Author: Chairil Musa Bani
Sebuah Cerita tentang Cinta dan Kepergian, dari seorang Cing Basir tentang almarhum istrinya Cing Wati.
Malam itu saya duduk di ruang tunggu ICU. Lampu-lampu rumah sakit memantulkan cahaya pucat di lantai yang dingin. Waktu terasa berjalan lambat. Di balik pintu kaca itu, orang tua saya sedang berjuang antara hidup dan takdir.
Sementara di luar, kami hanya bisa menunggu—dan dalam penantian seperti itulah biasanya manusia mulai banyak berbicara tentang hidup.
Di tengah penantian yang mencemaskan itu, ada seorang lelaki sederhana yang menjadi sumber dari sebuah kisah yang begitu dalam menghujam kalbu.
Namanya Mat Basir Al-Faqihi, encingku. Seorang ayah, sekaligus ibu, bagi delapan buah hatinya.
Di usianya yang tak lagi muda, beliau bercerita dengan mata yang sesekali menerawang jauh, menembus dinding rumah sakit, kembali ke masa-masa yang telah berpulang. Tentang Istrinya, Cing Wati, telah berpulang ke rahmatullah sekitar delapan tahun silam.
Namun dari caranya bercerita, dari getar suaranya saat menyebut nama istrinya, aku tahu bahwa Cing Wati tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.
Beliau masih hidup dalam setiap kenangan, dalam setiap doa yang dipanjatkan, dalam setiap air mata yang ditahan ketika rindu datang menyerang.
“Cing Basir gak pernah pergi ziarah ke makam Cing Wati Ril..,” ujarnya pelan. Bukan karena lupa atau tak peduli. Justru karena terlalu peduli.
“Soalnya kalo encing ke sana, pasti keingetan dia lagi. Cing gak kuat” Kalimat itu tidak panjang, tetapi terasa berat.
Ada rindu yang dipendam di dalamnya. Ada luka yang masih menganga, dibalut oleh kenangan yang terlalu manis untuk diungkit, namun terlalu berat untuk dilupakan.
Menurut beliau, Cing Wati adalah perempuan yang tak tergantikan. Dan semakin lama waktu berlalu, semakin ia sadar bahwa banyak kebaikan yang ia dan anak-anaknya rasakan hari ini ternyata adalah buah dari kebaikan istrinya dahulu.
Buah Amal dalam Kesunyian
Dengan mata berbinar, meski diselimuti kesedihan, Cing Basir bercerita tentang anak-anaknya yang dia banggakan. Anak pertama, seorang perempuan yang kini telah bersuami.
“Mantu Encing itu Ril, peduli banget sama mertua. Perhatian banget sama Cing, kadang suka nanya, ‘punya rokok pak?’ Eh tau-tau dateng kerumah bawa rokok sama makanan. Padahal gajinya cuma tiga juta, tapi anehnya gak kekurangan dan masih sempet-sempetnya berbagi” ucapnya bangga.
Dan semua itu, kata beliau, karena anaknya (Yuli) adalah istri yang nurut sama suami dan mertuanya, dan juga pintar memasak. Akhlak dan keahliannya itu adalah semata-mata warisan dari ibunya. Sebuah lingkaran kebaikan yang berawal dari rahim Cing Wati yang telah tiada.
Kemudian, cerita berlanjut pada anak-anaknya yang lain. Ada yang telah bekerja (Yusuf), ada juga yang bantu-bantu urusan rumah (Kia) dan selebihnya mondok di pesantren. karena dibiayai oleh seorang pengusaha kaya yang memiliki tiga perusahaan. Pengusaha yang bahkan telah berjanji akan mempekerjakan mereka jika sudah selesai nyantri. Subhanallah, pikirku. Rezeki macam apa ini?
Tetapi yang membuat saya terdiam adalah cerita tentang bagaimana semua itu bermula.
Dulu, di dekat rumah mereka dibangun sebuah masjid baru. Masjid itu masih sederhana dan belum memiliki marbot. Tidak ada yang menyapu, mengepel dan merawatnya.
Tanpa diminta siapa pun, Cing Wati datang setiap hari. Ia menyapu lantai masjid, mengepel, membersihkan halaman. Tidak ada yang memerintah. Tidak ada yang menggaji. Ia hanya melakukannya.
Bahkan ketika istrinya ingin melakukan itu, Cing Basir tidak melarang. Bahkan Ia mengizinkannya dengan satu kalimat yang sederhana, “Ya udah sono lu bersihin masjid buat bekel lu di akhirat.”
Siapa sangka, bekal akhirat itu rupanya juga menjadi bekal dunia bagi anak-anaknya.
Kebaikan itu berbuah manis. Orang kaya pemilik perusahaan itu adalah salah satu jamaah masjid yang kerap melihat ketekunan Cing Wati. Hatinya tersentuh. Dan dari sanalah, pertemuan yang membawa berkah itu terjadi.
Cing Wati mungkin tak sempat menikmati hasilnya di dunia, tetapi ia menanam pohon yang rindang, tempat anak-anaknya kini berteduh.
Malam itu saya menyadari sesuatu yang sering tidak kita sadari dalam hidup, kebaikan tidak pernah benar-benar hilang. Kadang ia tidak kembali kepada orang yang menanamnya. Tetapi ia tumbuh diam-diam, dan berbuah pada orang-orang yang mereka cintai.
Cing Wati mungkin tidak sempat melihat semua itu. Ia hanya hidup bersama suaminya selama enam belas tahun. Waktu yang tidak terlalu panjang untuk sebuah kehidupan rumah tangga.
Namun kebaikan yang ia tinggalkan ternyata jauh lebih panjang dari usia kebersamaan mereka.
Ayat yang Bersosok Manusia
Saya jadi teringat kisah tentang alasan kenapa Nabi Khidir as. dan Nabi Musa membangun dinding rumah anak yatim tanpa meminta upah,
وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًاۚ
Adapun“ dinding itu adalah milik dua anak yatim di kota itu. Di bawahnya tersimpan harta bagi mereka, dan ayah mereka adalah orang yang saleh …” (QS. Al-Kahf: 82)
Ayat itu tidak hanya menceritakan tentang sebuah dinding. Ia sebenarnya sedang menceritakan tentang warisan yang tak terlihat.
Allah tidak mengatakan bahwa kedua anak yatim itu selamat karena mereka kuat, atau karena mereka pintar menjaga hartanya.
Allah justru menyebut satu alasan yang sangat sederhana, tetapi sangat dalam:
وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًاۚ
“Dan ayah mereka adalah orang yang saleh.”
Kesalehan seorang ayah. Kesalehan seorang manusia yang mungkin telah lama tiada. Namun kebaikannya tidak ikut dikuburkan bersamanya.
Ia tetap hidup, menjaga anak-anaknya, menjaga masa depan mereka, bahkan membuat Allah menggerakkan seorang nabi untuk menegakkan kembali sebuah dinding demi melindungi harta mereka.
Seakan-akan Allah sedang berkata kepada kita: Ada kebaikan yang tidak berhenti pada pemiliknya, ada amal yang terus berjalan melintasi waktu. Ia menjaga orang-orang yang kita cintai, bahkan ketika kita sudah tidak ada lagi.
Malam itu, di ruang tunggu ICU yang dingin itu, kisah Cing Wati terasa seperti potongan kecil dari ayat tersebut.
Ia hanya menyapu masjid. Pekerjaan sederhana yang mungkin bagi sebagian orang tampak kecil. Tidak ada tepuk tangan maupun penghargaan. Tidak ada yang mencatatnya di dunia. Tetapi siapa sangka, Allah mencatatnya dengan cara yang berbeda.
Kebaikan: Benih yang Senantiasa Berbuah Melampaui Generasi
Kebaikan itu seperti benih yang ditanam diam-diam di tanah. Ia tidak langsung tumbuh. Ia tidak langsung terlihat. Namun suatu hari, ketika waktu telah matang, ia akan muncul sebagai pohon yang rindang. Dan sering kali, bukan si penanam yang duduk di bawah naungannya. Tetapi anak-anaknya.
Mungkin itulah rahasia yang sering tidak kita sadari dalam hidup. Bahwa sebagian rezeki yang kita nikmati hari ini bisa jadi adalah buah dari doa orang tua kita dahulu.
Sebagian kemudahan yang datang dalam hidup kita mungkin adalah gema dari amal yang pernah mereka lakukan ketika kita masih kecil.
Dan mungkin, sebagian perlindungan yang Allah berikan kepada anak-anak kita nanti akan lahir dari kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini.
Kebaikan yang mungkin tidak pernah dilihat manusia. Seperti sapu yang bergerak pelan di lantai masjid pada pagi hari. Sebagaimana tangan yang mengepel lantai tanpa diketahui siapa pun. Seperti doa seorang ibu yang dipanjatkan diam-diam setelah shalat.
Cing Wati mungkin telah pergi. Namun kebaikannya tidak ikut pergi bersamanya. Ia hidup dalam rezeki anak-anaknya, dalam keberkahan rumah tangga mereka, dan dalam rasa bangga yang masih bergetar di suara Cing Basir setiap kali menyebut namanya.
Cing Wati tak pernah membaca Al-Qur’an dengan tafsir. Mungkin ia hanya bisa membaca huruf-huruf Arab sekadar untuk mengaji. Tapi ia hidup di dalam Al-Qur’an. Ia menjadi ayat yang bergerak. Ia merasakan bagaimana kebaikan yang ditanam dengan sabar, dalam sunyi, tanpa sorot kamera dan tanpa tepuk tangan, bisa menjadi pohon rindang yang menaungi anak-cucunya di masa yang tak ia ketahui.
Subhanallah.
Di dalam surah Al-Kahfi, Allah tidak menjelaskan detail siapa ayah dari dua anak yatim itu. Apa pekerjaannya? Seberapa saleh ia? Amalan apa yang ia lakukan hingga kebaikannya menjadi dinding penyelamat bagi anak-anaknya? Allah tidak memberi kita detailnya. Mungkin karena Allah ingin kita memahami bahwa detail itu tidak penting. Yang penting adalah kesalehan seseorang bisa menjadi tabungan lintas generasi.
Dan Cing Wati adalah buktinya.
Keistiqamahan yang Berbuah Cinta
Kita tidak tahu persis amalan apa yang paling Allah cintai dari dirinya. Apakah sapunya di masjid? Atau doanya di sepertiga malam? Apakah sabarnya melayani suami dan delapan anaknya? Apakah air matanya ketika mengadukan rindu pada Allah? Kita tidak tahu. Tapi Allah tahu. Dan Allah menjaganya. Allah memelihara buah dari kebaikan itu, lalu menyerahkannya kepada anak-anak Cing Wati tepat pada waktu yang paling mereka butuhkan.
Menurut cing Basir, ada beberapa hal yang selalu ia ingat dari istrinya. Ia tidak pernah mau membicarakan keburukan orang lain. Ia tidak suka menyakiti hati siapa pun. Bahkan ketika ada orang yang membencinya, ia tetap sabar.
Dan satu hal lagi yang paling ia ingat, istrinya selalu berusaha taat kepada suami, tanpa pernah mengukur apakah suaminya sudah cukup baik atau belum.
Dan ketika Cing Basir menyebutkan itu, aku merasa seolah-olah pintu kecil dalam hatiku terbuka, membiarkan cahaya masuk ke sudut-sudut yang selama ini gelap.
“Ia tidak pernah mau membicarakan keburukan orang lain.”
Kalimat itu sederhana. Tapi di dalamnya tersimpan samudra kesabaran yang tak terukur. Di zaman ketika ghibah telah menjadi bumbu percakapan sehari-hari, ketika membicarakan aib orang lain terasa ringan di lidah, Cing Wati memilih jalan yang berbeda. Ia memelihara lisannya seperti ia memelihara masjid—dengan kesungguhan, dengan keikhlasan, dengan kesadaran bahwa setiap kata adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Aku membayangkan Cing Wati di tengah kerumunan tetangga yang asyik membicarakan ini dan itu. Mungkin ia hanya diam, tersenyum. Mungkin ia mengalihkan pembicaraan. Atau mungkin—dan ini yang paling mungkin—ia tidak ada di kerumunan itu, karena ia sedang sibuk menyapu masjid, atau mengurus anak-anaknya, atau melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat daripada menghabiskan waktu untuk perkataan yang tak berguna.
“Ia tidak suka menyakiti hati siapa pun. Bahkan ketika ada orang yang membencinya, ia tetap sabar.”
Ini lebih dalam lagi. Bukan hanya menjaga lisan dari ghibah, tapi juga menjaga hati dari dendam. Cing Wati sepertinya memahami sesuatu yang sering kita lupakan, bahwa menyakiti orang lain tidak hanya dengan perbuatan, tapi juga dengan perasaan. Bahwa diam-diam kita bisa menyimpan racun dalam hati, lalu menyebutnya “kewajaran” karena kita yang lebih dulu disakiti.
Tapi Cing Wati tidak seperti itu.
Cing Wati membiarkan orang lain membencinya, sementara ia sendiri tidak membalas dengan kebencian. Ia membiarkan orang lain menutup pintu di hadapannya, sementara ia sendiri tetap membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Ia membiarkan orang lain memilih untuk tidak menyukainya, sementara ia sendiri memilih untuk tetap berbuat baik.
Ini bukan kelemahan. Ini kekuatan yang luar biasa.
Karena menyimpan dendam itu berat. Membalas keburukan dengan keburukan itu mudah, karena kita hanya mengikuti arus. Tapi tetap berbuat baik kepada orang yang membenci kita—itulah puncak akhlak. Itulah yang diajarkan Rasulullah Saw. Itulah yang dijalani Cing Wati tanpa pernah ia ceramahkan.
“Dan satu hal lagi yang paling ia ingat, istrinya selalu berusaha taat kepada suaminya, tanpa pernah mengukur apakah suaminya sudah cukup baik atau belum.”
Kalimat ini… kalimat ini menusukku paling dalam.
Karena di sini, di kalimat ini, aku melihat cermin untuk diriku sendiri. Betapa sering kita—aku, mungkin juga banyak orang—mengukur ketaatan kita pada orang lain berdasarkan seberapa baik mereka memperlakukan kita. Kita patuh jika mereka layak dipatuhi. Kita berbakti jika mereka cukup baik kepada kita. Pun hanya memberi jika mereka sudah memberi lebih dulu.
Tapi Cing Wati tidak seperti itu.
Ia taat bukan karena suaminya sempurna. Ia berbakti bukan karena suaminya selalu benar. Ia melayani bukan karena suaminya pantas dilayani. Ia melakukan semua itu karena ia sedang beribadah kepada Allah melalui suaminya. Ketaatannya tidak bergantung pada kualitas suaminya, tapi pada kualitas imannya sendiri.
Cing Basir mungkin bukan suami yang sempurna. Ia sendiri mungkin akan mengakuinya. Tapi Cing Wati tidak pernah menjadikan ketidaksempurnaan suaminya sebagai alasan untuk mengurangi baktinya. Ia tahu bahwa antara ia dan Allah ada urusan yang tak bisa diintervensi oleh siapa pun—termasuk oleh perilaku suaminya.
Subhanallah.
Bahkan di ambang ajalnya, akhlak mulia itu berpuncak indah. Sehari sebelum meninggal, Cing Wati meminta maaf kepada semua saudaranya, dan kepada suaminya. Ia membersihkan segala urusan dunia, bersiap menghadap Sang Khaliq dengan hati yang seputih-putihnya.
Dan keesokan harinya, ia pergi untuk selama-lamanya.
“Meninggalnya kayak orang tidur aja, Ril. Cing Basir aja enggak sadar. Padahal Cing Basir di sampingnya.”
Kepergian yang tak disadari, selembut hembusan napas, seindah mimpi yang menjadi nyata. Pertanda akhir yang indah bagi seorang yang hidupnya juga indah.
Malam semakin larut. Lampu-lampu ICU masih menyala temaram. Dari balik pintu kaca, sesekali perawat keluar masuk dengan langkah hati-hati. Namun hatiku, yang tadi gundah, kini terasa begitu hangat dan lapang. Di tengah penantian yang mencemaskan ini, Allah justru menghadirkanku pada sebuah kesaksian: bahwa kebaikan sejati tak pernah mati. Ia mungkin bersemayam dalam rahim tanah, namun akarnya menjulur jauh, menopang generasi, dan buahnya akan terus dipetik oleh anak-cucu, sebagai bukti cinta Allah pada hamba-Nya yang salehah.
Aku memandang Encang Mat Basir yang kini tengah memejamkan mata, mungkin berdoa atau sekadar melepas lelah. Delapan tahun telah berlalu, namun cintanya pada Cing Wati masih terasa begitu hidup.
Mungkin inilah rahasia cinta yang diajarkan oleh agama: bahwa cinta sejati tidak pernah meminta, tidak pernah mengeluh, tidak pernah menjelekkan. Ia hanya memberi, mengabdi, dan ketika tiba waktunya, ia pergi dengan meninggalkan taman-taman yang akan terus berbuah, bahkan setelah yang menanamnya tiada.
Di lorong sunyi ini, aku belajar bahwa kebaikan sekecil apa pun, yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah, tidak akan pernah sia-sia. Ia mungkin tersembunyi dari mata manusia, tetapi ia tercatat di Lauh Mahfuz, dan suatu hari, dalam bentuk yang paling indah, ia akan kembali kepada kita atau kepada orang-orang yang kita cintai.
