lebih bisa kamu hindari Cung?”

“Cahaya terang. Kan mudah, tinggal saya menghindar, otomatis saya tidak akan silau dengan cahaya itu Mbah,” Jawabku secara logis.

Rumangsamu Cung.. Bagaimana kamu bisa menghindar dari cahaya-Nya Allah. Yang Nūrun ‘Alā Nūr, Cahaya di atas cahaya. Sedangkan kegelapan, tinggal nyalakan pelita kecil, pasti tampak sekelilingmu walaupun masih samar.

Di kehidupan ini sebenarnya tidak ada kegelapan, yang ada hanya tidak ada cahaya sehingga jadilah gelap.

Sekali pelaku maksiat taubat. Benar-benar menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan kembali melakukannya, seketika seluruh kegelapan yang dulu pernah menaunginya, berubahlah menjadi cahaya.

Masih ingat kisah Pelacur yang memberi minum anjing yang kehausan Cung? Siapakah dia? Iya, pezina, pelaku maksiat. Bukan saja penduduk bumi, bahkan penduduk langit menghujatnya dikarena belum mengetahui skenario Allah yang sebenarnya.

Siapakah yang diberinya minum? Iya, anjing. Yang bagi sebagian merasa dirinya sholih, bangga menajiskannya.

Namun bagaimana takdir Allah? Karena sebab rasa belas kasihnya si Pelacur. Ia copot sepatunya, susah payah mengambil air dengannya. Kemudian air itu diminumkan ke anjing, hingga hilanglah rasa dahaga. Bisa saja kalau ndak segera, menjadi sebab Anjing itu mati kehausan. Seketika penduduk langit memintakan rahmat kepada si Pelacur. Kemudian di akhir hidupnya, Allah menggerakkan hatinya untuk bertaubat, sehingga Allah menerima taubatnya. Kegelapan tersingkap sebab berbelas kasih kepada sesama, jadilah terang benderang.”
Mbah Rungkul menjelaskan dengan tanpa jeda.

“Tapi itu bisa jadi kasuistik Mbah, hanya tertentu saja yang Allah kehendaki. Tidak bisa untuk menggeneralisir bagi setiap pelaku maksiat agar dibenarkan kelakuannya,” sanggahku.

“Iya, Simbah mau mengajarkan kamu supaya bisa ber-husnudzan. Bisa jadi hari ini ia maksiat, tapi kemudian Allah berkehendak kalau itu maksiatnya yang terakhir. Sebaliknya bisa jadi hari ini kamu taat, tapi kemudian Allah berkehendak merubahmu menjadi pelaku maksiat. Kan kita tidak tahu kehendak Allah? Makanya berbaik sangkalah kepada siapa pun.”

Astaghfirullāh, Iya benar Mbah.”

“Yang paling susah itu menghindar dari hijab Nur Cung! Habis tahajud, sajadah sengaja ndak dirapikan biar istri tahu kalau suaminya semalem shalat tahajud.

Kemana-mana tangannya pegang tasbih, biar orang tahu kalau dia ahli dzikir. Riya‘ itu kadang masuk tanpa dilihat oleh orang, tapi karena perasaannya sendiri. Padahal riya‘ itu adalah syirkul ashghar, syirik kecil. Bahkan Imam Abu Laits as Samarkand mengatakan siapa yang riya‘ berarti ia telah menipu Allah. Kamu punya temen sangat dekat, namun suatu ketika temanmu berkhianat atau menipumu, bagaimana sikapmu? Sakit hati? Kemudian bagaimana jika Allah yang ditipu oleh mereka, para penyembah pujian dan yang takut celaan!?”

“Atau kamu punya murid, namun ia sama sekali tak berlaku sopan atau menuruti perintahmu, bagaimana sikap hatimu?. Sakit? Kok bisa sakit? Kamu itu siapa? Wali bukan, ulama bukan, nabi juga bukan. Sama-sama hamba kok minta dihormati. Itu murid punya siapa? Sekedar titipan kan? Tugas kamu apa? Hanya menyampaikan kan? Berarti selama ini tidak ada ikhlas dalam hatimu. Bagaimana Allah menggambarkannya dalam al-Quran? Debu di atas batu licin yang disapu hujan yang sangat lebat. Masih berbekas debunya? Hilang semua.”

“Atau kamu merasa sebagai yang mempunyai ilmu, namun tak banyak orang yang memanfaatkan bahkan cenderung memilih orang lain dari pada dirimu. Bagaimana sikap kamu? Hasud?! Eh, itu ilmu punya siapa? Justru seharusnya kamu senang karena tugasmu terbantukan kan Cung. Bukankah kamu tahu kalau hasud itu seperti api yang membakar hangus kayu bakar. Tak manfaat dan barokah semua ilmu yang susah-susah engkau pelajari. Hakikatnya ilmu itu diberi, bukan merasa mempunyai. Kalau sudah diambil oleh Zat yang memberi, bingung kamu nanti.”

Sampun Mbah, Sampun Mbah…”
Air mataku mengalir membasahi kaki Simbah Rungkul. Badanku pun tertunduk lesu. Tak ada daya untuk menggerakkan, setelah bertubi-tubi dihancurkan Mbah Rungkul dengan dhawuhdhawuh-nya. Seakan hanya tangisku yang bisa membuncah ditemani suara deru ombak Pantai Caruban.

Yā Samī’u Yā Bashīru, selalu wiridkan dalam kalbumu setelah lafadz Allah… Allah… Wis cukup, Aku arep ngulon. Awakmu balèk dèwè. Yèn jodoh, insya Allah ketemu manèh.. Assalamualaikum.”

“Mbah, Mbah… Waalaikumussalam.” Tangisku masih belum reda.

Matur Suwun Mbah..” Ucapku lirih.

Hikmah yang bisa diambil

Cerpen ini bersumber dari salah satu kajian di RNH.

Kalau Sahabath tertarik untuk mengikuti lebih lanjut, bisa tonton video di bawah ini

Join our newsletter and get 20% discount
Promotion nulla vitae elit libero a pharetra augue