“Kacung!”
Suatu malam Mbah Rungkul tiba-tiba datang berkunjung.
“Kok dalu-dalu wonten nopo Mbah? Kok kadingaren mboten paring kabar riyen.”
Tanyaku kepada Simbah Rungkul, Guru spiritualku.
“Anak-anakmu wis podo turu Cung?” Tanya Simbah.
“Sampun Mbah, nembe mawon. Simbah ngersakke wedangan mboten?” Tanyaku menawari Simbah, walaupun sebenarnya sudah menjadi kebiasaan kalau Simbah datang berkunjung, wajibnya disuguhi wedang kopi.
“Iyo Cung, Koyok biasane Yo. Kopine sing pahit, tapi diwenehi gulo sithik gak po-po. Kopi sing gorenganmu dewe.” Dawuh Simbah.
“Nggih, sekedap kulo damelke Mbah.” Aku pun beranjak dari ruang tamu untuk ke belakang menyiapkan sajian kopi yang terenak untuk Simbah. Merebus air. Kemudian menuangkan di racikan 3 sendok kecil bubuk kopi dan satu sendok kecil gula dalam cangkir kecil. Tuangan air pertama sedikit kemudian diaduk biar larut. Ditambah lagi airnya, kemudian diaduk lagi. Tuang yang terakhir sampai air hampir memenuhi gelas baru diaduk. Cara ini efektif biar kopi, gula dan air bener-bener larut menyatu.
“Niki Wedange. Kebetulan niki taseh wonten Godokan Telo Mbah. Jamenane Pak Tukang siang wau ndamelke Kotak Lemarine Poro Santri.” Aku menghaturkan secangkir kopi dan sepiring Telo Godok di atas nampan seng.
“Alhamdulillah… Cocok Cung! Iso kanggo batur nggedabrusku. Haha… Ngomong-ngomong awakmu tak sawang-sawang, bengi-bengi iki kok gak iso turu kenopo Cung?”
Waduh, ternyata terbaca oleh Simbah. Inilah yang sering aku takutkan jika ketemu Simbah. Takut terbaca. Aku pun menunduk sangat dalam.
Filosofi Kerinduan Nabi Yusuf AS
“Simbah faham Cung. Nabi Yusuf itu sangat merindukan Allah justru ketika pada puncak kejayaannya. Ketika mimpinya sudah menjadi kenyataan. 11 Bintang, Matahari & Bulan bersujud untuknya. Apa kata Nabi Yusuf? Tawaffanī Musliman.. Ya Allah wafatkan Aku dalam keadaan (muslim) tunduk kepada-Mu. Karena dia yakin, kehidupan fana ini yang menghalangi kerinduannya kepada Sang Kekasih yakni Allah. Kenapa ucapan ini tidak diucapkan ketika dia dulu masih di penjara? Padahal kematian itu seharusnya diucapkan bagi orang yang sudah putus asa dalam kehidupan, tapi ketika sudah mencapai puncak popularitas kenapa malah meminta kematian? Kan aneh Cung.
Sebenarnya Simbah bertentangan Cung. Kerinduan itu bagi yang ghoib, yang jauh, Tapi Allah kan selalu hadir. Bagaimana mungkin kita merindukan sesuatu yang sudah berada di depan kita? Ini kan aneh Cung.”
“Tapi Mbah tidak semua orang bisa merasakan kehadiran Allah di dalam hidupnya kan Mbah. Buktinya sampai Rasulullah memberikan dhawuh, Idzā Lam Tastahi Fashna’ Mā Syi’ta. Jika Kamu ndak punya rasa malu berbuat maksiat, terserah lakukan apa maumu. Ini mengindikasikan ketika seseorang berbuat maksiat tidak merasakan kehadiran Allah dalam hidupnya. Karena jika memang bisa merasakan kehadiran Allah pasti mereka malu untuk berbuat maksiat Mbah. Seperti contoh kecil saja, saya akan sangat malu stalking profil perempuan lain di hadapan istri saya. Jadi Nabi Yusuf hendak memberikan pelajaran bagaimana sikap hamba ketika sedang berada dalam kebahagiaan Mbah.”
“Iya ya, ucapanmu bener juga Cung. Tapi kalau seperti itu nanti orang-orang nunggu bahagia atau kaya dulu baru bisa mengucapkan Tawaffanī Musliman, kan ndak gitu Cung. Sebenarnya hidup itu yang dicari bukan kebahagiaan atau kemegahan. Karena bahagia, sedih, kaya, melarat itu sudah digaris sebagai ujian.”
“Lha terus apa Mbah?” Tanyaku.
“Ketenangan Cung!” Jawab Simbah.
“Tapi bukan tenang karena hartanya banyak. Bukan tenang karena anak-anaknya sudah besar dan sudah menikah. Bukan tenang karena punya dana pensiun, atau ketenangan yang disebabkan oleh duniawi. Namun tenang hatinya karena dizinkan Allah untuk menyebut nama-Nya.”
Betapa hati itu cepat sekali berubah. Dulu cinta, namun karena yang dicinta tidak sesuai dengan keinginannya, hilanglah cinta itu. Dulu benci, namun karena ia ikut mendukung pilihannya, jadilah ia cinta.
Qalbun = Kalbun
“Qolbun (hati ) itu seperti Kalbun (Anjing) Cung, bisa liar menyalak dan menggigit, namun ia bisa dikendalikan. Kalau anjing patuhnya karena diancem batu. Kalau hati tunduknya karena menyebut nama Allah. Betapa banyak para Sahabat dulu yang hati keras penuh maksiat, namun ketika mengenal Allah dan Rasulullah Saw, menyenandungkan asma-Nya dalam kalbunya, maka tenang dan lembutlah hatinya. Nah, ketika sudah seperti ini pasti setiap saat ia merasakan kehadiran Allah. Memang harus ada proses riyadhoh untuk dilatih terus menerus setiap harinya Allah… Allah… Allah… dihujamkan dalam kalbunya, seiring suara detak jantung dan denyut nadinya. Saya lihat awakmu sudah lama ndak pernah merutinkan ini Cung, jadi pantes saja jika susah tidurnya. Lha gelisah terus kok hatinya. Apalagi akalnya banyak yang dipikirkan, pasti semakin menderita ruhaniyahmu Cung.”
“Hehe… Pirso mawon Njenengan Mbah.”
“Wis cukup yo, aku pamit ndisik. Gantian, iki ono sing wis ngenteni Aku.”
“Matur sembah nuwun nggih Mbah.”
Simbah berjalan jauh, semakin menghilang ditelan kegelapan malam yang semakin pekat. Sepekat Kopi Lasem dalam cangkir yang Simbah sisakan untukku agar Aku bisa bertabarukan.
“Matur suwun Mbah.” Ucapku lirih.
